Inilah 4 Karakter Nabi Yusuf yang Patut Dicontoh Pemuda Zaman Now

Inilah 4 Karakter Nabi Yusuf yang Patut Dicontoh Pemuda Zaman Now

Pecihitam.org– Pemuda yang baik adalah mereka yang mandiri dan berkarakter. Begitulah, sebagaimana karakter ini dimiliki oleh Nabi Yusuf alaihis salam. Cucu Nabi Ishaq ini adalah teladan nyata bagi para pemuda zaman now. Karena nabi yang dikenal berwajah tampan ini mempunyai empat karakter utama yang mutlak dibutuhkan setiap generasi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pertama, Berbaki kepada Orang Tua
Ketika Yusuf kecil dilarang oleh ayahnya, Nabi Ya’kub untuk tidak menceritakan perihal mimpi melihat 11 bintang, Matahari dan rembulan, maka ia pun menaati sang ayah.

Nabi Ya’kub berpesan sebagaimana diceritakan oleh Allah dalam Surat Yusuf ayat 5

قَالَ يٰبُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلٰٓى اِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًا ۗاِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.”

Itulah sebagai salah satu bukti bakti Yusuf kepada ayahnya. Apa yang terucap dari lisan sang ayah akan menjadi perhatian utama baginya.

Karakter seorang anak yang dicontohkan oleh Nabi Yusuf sangat penting untuk dimiliki oleh anak-anak dan pemuda era kekinian.

Dari sinilah berawal kesuksesan dan keberkahan walaupun dalam perjalanan hidupnya dihadapkan dengan berbagai onak duri dan cobaan. Sebagaimana ini telah nyata terbukti pada Nabi Yusuf alaihissalam. Ia sukses, mulai dari menjadi bendahara hingga seorang raja.

Baca Juga:  Selain Meludah dan Berbicara, Inilah Larangan Lainnya Saat Buang Hajat

Kedua, Gigih dan Tawakkal kepada Allah
Singkat cerita. Mengetahui adiknya lebih istimewa dan mendapatkan perhatian lebih dari sang ayah, maka saudara-saudaranya iri dan membuang Nabi Yusuf ke dalam sumur.

Di sinilah, terlihat karakter baik Yusuf lainnya. Walaupun sendirian dalam kegelapan sumur, Yusuf kecil berusaha menyelesaikan masalahnya agar bisa keluar dari sumur.

Dia memanjat dinding-dinding sumur berulang kaki meski akhirnya gagal. Terlalu licin dan itu menyulitkannya. Berusaha sekeras mungkin dan gigih untuk menyelamatkan dirinya dari dalam dasar sumur itu. Ketika berkali-kali usahanya gagal, ia berserah diri, bertawakal sepenuhnya kepada Allah

Buah dari usaha dan tawakkalnya pun, ia rasakan. Yusuf kecil ditemukan kafilah dagang. Diberi kain dan makanan, lalu mereka menjual Yusuf kecil di pasar.

Akhirnya ia dibeli oleh pejabat keuangan kerajaan Mesir bernama Qithfir mau membelinya. Ia melihat bahwa pada diri Yusuf walaupun maaih sebagai anak yang cerdas dan potensinya sangat besar. Yusuf kecil pun tinggal di istana dengan segala kemewahannya.

Sikap pantang menyerah, gigih dan tawakal yang ada pada diri Nabi Yusuf seyogyanya dimiliki pula oleh para pemuda zaman ini. Karena sungguh zaman ini lebih sulit daripada zaman-zaman sebelumnya. Kompetisi di dalam berbagai bidang menuntut kita bersaing dengan usaha keras dan tawakal.

Baca Juga:  Kamu Harus Tahu! Inilah Hukum Bermain Game di Facebook

Jika persaingan ini tidak dibekali dengan kegigihan, usaha keras dan tawakal, maka tak jarang membuat para pemuda menjadi stress dan depresi.

Ketiga, Lembut dan Ramah
Hidup dengan penuh kesenangan dan kemewahan di dalam istana, Yusuf yang kian hari beranjak dewasa justru semakin menunjukkan kelembutan dan keramahan akhlaknya.

Sifat dan lembut dan ramahnya ditambah dengan ketampanannya yang luar biasa membuat Yusuf muda semakin menawan. Tak mengherankan jika banyak wanita bangsawan menggodanya dengan ancaman penjara jika Yusuf tak menuruti keinginan mereka.

Tetapi statusnya sebagai nabi yang ma’shum, ia dijaga dan diselamatkan dari godaan itu meskipun Nabi Yusf harus mendekam di dalam penjara demi menjaga keimanan dan harga dirinya.

Apalagi di zaman sekarang, zaman digital, zaman media sosial. Jika sikap lembut dan ramah tidak dimiliki oleh seseorang, maka dengan mudahnya ia akan menghujat dan berkomentar kasar di dunia maya.

Dengan begitu, dengan tidak adanya sikap lembut dan ramah, praktis akan menjadikan seseorang tersingkir dari pentas persaingan.

Keempat, Pemaaf
Karakter positif Nabi Yusuf berikutnya yang patut diteladani adalah pemaaf. Nabi Yusuf yang semenjak kecil dibenci oleh 10 saudaranya dan bahkan pernah direncanakan untuk dibunuh.

Baca Juga:  Menyentuh Kemaluan Pacar Hingga Ejakulasi, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Sedemikian tega perlakuan saudara-saudaranya, tetapi kelak ketika ia telah sukses menjadi seorang raja, bukan dendam yang ia lampiaskan. Justeru ia memaafkan saudara-saudaranya dan menerima kembali sebagai keluarga yang sangat dicintai.

Begitu juga ketika ia pernah difitnah dengan pemutarbalikan fakta yang dilakukan oleh ibu angkatnya, Zulaikha sewaktu menjadi istri Qithfir. Walaupun gegara ini ia sempat mendekam empat tahun dalam penjara, tetapi Nabi Yusuf tetap membuka pintu maaf bahkan mempersuntingnya sebagai istri.

Begitulah sikap pemaaf dari Nabi Yusuf yang luar biasa yang patut ditiru oleh para pemuda zaman now.

Demikianlah 4 karakter positif yang ada pada diri Nabi Yusuf yang patut dicontoh oleh kita generasi yang hidup di zaman ini. Semoga bermanfaat. Amin!

Faisol Abdurrahman