Surah Al-Hajj Ayat 77-78; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hajj Ayat 77-78

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hajj Ayat 77-78 ini, disebutkan bahwa Rasulullah saw menjadi saksi di hari Kiamat atas umatnya. Maksudnya ialah dia bersaksi bahwa ia telah menyampaikan risalah Allah kepada mereka, menyeru mereka agar beriman kepada Allah dan agar mereka tetap berpegang teguh kepada agama Allah, serta beribadah kepada Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan larangan-larangan-Nya.

Sedangkan kaum Muslimin menjadi saksi atas manusia di hari Kiamat kelak, maksudnya ialah mereka telah melakukan seperti yang telah dilakukan Rasul atas mereka, yaitu mereka telah menyeru manusia agar beriman, menyampaikan agama Allah, melakukan tugas yang dibebankan Allah dan Rasul kepada mereka dengan sebaik-baiknya. Setelah itu mereka menyerahkan urusan mereka kepada Allah, apakah ajakan mereka diterima atau ditolak.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj Ayat 77-78

Surah Al-Hajj Ayat 77
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Terjemahan: Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

Tafsir Jalalain: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا (Hai orang-orang yang beriman! Rukuk dan sujudlah kalian) salatlah kalian وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ (dan sembahlah Rabb kalian) tauhidkanlah Dia وَافْعَلُوا الْخَيْرَ (dan perbuatlah kebaikan) seperti menghubungkan silaturahim dan melakukan akhlak-akhlak yang mulia لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (supaya kalian mendapat keberuntungan) kalian beruntung karena dapat hidup abadi di surga.

Tafsir Ibnu Katsir: Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kalian, sujudlah kalian, sembahlah Tuhan kalian dan perbuatlah kebajikan, supaya kalian mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kalian pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.

Dia telah memilih kalian dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tua kalian Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas diri kalian dan supaya kalian semua menjadi saksi atas segenap manusia; maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kalian pada tali Allah.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar:

  1. Mengerjakan salat pada waktu-waktu yang telah ditentukan, lengkap dengan syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Pada Ayat ini salat disebut dengan “ruku" dan "sujud", karena ruku dan sujud itu merupakan ciri khas dari salat dan termasuk dalam rukun-rukunnya.
  2. Menghambakan diri, bertobat kepada Allah, dan beribadah kepada-Nya merupakan perwujudan dari keimanan di hati sanubari yang telah merasakan kebesaran, kekuasaan dan keagungan Allah, karena diri manusia sangat tergantung kepada-Nya. Hanya Dialah yang menciptakan, memelihara kelangsungan hidup dan mengatur seluruh makhluk-Nya. Beribadah kepada Tuhan ada yang dilakukan secara langsung, seperti salat, puasa bulan Ramadan, menunaikan zakat dan menunaikan ibadah haji. Ada pula ibadah yang dilakukan tidak secara langsung, seperti berbuat baik kepada sesama manusia, tolong menolong, mengolah alam yang diciptakan Allah untuk kepentingan manusia.
  3. Mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik, seperti memperkuat hubungan silaturrahmi, berbudi pekerti yang baik, hormat menghormati, kasih-mengasihi sesama manusia. Termasuk melaksanakan perintah Allah.

Jika manusia mengerjakan tiga macam perintah di atas, maka mereka akan berhasil dalam kehidupan memperoleh kebahagiaan ketentraman hidup, dan di akhirat mereka akan memperoleh surga yang penuh kenikmatan.

Tafsir Quraish Shihab: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mempedulikan ajakan sesat orang-orang kafir itu! Teruslah mengerjakan salat dengan sempurna dan benarl, dengan melakukan rukuk dan sujud! Lalu sembahlah Tuhan yang menciptakan dan memberi kalian rezeki! Janganlah kalian mempersekutukan-Nya! Sebaliknya, lakukanlah segala sesuatu yang bisa membawa kebaikan dan manfaat, agar kalian termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang selalu melakukan perbaikan!

Surah Al-Hajj Ayat 78
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Terjemahan: Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu,

dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Tafsir Jalalain: وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ (Dan berjihadlah kalian pada jalan Allah) demi menegakkan agama-Nya حَقَّ جِهَادِهِ (dengan jihad yang sebenar-benarnya) dengan mengerahkan segala kemampuan kalian di dalamnya. Lafal Haqqa dinashabkan disebabkan menjadi Mashdar.

