Sering Kita Dengar, Ternyata Begini Sejarah Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamitthariq

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamitthariq

Pecihitam.org – Kalimat Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamitthariq adalah tutur penutup khas NU baik ketika berkomnikasi secara lisan di atas mimbar atau dalam korespondensi resmi NU dan banom-banomnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Maka dalam setiap kesempatan, saat menyampaikan ceramah atau memberikan sambutan suatu acara, hampir dipastikan setiap kader Nahdlatul Ulama akan menutup pembicaraannya dengan ucapan Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamitthariq sebelum mengucapkan salam.

Atau, jika ada orang yang menutup pembicaraannya dengan kalimat tersebut, maka dipastikan ia adalah kader atau tokoh Nahdlatul Ulama.

Namun ada sejarah di balik munculnya kalimat penutup khas NU tersebut, sebagaimana diceritakan KH. Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gusdur. Menutut Ketua PBNU dari kurun waktu 1984 – 1999 ini, dulunya ulama NU menggunakan kalimat penutup wa billahit taufiq wal hidayah.

Tapi karena kalimat itu relatif mudah diucapkan sekali pun bukan oleh kalangan santri, maka banyak orang di luar NU menggunakan kalimat penutup tersebut, bahkan tak jarang digunakan oleh para politisi dalam berkampanye dengan tujuan mendapatkan anggapan dari kalangan awam sebagai bagian dari NU juga.

Baca Juga:  Bersama PBNU, Arab Saudi Akan Menuju Islam Moderat

Cerita ini diungakap saat acara Peringatan Hari Lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke-46 pada tahun 2006. Gusdur yang saat itu menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro PKB didaulat untuk memberikan sambutan.

Dalam sambutannya, Presiden Indonesia keempat tersebut menegaskan tentang komitmennya yang ke mana-mana selalu ia ‘kampanyekan’, yakni tentang Kebangsaan, ke-Indonesiaan, Ke-Islaman dan Kemanusiaan.

Setelah berbicara panjang lebar, Gusdur bermaksud menutup pidato dengan ucapan ‘wa billahi taufiq wal hidayah’, tapi tiba-tiba dia diam sejenak. “Saya kok mau salah menyampaikan salam penutup, harusnya kan yang khas NU” jelas cucu pendiri NU ini.

“Dulu ulama-ulama NU, sepakat menggunakan wa billahi taufiq wal hidayah untuk ucapan penutup dan Nahdliyiin  wajib mengikuti. Tapi setelah musim kampanye Pemilu tahun 70-an, Golkar memakai ucapan itu untuk menutup setiap pidato kampanyenya.”

Baca Juga:  Lailatul Ijtima’, Amalan Nahdliyin Dari Dulu Hingga Kini

Nah setelah itu, lanjut Gus Dur, para ulama NU sepakat menggantinya dengan yang lain. Muncullah ide agar diganti dengan “Wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq”  dari seorang kiai kharismatik asal Magelang.

Semenjak saat itulah, dipakai Wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq hingga kini. “Jadi Golkar minjem “wabillahi taufiq wal hidayah” dari NU dan belum dikembalikan hingga saat ini,” kata Gus Dur yang diiringi gelak tawa hadirin,

“Untuk itu saya akhiri dengan wallahul muwafiq ila aqwamith thariq,” ungkap Gus Dur menyudahi.

Begitulah sejarah atau asal muasal kalimat penutup khas NU ini. Selain secara historis, ternyata ada landasan filosofinya, yakni kalimat Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamitthariq relatif lebih susah untuk ditiru.

Baca Juga:  Perbedaan Wacana Sufisme di Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah

Berbeda dengan wabillahi taufiq walhidayah. Tapi bagi lidah orang NU tulen yang pernah nyantri, tidaklah susah untuk melafadzkan Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamitthariq yang mempunyai arti “Allah-lah Dzat Yang akan memberikan taufiq menuju jalan yang paling lurus

Faisol Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published.