Seperti Penusukan Wiranto, Ini Ciri-ciri Serangan dari Kelompok Radikal ISIS

Ciri-ciri serangan kelompok radikal ISIS

Pecihitam.org – Peristiwa penusukan terhadap Menkopolhukam, Wiranto, pada Kamis, 10 Oktober 2019, di Banten, benar-benar mengagetkan publik. Pelaku penusukan yang disebut Abu Rara telah ditangkap polisi bersama istrinya, berinisial FA. Keduanya diduga terpapar paham radikal.

Pengamat terorisme, Al Chaidar, menanggapi dugaan polisi tentang keterkaitan pelaku penusukan Wiranto dengan kelompok ISIS dan Jamaah Ansharut Daulah atau JAD.

Menurut Al Chaidar, jika dilihat dari pola serangan dan senjata yang digunakan pelaku, ada kemungkinan mereka memang memiliki hubungan dengan jaringan teroris.

Serangan dari kelompok yang berafiliasi dengan ISIS itu memiliki beberapa ciri. Pertama, mereka memanfaatkan senjata tajam atau senjata domestik.

“Kemungkinan memang kelompok JAD, kelompok yang berafiliasi dengan ISIS. Kalau dilihat dari senjatanya pakai pisau, pakai domestic weapon, ciri ISIS. Pakai golok, senjata tajam, pisau dapur. Cara seperti ini sudah diperintahkan mereka 4 tahun lalu,” ujar Chaidar, dikutip dari Kompas.com.

Baca Juga:  25 Anggota ISIS Tewas dalam Serangan Operasi Militer Badan Kontra-Terorisme Irak

Ciri selanjutnya adalah pelaku melakukan serangan bersama keluarga, sehingga biasa disebut terorisme keluarga atau family terrorism. Dalam kasus penusukan Wiranto, Abu Rara melancarkan aksinya bersama istri. “Ciri kedua, suami istri. Kami menyebutnya itu family terrorism,” kata Al Chaidar.

Selain itu, serangan terhadap Wiranto tersebut juga diduga sudah direncanakan sejak satu atau dua bulan lalu.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib, juga memberikan tanggapannya terkait peristiwa ini. Seperti dikutip dari Tribunnews, menurut Ridlwan, pelaku penusukan Wiranto sudah terlatih sebagai anggota kelompok radikal.

Terutama jika dilihat dari cara Abu Rara menusukkan senjata ke bagian perut Wiranto. Disebutkan Ridlwan, teknik yang digunakan Abu Rara adalah teknik reverse grip atau pegangan terbalik. Metode ini menimbulkan daya hunjaman yang lebih kuat ketimbang cara pegang biasa.

Baca Juga:  Gus Miftah: Umat Islam Indonesia Senang Bangun Masjid

“Teroris itu memegang senjatanya dengan teknik reverse grip, atau pegangan terbalik yang mengakibatkan daya hunjaman dua kali lebih kuat dari gaya pegang biasa,” kata Ridlwan yang merupakan alumni S2 Kajian Intelijen Universitas Indonesia, dikutip dari Tribunnews.

Akibat aksi penusukan tersebut, Wiranto mengalami dua luka tusuk di bagian perut sebelah kiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *