Sejarah Masa Pra Kenabian Nabi Muhammad SAW (Bagian 1)

masa pra kenabian

Pecihitam.org – Beberapa riwayat yang menyebutkan sejarah masa pra kenabian. Dalam Mustadrak-nya, Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits yang mengisahkan Rasul pernah dipanggil dengan “Ibnu Adz-Dzabihaini” oleh sahabat Ibnu ‘Arabi. Beliau hanya tersenyum tanpa sedikitpun menyangkalnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sahabat lain pun bertanya: “Siapa Dzabihaini itu ya Rasulullah?” “Mereka berdua Ismail dan Abdullah”, Jawab Rasul.

Maka sejarah masa pra kenabian bergulir dari sini. Diawali oleh datangnya petunjuk yang diberikan Allah kepada Abdul Mutholib (kakek Nabi Muhammad) melalui mimpi. Ia pun bergegas bangun, dan berjalan menuju pintu Ka’bah sembari melihat bintang-bintang yang memancarkan cahayanya.

Suasana yang hening dan bentangan gurun yang sunyi kala malam itu, Abdul Mutholib pun kembali dalam rumahnya untuk melanjutkan tidurnya, ia pun kembali bermimpi, namun kali ini begitu amat jelas.

Abdul Mutholib ditemui sesuatu yang besar sembari berkata galilah zam-zam! Apa itu zam-zam? tanya Abdul Mutholib. Hingga ia melihat sesuatu yang memerintahkannya, sontak Abdul Mutholib berdiri dari tidurnya dan jantungnya pun berdebar tidak karuan.

Ia pun keluar sembari merenung dan berfikir tentang mimpinya dalam sebuah gurun yang luas. Pertanyaan-pertanyaan ia ajukan pada diri sendiri, untuk apa ia harus menggali sumur, bukankah disana sudah banyak sumur.

Dalam sepertiga malamnya ini ia melihati bintang-bintang sembari mengingat cerita-cerita masa lalu tentang adanya sumur yang dibuat oleh Nabi Isma’il dengan cara memukulkan kakinya sehinggal munculah air, namun kini sumur tersebut telah binasa termakan usia.

Hingga ahirnya matahari pun mulai menampakan dirinya, Abdul mutholib pun segera menemui orang-orang Quraisy dan menceritakan kepada mereka bahwa ia akan menggali sebuah sumur di tempat tertentu sesuai dengan perintah dalam mimpinya.

Namun i’tikadnya harus tertunda karena orang-orang Quraisy menentangnya, sebab tempat yang ia akan gali berada diantara berhala yang menjadi sesembahan masyarakat disana yaitu berhala yang bernama Ashaf dan Nallah.

Iapun kembali dengan perasaan yang sedih akhirnya ia bermunajat dan bernadzar kepada Allah, jika ia dikarunia sepuluh anak laki-laki yang mampu melindunginya untuk menggali sumur tatkala mereka dewasa kelak ia akan menyembelih salah satu dari mereka.

Baca Juga:  Belajar Dialog Antar Umat Beragama dari Piagam Madinah

Hingga ahirnya Allah mengabulkan doanya, ia dikaruniai sepuluh anak laki-laki, dan berhasil melakukan apa yang diperintahkan dalam mimpinya. Kini waktunya ia menepati nadzarnya untuk menyembelih salah satu dari kesepuluh anaknya. Nama anaknya pun diundi dan terpilih salah satu yang bernama Abdullah bin Abdul Mutholib anak terakhirnya.

Abdullah adalah seorang yang memiliki jiwa ruhaniyah yang amat mengagumkan, ia sopan dan memiliki senyuman yang menawan, bahkan ia tidak pernah meninggikan suaranya kepada siapapun, ia terkenal sebagai seorang yang bersih nan mulia.

Banyak orang yang akhirnya ingin menggagalkan nadzar dari Abdul Mutholib, bahkan para pembesar Quraisy kala itu berkata “Lebih baik kami menyembelih anak-anak kami dari pada engkau menyembelih Abdullah” banyak seruan agar ia mempertimbangkan lagi.

Abdul Mutholib pun mempertimbangkan lagi sementara itu mereka menemui seorang pembesar Quraisy. Sang pembesar Quraisy berkata: “Berapa taruhan yang kalian miliki?” merekapun menjawab: “sepuluh unta”.

Si pembesar Quraisy pun berkata: “Datangkanlah sepuluh unta, dan undi dengan nama Abdullah, jika namanya keluar, maka tambahkanlah sepuluh lagi, sampai namanya tidak keluar.

Ahirnya mulailah pengundian, sepuluh unta diundi dengan nama Abdullah, namun nama Abdullah yang keluar, begitu seterusnya hingga sampai dengan seratus unta, nama Abdullah tidak lagi keluar.

Suasana saat itu sangat mengharukan dan sangat menggembirakan, akhirnya seratus unta disembelih disisi ka’bah, tidak ada seorangpun yang menyentuhnya dan tidak ada hewan buas yang mendekatinya.

Abdul Mutholib merasakan kegembiraan yang luar biasa waktu itu hingga ia memutuskan untuk menikahkan Abdullah dengan perempuan terbaik di Jazirah Arab. Ia pun pergi kerumah Wahab, untuk meminang anaknya yaitu Aminah binti Wahab untuk dijadikan istri Abdullah. Acara pernikahanpun ahirnya dilaksanakan dengan sangat meriah.