هُوَ اجْتَبَاكُمْ (Dia telah memilih kalian) untuk membela agama-Nya وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ (dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan) artinya hal-hal yang membuat kalian sulit untuk melakukannya, untuk itu Dia memberikan kemudahan kepada kalian dalam keadaan darurat, antara lain boleh mengkasar salat, bertayamum, memakan bangkai, dan berbuka puasa bagi orang yang sedang sakit dan bagi yang sedang melakukan perjalanan مِّلَّةَ أَبِيكُمْ (sebagaimana agama orang tua kalian) kedudukan lafal Millata dinashabkan dengan cara mencabut huruf Jarrnya, yaitu huruf Kaf إِبْرَاهِيمَ (Ibrahim) lafal ini menjadi athaf Bayan.

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 67-69; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

هُوَ (Dia) yakni Allah سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ (telah menamai kalian orang-orang Muslim dari dahulu) sebelum diturunkannya Alquran وَفِي هَذَا (dan begitu pula dalam Kitab ini) yakni Alquran لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ (supaya Rasul itu menjadi saksi atas diri kalian) kelak di hari kiamat, bahwasanya dia telah menyampaikan kepada kalian وَتَكُونُو (dan kalian) semuanya شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ (menjadi saksi atas segenap manusia) bahwasanya Rasul-rasul mereka telah menyampaikan risalah-Nya kepada mereka,

فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ (maka dirikanlah salat) maksudnya laksanakanlah salat secara terus-menerus وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّ (tunaikanlah zakat dan berpeganglah kalian kepada Allah) percayalah kalian kepada-Nya هُوَ مَوْلَاكُمْ (Dia adalah pelindung kalian) yang menolong kalian dan yang mengurus perkara-perkara kalian فَنِعْمَ الْمَوْلَ (maka sebaik-baik pelindung) adalah Dia وَنِعْمَ النَّصِيرُ (dan sebaik-baik penolong) kalian adalah Dia.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ (“Dan beijihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya,”) yaitu dengan harta, lisan dan jiwa-jiwa kalian, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Firman-Nya: هُوَ اجْتَبَاكُمْ (“Dia telah memilihmu,”) yaitu, wahai umat ini! Allah telah memisahkan dan memilih kalian atas seluruh umat serta mengutamakan, memuliakan dan mengistimewakan kalian dengan Rasul-Nya yang termulia dan syari’at-Nya yang amat sempurna.

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ (“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan,”) yaitu, Dia tidak membebani kalian dengan sesuatu yang kalian tidak mampu, serta tidak mengharuskan kalian dengan sesuatu yang memberatkan kalian, kecuali Dia menjadikan untuk kalian kelapangan dan jalan keluar.

Shalat yangmerupakan rukun Islam yang paling besar setelah dua kalimat syahadat, diwajibkan dalam keadaan hadir empat raka’at dan di dalam keadaan safar dengan diqashar menjadi dua raka’at. Di waktu rasa takut (perang), sebagian imam melakukan shalat satu raka’at, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits.

Dia pun dapat shalat dalam (keadaan) berjalan dan berkendaraan (berkuda), menghadap kiblat atau tidak menghadap kiblat. Demikian pula dalam shalatsunnah di waktu safar, dia dapat menghadap kiblat atau tidak menghadapnya.

Berdiri di dalam shalat dapat gugur karena udzur penyakit, di mana orang yang sakit dapat melakukan shalat dalam keadaan duduk, jika tidak mampu dia dapat melakukannya dengan berbaring di atas lambung kanannya serta rukhshah dan keringanan lain dalam seluruh fardhu dan kewajiban. Untuk itu Nabi bersabda: “Aku diutus dengan agama yang hanif dan kasih. Hadits-hadits dalam masalah ini cukup banyak.

Ibnu Abbas berkata tentang firman-Nya: وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ (“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan,”) yaitu suatu kesempitan.” Firman-Nya: مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ (“[Ikutilah] agama orang tuamu, Ibrahim.”) Ibnu Jarir berkata: “Dibaca nashab dengan takdir,” Dan Dia sekali-kali lak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan,” yang berarti kesulitan, bahkan Dia memberikan keluasan bagi kalian seperti agama bapak kalian, Ibrahim as. Ibnu Jarir pun berkata:

“Boleh jadi pula dibaca manshub atas takdir, ikutilah agama bapak kalian, Ibrahim.” (Aku berkata) Makna yang terkandung di dalam Ayat ini seperti firman-Nya: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus.” dan Ayat seterusnya. (QS. Al-An’ aam: 161).

Firman-Nya: هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ (“Dia telah menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu.”) Dalam masalah ini, Imam Abdullah Ibnul Mubarak berkata dari IbnuAbbas tentang firman-Nya ini, yaitu Allah. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, Atha’, adh-Dhahhak, as-Suddi, Muqatil bin Hayyan dan Qatadah. Mujahid berkata: “Allah telah menamai kalian orang-orang muslim dari dahulu dalam kitab-kitab terdahulu dan di dalam adz-Dzikr.”

