Sejarah Lahirnya GP Ansor (Gerakan Pemuda Ansor)

gerakan pemuda ansor

Pecihitam.org – Dalam masa perkembangan, NU mulai bersungguh-sungguh memperhatikan masalah kepemudaan. Berbagai organisasi pemuda yang pada dasarnya satu aspirasi dengan NU dikumpulkan dalam satu wadah sebagai benteng pertahanan. Sehingga dalam muktamar kesembilan ini lahirlah sebuah keputusan: “Membentuk wadah pemuda yang diberi nama Anshor Nadhlatoel Oelama (ANO).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pada prinsipnya, perkembangan NU ada pada visi dan cita-cita mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin yang berupaya selalu memoderasi Islam dengan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Di titik ini NU, tidak hanya menyikapi perkembangan dunia global, tetapi juga terus berupaya mempertahankan tradisi dan budaya baik yang ditancapkan oleh para ulama terdahulu dan para pendiri bangsa.

Nahdlatul Ulama (NU) lahir setidaknya mempunyai tiga motivasi. Pertama, menegakkan nilai-nilai agama dalam setiap lini kehidupan. Kedua, membangun nasionalisme. KH Hasyim Asy’ari mengatakan, agama dan nasionalisme tidaklah bertentangan, bahkan saling memperkuat untuk mewujudkan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin. Motif ketiga, mempertahankan paham Ahlussunnah wal Jamaah. (Lihat Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Dalam perkembangannya, NU tidak sedikit menghadapi resistensi yang tinggi terutama dari kelompok penjajah dan kelompok yang mengatasnamakan permurnian akidah (puritan), namun berupaya memberangus tradisi dan budaya Nusantara yang merupakan identitas kebangsaan. Sampai masa orde baru pun, NU masih di diskriminasi oleh rezim waktu itu. Walau demikian, NU justru makin besar, berkembang, dan mempunyai pengaruh luas di tengah masyarakat.

Tugas yang diemban NU dari masa ke masa akan terus mengalami tantangan yang tidak mudah. Akan tetapi, melihat pada dinamika internal organisasi, alangkah baiknya setiap warga NU memahami dan mengetahui titik awal sejarah perkembangan NU. Titik awal sejarah perkembangan NU terjadi ketika perhelatan Muktamar ke-9 NU di Banyuwangi, Jawa Timur pada 1934.

Baca Juga:  Kisah Rasulullah dan Kaum Muslimin Hijrah ke Negeri Habasyah (Ethiopia)

Setidaknya ada sejumlah alasan kenapa Muktamar di Banyuwangi tersebut dijadikan titik awal perkembangan sejarah NU di Banyuwangi menurut catatan Choirul Anam (2010).

Pertama, karena di Muktamar Banyuwangi inilah mulai diberlakukan mekanisme kerja baru, yakni pemisahan sidang antara Syuriyah dan Tanfidziyah di dalam muktamar. Sejak itu Tanfidziyah mengadakan sidang sendiri dengan materi permasalahan sendiri. Juga Syuriyah yang mengurus majelisnya sendiri dengan permasalahan yang tentunya terkait dengan persoalan agama. Namun, keputusan yang didapat tetap menjadi kesepkatan organisasi NU secara umum.

Sebelum itu, sidang-sidang di dalam muktamar dipimpin langsung oleh Syuriyah. Pengurus Tanfidziyah boleh ikut dalam sidang yang biasanya dibagi dalam tujuh majelis tetapi tidak berhak bersuara (ikut memutuskan) suatu persoalan, terutama yang berhubungan dengan hukum agama.

Pengurus Tanfidziyah ‘boleh ikut’ memutuskan hanya pada perkara yang tidak memerlukan keterangan hukum agama. Hak dan kekuasaan itu memang sudah diatur dalam Statuen NU 1926 sebagai berikut:

“Kekoesaan jang tertinggi dari perkoempoelan ini jaitoe oleh kongres dan oetoesan-oetoesan. Sekalian poetoesan di dalam kongres-kongres jang perloe dengan keterangan hoekoem agama hanja boleh dipoetoes oleh oetoesan-oetoesan dari golongan goeroe agama (oelama). Lain-lain oeroesan jang tiada begitoe perloe dengan keterangan hoekoem agama, oetoesan jang boekan goeroe agama (oelama) boleh turut memoetoesnja.”

Kedua, sejak Muktamar Banyuwangi tatacara persidangan mulai diperbarui. Apabila pada beberapa kali muktamar sebelumnya, sidang-sidang majelis cukup dilakukan dengan duduk melantai di atas tikar atau permadani sambil membawa tumpukan kitab-kitab madzhab, kebiasaan itu tidak lagi dijumpai di Muktamar Banyuwangi. Bentuk persidangan sudah diatur rapi dan agak formal. Peserta sidang dipersilakan duduk di kursi menghadap pemimpin sidang.

Ketiga, dalam muktamar kesembilan ini mulai tampak peran tokoh-tokoh muda NU berpandangan luas seperti Mahfudz Siddiq, Wahid Hasyim, Thohir Bakri, Abdullah Ubaid, dan anak-anak muda lainnya. Mereka ikut menyampaikan pandangannya mengenai berbagai masalah kemasyarakatan dan kebangsaan.

Baca Juga:  Sunan Muria, Wali yang Rela Naik Turun Gunung Demi Berdakwah pada Rakyat Jelata

Ansor lahir dari rahim Nahdlatul Ulama sebab situasi konflik internal dan tuntutan kebutuhan alamiah. Yaitu karena perbedaan antara tokoh tradisionalis dan tokoh modernis yang bertemu di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak pada bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, serta pembinaan kader kala itu.

KH Wahab Chasbullah, tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur sebagai tokoh modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda ditengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam.

Choirul Anam (2010) mencatat, dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab Chasbullah (yang kemudian menjadi pendiri NU) membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Wadah inilah yang menjadi embrio lahinya Gerakan Pemuda Ansor ,setelah sebelumnya mengalami beberapa kali perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).

Nama Ansor ini merupakan saran KH. Wahab Chasbullah, seorang ulama besar yang menjadi guru besar kaum pemuda kala itu. Nama Ansor diambil dari nama kehormatan penduduk Madinah yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada mereka yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut.

Gerakan Anshoru Nahdlatul Oelama, yang kelak disebut Gerakan Pemuda Ansor (GP ansor) harus selalu mengacu pada nilai-nilai dasar sahabat Ansor. Yakni sebagi pejuang, penolong, dan juga pelopor dalam menyiarkan, menegakkan serta membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen yang sejak awal harus dipegang teguh setiap anggota ANO (Gerakan Pemuda Ansor).

Baca Juga:  Nasab Sunan Gunung Jati, Betulkah Keturunan Rasulullah Saw?

Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, namun secara formal saat itu belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Saat itu hubungannya masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh. Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai departemen pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam.

Secara diam-diam dalam perkembangannya, khususnya ANO Cabang Malang, mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang di beri nama Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak menjadi cikal bakal Banser (Barisan Serbaguna) dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937. Di kongres ini, Banoe unjuk gigi pertamakalinya dalam baris berbaris serta mengenakan seragam, dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang saat itu. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang saat itu ialah Mayor TNI Hamid Rusydi, tokoh yang hingga sekarang namanya tetap dikenang, bahkan namanya diabadikan sebagai nama salah satu jalan di kota Malang.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.