Tradisi Ziarah Makam Kyai Raden Santri, Pangeran Singasari

Tradisi Ziarah Makam Kyai Raden Santri, Pangeran Singasari

Pecihitam.org – Pelaksanaan tradisi ziarah makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) dilakukan hampir setiap hari. Hal ini dapat diketahui dengan antusiasnya peziarah berdatangan ke tempat makam tersebut yang berasal dari berbagai penjuru daerah dan jumlahnya kadang hingga mencapai ratusan orang.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam tradisi Ziarah Makam Kyai Raden Santri ini ada beberapa hal yang harus ditaati seperti menghormati arwah yang meninggal dengan melepas alas kaki baik berupa sepatu atau sandal di pintu masuk ruang bangsal, memberi laporan kepada juru kunci sebelum masuk ruangan makam utama, menjaga sopan santun selama berada di makam tersebut misalnya harus laku dhudhuk sebelum masuk pintu ruang utama serta peziarah tidak diperbolehkan memberi uang kepada juru kunci selama berada di ruangan makam, namun jika ingin beramal hendaknya dimasukkan dalam kotak amal yang telah disediakan.

Para peziarah datang ke makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) untuk berziarah sekaligus memohon berkah karena arwah Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) dipercaya mampu mendatangkan berkah bagi kehidupan serta mengabulkan siapa saja yang mau meminta.

Baca Juga:  Analisis Terhadap Kasus Bom di Indonesia : Laskar Jihad Vs Kepolisian Negara

Selain itu juga ada kepercayaan jika berziarah ke makam tersebut maka mendapatkan pahala yang sama dengan berziarah ke Mekah yang merupakan kota suci umat Islam. Oleh sebab itu banyak orang datang ke makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) yang senantiasa dapat melindungi dan membantu dalam menyelesaikan permasalahan hidup.

Masyarakat datang ke makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) sekaligus mempunyai alasan menyadari bahwa manusia ada dalam keterbatasan. Menyadari keterbatasan tersebut manusia berusaha berhubungan dengan sesuatu yang dianggap dapat menolong dan mendatangkan berkah dalam kehidupannya.

Di lain pihak cerita tersebut juga menyampaikan bahwa manusia hendaknya berhati-hati dan tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri, karena segala sesuatu yang dilakukan akan membawa akibat. Perbuatan buruk berakibat buruk, sebaliknya jika baik berakibat baik.

Bangunan-bangunan dan tempat-tempat peninggalan Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) sampai sekarang dikeramatkan dan dianggap sebagai tempat yang suci, kemudian banyak orang yang berdatangan ke tempat tersebut.

Baca Juga:  Perbedaaan Pondok Pesantren Dan Pendidikan Politik

Adapun tujuannya adalah pada dasarnya ingin berhubungan dengan Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari), karena dengan berhubungan tersebut manusia dapat meminta pertolongan baik materiil maupun spiritual, misalnya untuk membantu memecahkan persoalan dalam hidupnya antara lain masalah ekonomi, pekerjaan, pangkat, penyakit, jodoh, dan lain sebagainya.

Dalam mendatangi makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) bisa kapan saja sewaktu-waktu datang ke tempat tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, namun kebanyakan orang datang pada bulan Sya’ban atau Ruwah.

Hal itu dikarenakan bahwa dalam Islam Bulan Sya’ban atau Ruwah merupakan salah satu bulan mulia, yang kemudian oleh sebagian masyarakat Jawa diisi dengan tradisi sadranan. Tradisi sadranan dimaksudkan untuk mengirim arwah leluhur sekaligus memohon keselamatan dunia sampai akherat.

Dengan kaitan tersebut banyak orang datang dari berbagai daerah untuk berziarah ke makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari). Setelah kebutuhannya dikabulkan biasanya seseorang mengadakan nadzar sebagai tanda syukur dan terima kasih.

Baca Juga:  Lailatul Ijtima’, Amalan Nahdliyin Dari Dulu Hingga Kini

Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) dipercaya menjadi waliyullah. Banyak kebesaran dan keagungan yang dimiliki, karena waliyullah merupakan pewaris para nabi. Dengan demikian pola hidupnya selalu mencontoh akhlak nabi, misalnya selalu dapat mengalahkan angkara murka juga mempunyai perhatian yang besar dalam mengemban misi untuk mengajarkan tauhid kepada umat manusia.

Tidak mengheranan jika nama Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) masih cukup dikenal di Desa Gunungpring dan masyarakat pengamalnya hingga sekarang meskipun beliau telah meninggal beratus-ratus tahun lamanya.

Mochamad Ari Irawan