وَفِي هَذَ (“Dan begitu pula dalam [al-Qur’an] ini,”) yaitu al-Qur’an, demikian yang dikatakan oleh yang lainnya. Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman: لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ (“Agar Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu menjadi saksi atas segenap manusia,”) yaitu Kami menjadikan kalian seperti itu sebagai umat yang wasath (pertengahan), adil, terpilih dan menjadi saksi bagi seluruh umat dengan keadilan kalian agar pada hari Kiamat, kalian menjadi:

شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ (“saksi bagi seluruh manusia”) Karena pada waktu itu, seluruh umat mengakui kepemimpinan dan keutamaan mereka dibandingkan dengan umat yang lain. Untuk itu, persaksian mereka diterima pada hari Kiamat, yaitu tentang kenyataan bahwa para Rasul telah menyampaikan risalah Rabb mereka.

Rasul (Muhammad saw) pun menjadi saksi atas umat ini bahwa dia telah menyampaikannya kepada mereka. Masalah ini telah dibahas terdahulu pada firman-Nya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikanmu umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas diri-mu, ” (QS. Al-Baqarah: 143).

Firman-Nya: فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ (“Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat,”) yaitu terimalah oleh kalian nikmat yang besar ini dengan mensyukurinya secara benar, maka tunaikanlah hak Allah oleh kalian dengan melaksanakan apa saja yang difardhukan, mentaati apa saja yang diwajibkan dan meninggalkan apa saja yang diharamkan.

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 25; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Di antara hal tersebut yang paling penting adalah mendirikan shalat dan menunaikan zakat, yaitu berbuat baik kepada sesama makhluk Allah dengan sesuatu yang diwajibkan kepada orang kaya untuk orang yang fakir dengan mengeluarkan satu bagian hartanya dalam satu tahun untuk orang-orang yang lemah dan orang-orang yang membutuhkan, sebagaimana telah dijelaskan dan dirinci dalam pembahasan yang lalu dalam Ayat zakat di surat at-Taubah.

Dan firman-Nya: وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ (“Dan berpeganglah kamu pada tali Allah,”) yaitu berpegang teguh kepada Allah, minta tolonglah, bertawakkal dan mintalah dukungan kepada-Nya. هُوَ مَوْلَاكُمْ (“Dia adalah pelindungmu,”) yaitu pemelihara, penolong dan pemberi kemenangan bagi kalian dari musuh-musuh kalian. فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ (“Maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong,”) yaitu sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong dari musuh-musuh kalian. Wallahu a’lam.

Tafsir Kemenag: Di samping perintah-perintah di atas, Allah juga memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh, semata-mata dilaksanakan karena Allah dan janganlah kaum Muslimin merasa khawatir dan takut kepada siapa pun dalam berjihad selain kepada Allah.

Ada empat macam jihad di jalan Allah yaitu:

  1. Jihad dalam arti mempertahankan diri dari serangan musuh, sebagaimana firman Allah:

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. (al-Baqarah/2: 190)

  1. Jihad dalam arti menegakkan agama Allah dan untuk meninggikannya, sebagaimana firman Allah:

Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (al- Anfal/8: 39)

  1. Jihad dengan arti berusaha melepaskan diri dari godaan setan, yang mengarah kepada masalah kemanusiaan seperti menolong orang, bertugas untuk kebaikan dan lain sebagainya, sebagaimana firman Allah:

Orang-orang yang beriman, mereka berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan Tagut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah. (an-Nisa`/4:76)

  1. Jihad dengan arti memerangi hawa nafsu, sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi: Dari Jabir ia berkata, “Telah datang kepada Rasulullah saw suatu kaum yang baru dari peperangan. Maka beliau bersabda, “Kamu datang dengan kedatangan yang baik, kamu telah datang dari jihad yang kecil dan akan memasuki jihad yang besar.” Seseorang berkata, “Apakah jihad yang besar itu?” Rasulullah menjawab, “Perjuangan hamba melawan hawa nafsu.” (RiwAyat al-Khatib al-Baghdadi)

Pada mulanya peperangan itu dibenci oleh kaum Muslimin, sebagaimana firman Allah: Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. (al-Baqarah/2: 216)

Sekalipun perang itu dibenci oleh kaum Muslimin, tetapi karena tujuannya untuk mempertahankan diri dan menegakkan agama Allah, maka peperangan itu dibolehkan dan kaum Muslimin harus melakukannya. Dalam pada itu Allah melarang kaum Muslimin melakukan perbuatan-perbuatan yang melampaui batas dalam peperangan.

