Upaya Kaum Puritan dalam Merobohkan Tradisi Keilmuan Islam

Kaum Puritan

“Meski ada tantangan salafi Radikal dan juga Wahabisme yang bersifat trans-Nasional dalam beberapa tahun terakhir (Masa Pasca Soeharto) tapi Islam wasathiyah (moderat) tidak tergoyahkan. Walaupun demikian, penguatan dan pemberdayaan Islam Wasathiyah Indonesia tetap diperlukan”. (Prof. Dr. Azyumardi Azra)

Pecihitam.org – Salafi wahabi menggunakan segala usaha untuk menghadapi orang-orang yang tidak sepaham dengan aqidah mereka. Segala sesuatu dilakukan oleh mereka dan untuk tujuan mereka yang dianggap “mulia” mereka melakukan segala cara meskipun dengan melakukan sesuatu yang tidak terpuji. Contohnya seperti memfitnah sesama dan melakukan pemyelewengan kitab-kitab ulama terdahulu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Menurut Syekh Idahram dalam bukunya Mereka memalsukan kitab-kitab Karya Ulama Klasik mengatakan bahkan mereka berani mengeluarkan dana yang besar untuk mengubah beberapa teks baik hadis, tafsir, fiqh, aqidah, lughah, sejarah milik para ulama yang menurut mereka tidak sepaham dan merugikan gerakan mereka. Contohnya adalah :

  1. Pemusnahan ribuan kitab yang tidak sepaham dengan mereka yakni terjadi pada tahun 1224. Mereka menghanguskan perpustakaan Al-idrusiyah dan perpustakaan Al-Handawaniyah di Hadramaut Yaman.
  2. Mereka membakar 60.000 buku-buku langka yang ada di perpustakaan Maktabah Arabiyah di Makkah Al-Mukarramah.
  3. Mengubah (mentahkik atau mentakhrij) kitab-kitab hadis seperti Bukhori Muslim yang diringkas oleh mereka dan menghilangkan hadis-hadis yang mereka tidak sukai dan masih banyak yang lainnya.
Baca Juga:  Kontroversi Fatwa Al-Bani, Setiap Orang yang Tinggal di Palestina adalah Kafir?

Seperti Sayyid Al-Milani yang mengatakan bahwa beliau banyak menemukan kejanggalan dan penyelewengan dalam kitab yang berjudul al-Murtadha karangan Abu Hasan An-Nadwi seorang ulama salafi asal India. Dalam kitabnya tersebut An-Nadwi menuliskan “Ibnu Katsir berkata : Nabi SAW. mempersaudarakan antara dirinya dengan sahl ibnu Hanif“.

Kemudian setelah dicek di kitab Ibnu Katsir, dengan jilid dan halaman yang sama sesuai petunjuk yang tertera dalam kitabnya An-Nadwi, ternyata Hadis tersebut tidak ditemukan. Tetapi yang ada hanyalah Nabi SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar tidak ada pembahasan mempersaudaran antara Nabi sengan Sahl Ibnu Hanif.

Sebaliknya buku yang berjudul Al-Murtadha (Julukan Sahabat Ali) itu tidak membahas tentang Ali bin Abi Thalib dan keutaman-keutamaannya tetapi malah membahas tentang Sahabat-sahabat Nabi yang lain dan sepertiga dari buku tersebut justru membahas keutamaan Sahabat Nabi yang lain bukan Sahabat Ali.

Atau ketika ada pemotongan ucapan Ulama yang atau Pemotongan Hadis yang dimbil bagian yang disukainya saja, sehingga bagian yang mereka tidak sukai tidak dicantumkan. Akhirnya yang dikonsumsi oleh pembaca-pembacanya adalah informasi yang tidak lengkap dan sarat akan salah pengertian sehingga banyak menimbulkan kontroversi atau penyesatan keilmuan yang disengaja.

Baca Juga:  Fitnah Islam Itu Datangnya dari Wahabi Yang Mengaku Sebagai Sunni

Dalam kasus pemalsuan diatas kenapa masih bisa terdeteksi atas perubahan ataupun perbedaan-perbedaan dari kitab-kitab yang orisonil dengan kitab yang sengaja dibuat oleh mereka, tentu saja karena adanya orant-orang ‘alim yang masih mengerti dan faham akan ajaran-ajaran orisinil milik para ulama terdahulu.

Menurut Dr. Giananjar Sya’ban sendiri justru yang dihawatirkan adalah generasi hari ini yang justru dimanjakan oleh teknologi sehingga lupa untuk memanfaatkan teknologi. Sebab kaum puritan tidak pernah berhenti untuk bisa terus merongrong orang-orang atau golongan yang tidak sepaham dengan mereka. Bahkan sampai saat ini pun kaum puritan masih menggunakan berbagai macam cara untuk bisa melemahkan orang-orang yang menghalangi tujuannya.

Oleh karena itu kita harus lebih berhati-hati lagi dalam membaca tulisan-tulisan kaum salafi wahabi atau kalau di Indonesia mereka adalah kaum puritan. Dalam hal ini perlu adanya tindakan dalam kehati-hatian untuk mengkonsumsi bacaan-bacaan keagamaan kita.

Baca Juga:  Mampukah Filsuf Jadi Pemimpin di Tengah Budaya Politik Kita?

Salah satu yang harus dilakukan adalah dengan membaca dari sumber-sumber yang dipercaya seperti Pecihitam.org dan tidak lepas pegangan kepada para Ulama yang jelas jalur sanad keilmuannya dan punya kapasitas keilmuan yang tinggi serta punya tujuan untuk bisa mendamaikan umat.

Artinya kita tidak bisa hanya mengandalkan internet saja dalam menambah wawasan Ilmu Agama Khususnya, sebab dengan mudahnya akses informasi yang ditawarkan teknologi saat ini sehingga akhirnya segala sesuatu termasuk belajar Agama Hanya dari Internet saja. Maka kita harus lebih berhati-hati lagi dalam memilah mana yang harus diambil dan mana yang harus ditinggalkan.

Semoga kita semua dilindungi oleh Allah Swt dan selalu diberikan Ilmu yang lurus serta bermanfaat. Tabik.!

Fathur IM