Gunung-gunung di nyalakan api agar orang-orang tau tempat dilangsungkannya pernikahan Abdullah dengan Aminah. Hewan korbanpun disembelih, para tamu, orang-orang fakir bahkan hewan-hewan makan darinya.

Baca Juga:  Inilah Kontribusi NU dalam Menguatkan Hubungan Agama dengan Nasionalisme

Wafatnya Ayahanda Rasulullah SAW

Rancangan jahat orang Yahudi membunuh Rasulullah SAW telah direncanakan sejak sebelum Rasulullah lahir. Usaha itu dilakukan bahkan ketika beliau masih berada dalam sulbi ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib dan saat berada dalam perut ibunya, Aminah. Setelah beliau lahir, usaha membunuh Beliau semakin menjadi-jadi.

Para dukun dan Rabi Yahudi berusaha keras membunuh Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Nabi Muhammad SAW. Salah satu tokoh mereka mengatakan:

“Siapkan makanan yang telah diberi racun yang sangat mematikan dan kemudian makanan itu berikan kepada Abdul Muthalib.”

Orang-orang Yahudi melakukan hal itu lewat para perempuan yang menutup wajahnya dengan kain. Setelah makanan tersebut selesai dibuat, mereka membawanya kepada Abdul Muthalib. Ketika sampai di rumah Abdul Muthalib, isterinya keluar dan menyambut mereka. Mereka berkata:

“Kami masih keturunan Abdi Manaf dan itu berarti masih famili jauh kalian.”

Mereka lantas memberikan makanan tersebut sebagai hadiah. Setelah mereka pergi, Abdul Muthalib berkata kepada keluarganya:

“Kemarilah keluargaku, kita menyantap bersama apa yang dibawakan oleh famili jauh kita.”

Namun, saat mereka hendak memakan hidangan yang dibawa itu, terdengar suara dari makanan tersebut:

“Kalian jangan memakan aku, karena aku telah diracuni oleh mereka.”

Keluarga Abdul Muthalib tidak jadi makan dan kemudian berusaha mencari tahu siapa para perempuan yang menghadiahi mereka hidangan itu. Namun selidik punya selidik mereka tidak berhasil mengetahui identitas mereka. Ini adalah salah satu tanda-tanda kenabian pada masa pra kelahiran Rasulullah SAW.

Tidak berhasil, kembali sekelompok Rahib Yahudi dengan memakai pakaian pedagang Syam memasuki kota Mekkah. Mereka sengaja datang ke sana untuk membunuh Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Rasulullah SAW. Sejak awal mereka telah mempersiapkan pedang yang telah diolesi racun. Mereka dengan sabar menanti kesempatan untuk melaksanakan rencana yang telah dibuat jauh-jauh hari.

Suatu hari, Abdullah bin Abdul Muthalib keluar dari kota Mekkah untuk berburu. Orang-orang Yahudi melihat ini sebagai sebuah kesempatan bagus untuk membunuh Abdullah. Di suatu tempat mereka mengepung dan hendak membunuhnya.

Baca Juga:  Ini Perbedaan Konsepsi Politik yang Terdapat Dalam Sejarah Syiah Dan Sunni

Namun lagi-lagi usaha mereka gagal, karena tiba-tiba ada sekelompok Bani Hasyim yang kembali dari perjalanan melalui tempat tersebut. Dan untuk kesekian kalinya Abdullah bin Abdul Muthalib berhasil selamat dari niat busuk orang-orang Yahudi.

Sempat terjadi bentrok antara orang-orang Yahudi dan Bani Hasyim yang berujung pada sejumlah pendeta Yahudi tewas dan sebagian lainnya ditawan dan dibawa kembali ke Madinah.

Pada usia pernikahan Abdullah dan Aminah menginjak dua bulan, Abdullah mendengar bahwa kafilah-kafilah akan berangkat ke Syam. Ia pun berangkat berdangang bersama kafilah perdagangan Quraisy. Aminah tidak menyadari bahwa itu adalah waktu-waktu terakhir bersama Abdullah.

Abdullah pun pergi meninggalkan Aminah, bukan hanya pergi untuk berdagang namun juga pergi menghadap Allah SWT. Sebelum meninggalnya, Abdullah sempat mengunjungi paman-pamannya dari Bani Najar di Madinah, hingga akhirnya ia dimakamkan disana.

Berita menginggalnya menyebar luas hingga sampailah kepada istrinya, Aminah merasakan kesedihan luar biasa kala itu, dapat kita bayangkan kala usia pernikahan dua bulan masih harum-harumnya dengan cinta namun kini harus berpisah untuk selamanya.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya Aminah sadari bahwa ia sedang mengandung anak dari Abdullah. Kesedihannya bertambah, pertama ia memikirkan dirinya yang ditinggal suami, yang kedua ia memikirkan anaknya yang masih dalam kandung telah menjadi anak yatim.

Janin dalam kandungannya mulai bergerak, namun semakin lama ia merasakan hal yang berbeda, ia merasakan bahwa kandungannya amat ringan dan membahagiakan, ia belum menyadari bahwa yang ia kandung adalah manusia yang kelak sangat mulia yaitu Rasulullah SAW

Bersambung, sejarah masa pra kenabian bagian 2 …

Lukman Hakim Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published.