Dalam Ayat ini diterangkan bahwa Allah telah memilih umat Muhammad untuk melakukan jihad. Perintah itu datang karena agama yang dibawa Muhammad adalah agama yang telah disempurnakan Allah, yang di dalamnya terdapat ketentuan-ketentuan tentang Jihad. Hal ini merupakan pertolongan Allah kepada Nabi Muhammad beserta umatnya.

Allah menerangkan bahwa agama yang telah diturunkan-Nya kepada Muhammad itu bukanlah agama yang sempit dan sulit, tetapi adalah agama yang lapang dan tidak menimbulkan kesulitan kepada hamba yang melakukannya.

Semua perintah dan larangan yang terdapat dalam agama Islam bertujuan untuk melapangkan dan memudahkan hidup manusia, agar mereka hidup berbahagia di dunia dan di akhirat. Hanya saja hawa nafsu manusialah yang mempengaruhi dan menimbulkan dalam pikiran mereka bahwa perintah-perintah dan larangan-larangan Allah itu terasa berat dikerjakan.

Rasulullah saw mengatakan bahwa agama Islam itu mudah, orang-orang yang memberat-beratkan beban dalam agama akan dikalahkan oleh agama sendiri, sebagaimana tersebut dalam hadis:

Dari Abi Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah dan sekali-kali tidak akan ada seorang pun yang memberatkan agama, kecuali agama itu akan mengalahkannya. Karena itu kerjakanlah dengan benar, dekatkanlah dirimu, gembiralah, dan mohonlah pertolongan di pagi dan petang hari serta waktu berpergian awal malam.” (RiwAyat al-Bukhari)

Rasulullah saw pernah memberikan suatu peringatan yang keras kepada suatu golongan yang memberatkan beban dalam agama, sebagaimana tersebut dalam hadis.

Dari Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah saw pernah membuat sesuatu, lalu beliau meringankannya, lalu sampailah hal yang demikian kepada beberapa orang sahabat beliau. Seolah-olah mereka tidak menyukainya dan meninggalkannya.

Maka sampailah persoalan itu pada beliau. Beliau lalu berdiri berpidato dan berkata: Apakah gerangan keadaan orang-orang yang telah sampai kepada mereka tentang sesuatu perbuatan yang aku meringankannya, lalu mereka tidak menyukainya dan meninggalkannya? Demi Allah (kata Rasululah): Sesungguhnya aku adalah orang yang paling tahu di antara mereka tentang Allah dan orang yang paling takut di antara mereka kepada-Nya.” (RiwAyat al-Bukhari dan Muslim)

DiriwAyatkan bahwa beberapa orang sahabat Rasul ingin menandingi beliau, sehingga ada yang berkata, “Aku akan puasa setiap hari.” Yang lain lagi berkata, “Aku tidak akan mengawini perempuan.” Maka sampailah hal itu kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda:

Apakah gerangan keadaan orang yang telah mengharamkan perempuan, makan dan tidur? Ketahuilah, sesungguhnya aku salat dan tidur, berpuasa dan berbuka puasa serta menikahi perempuan-perempuan. Barangsiapa yang benci kepada sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku. (RiwAyat an-Nasa`i)

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 21; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dengan keterangan hadis-hadis di atas nyatalah bahwa agama Islam adalah agama yang lapang, meringankan beban, tidak picik dan tidak mempersulit. Seandainya ada praktek dan amalan agama Islam yang memberatkan, picik dan sempit, maka hal itu bukanlah berasal dari agama Islam, tetapi berasal dari orang yang tidak mengetahui hakikat Islam itu.

Dalam kehidupan sehari-hari terlihat masih banyak kaum Muslimin yang belum memahami dengan baik tujuan Allah menurunkan syariat-Nya kepada Nabi saw. Seperti Allah mensyariatkan salat dengan tujuan agar manusia terhindar dari perbuatan keji dan mungkar, tetapi sebagian kaum Muslimin merasa berat mengerjakan salat yang lima waktu itu, bahkan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa salat itu menganggu waktu berharga bagi mereka. Demikian pula pendapat mereka tentang ibadah-ibadah lainnya.

Kemudian Allah menerangkan bahwa agama yang dibawa Muhammad itu adalah sesuai dengan agam Ibrahim, nenek moyang bangsa Arab dan kedua agama itu sama-sama bersendikan ketauhidan. Seakan-akan Allah memperingatkan kepada bangsa Arab waktu itu, “Hai bangsa Arab, kamu mengaku memeluk agama yang dibawa nenek moyangmu Ibrahim, karena itu ikutilah agama yang dibawa Muhammad, agama yang berazaskan tauhid, tidak ada kesempitan dan kepicikan di dalamnya. Dan Allah menamakan orang-orang yang memeluk agama tauhid dengan “muslim”.”

Dalam Ayat ini disebutkan bahwa Rasulullah saw menjadi saksi di hari Kiamat atas umatnya. Maksudnya ialah dia bersaksi bahwa ia telah menyampaikan risalah Allah kepada mereka, menyeru mereka agar beriman kepada Allah dan agar mereka tetap berpegang teguh kepada agama Allah, serta beribadah kepada Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan larangan-larangan-Nya.

Sedangkan kaum Muslimin menjadi saksi atas manusia di hari Kiamat kelak, maksudnya ialah mereka telah melakukan seperti yang telah dilakukan Rasul atas mereka, yaitu mereka telah menyeru manusia agar beriman, menyampaikan agama Allah, melakukan tugas yang dibebankan Allah dan Rasul kepada mereka dengan sebaik-baiknya. Setelah itu mereka menyerahkan urusan mereka kepada Allah, apakah ajakan mereka diterima atau ditolak.

Sebagian Ahli tafsir dalam menafsirkan Ayat ini menyatakan bahwa kaum Muslimin menjadi saksi atas manusia termasuk di dalam persaksian mereka atas umat-umat terdahulu, yang telah diutus kepada mereka Rasul-rasul. Mereka mengetahui hal itu dari Allah melalui Al-Qur’an yang menerangkan bahwa Rasul dahulu telah menyampaikan agama yang bedasar tauhid kepada mereka.

Semua perintah Allah yang disebutkan itu dapat dilaksanakan dengan baik, agar umat Muhammad yang ditugaskan menjadi saksi terhadap manusia pada hari Kiamat dapat melakukan persaksian itu dengan sebaik-baiknya, maka Allah memerintahkan kepada mereka:

  1. Selalu melaksanakan salat yang lima waktu, karena salat menjauhkan manusia dari perbuatan keji dan mungkar dan merupakan penghubung yang kuat antara Tuhan yang disembah dengan hamba-Nya.
  2. Menunaikan zakat, agar dapat membersihkan jiwa dan harta, agar mempersempit jurang antara si kaya dan si miskin.
  3. Berpegang teguh dengan tali Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan segala larangan-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Berjuanglah dalam rangka menegakkan kalimat Allah dan mengharap keridaan-Nya sampai kalian dapat mengalahkan musuh dan hawa nafsu, sebab Allah memang mendekatkan kalian dengan-Nya dan memilih kalian untuk menjadi pembela agama-Nya serta menjadikan kalian sebagai umat pertengahan.

Dia tidak pernah menentukan ketetapan hukum yang memberatkan kalian hingga tidak mampu kalian laksanakan. Sebaliknya, Dia justru memberikan kemudahan pada beberapa hal yang tampak berat oleh kalian, dengan memberlakukan beberapa keringanan.

Oleh karena itu, pegang teguhlah agama ini, agama yang dasar- dasar dan prinsip-prinsipnya sama dengan agama Ibrahim. Allah menyebut kalian sebagai muslimun (orang-orang yang berserah diri) di dalam kitab-kitab suci sebelumnya dan di dalam Alquran ini agar membuat kalian patuh kepada ketentuan hukum yang ditetapkan-Nya.

Maka dari itu, jadilah orang yang benar-benar berserah diri, seperti sebutan yang telah diberikan Allah, agar kelak Rasulullah ﷺ. bersaksi bahwa ia telah menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada kalian dan kalian pun melaksanakan pesan- pesan itu lalu kalian akan bahagia. Juga, agar kalian menjadi saksi atas umat-umat terdahulu tentang ajaran Alquran bahwa rasul-rasul mereka telah menyampaikan pesan-pesan Allah kepada kalian.

Jika Allah mengistimewakan kalian dengan sikap patuh kepada-Nya, lalu kalian pun melaksanakan salat dengan sebenarnya, maka kalian berkewajiban membalas karunia dengan bersyukur, selalu taat kepada-Nya, mengerjakan salat dengan sebaik-baiknya, memberi zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya, bertawakal hanya kepada-Nya dalam segala persoalan dan selalu meminta pertolongan kepada-Nya. Sebab, Dia adalah Penolong dan Pembela kalian. Sungguh, Allah adalah sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pembela.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hajj Ayat 77-78 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky Syafri
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG