Surah Asy-Syura Ayat 51-53; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syura Ayat 51-53

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syura Ayat 51-53 ini, menerangkan bahwa Allah tidak akan berkata-kata dengan hamba-Nya kecuali dengan salah satu dari tiga cara. Allah menerangkan bahwa sebagaimana Dia menurunkan wahyu kepada rasul-rasul terdahulu Dia juga menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad saw berupa Al-Qur’an sebagai rahmat-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Jalan yang lurus itu ialah jalan yang telah disyariatkan Allah pemilik langit dan bumi serta penguasa keduanya, berbuat sekehendak-Nya, dan sebagai hakim yang tidak dapat digugat keputusan-Nya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syura Ayat 51-53

Surah Asy-Syura Ayat 51
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ ٱللَّهُ إِلَّا وَحۡيًا أَوۡ مِن وَرَآئِ حِجَابٍ أَوۡ يُرۡسِلَ رَسُولًا فَيُوحِىَ بِإِذۡنِهِۦ مَا يَشَآءُ إِنَّهُۥ عَلِىٌّ حَكِيمٌ

Terjemahan: Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

Tafsir Jalalain: وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ ٱللَّهُ إِلَّا (Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali) dengan perantaraan وَحۡيًا (wahyu) yang Dia wahyukan kepadanya di dalam tidurnya atau melalui ilham أَوۡ (atau) melainkan مِن وَرَآئِ حِجَابٍ (di belakang tabir) seumpamanya Allah memperdengarkan kalam-Nya kepadanya, tetapi dia tidak dapat melihat-Nya, sebagaimana yang telah terjadi pada Nabi Musa a.s. أَوۡ (atau) kecuali يُرۡسِلَ رَسُولًا (dengan mengutus seorang utusan) yakni malaikat, seperti Jibril فَيُوحِىَ (lalu diwahyukan kepadanya) maksudnya, utusan itu menyampaikan wahyu-Nya kepada rasul yang dituju,

بِإِذۡنِهِۦ (dengan seizin-Nya) dengan seizin Allah مَا يَشَآءُ (apa yang Dia kehendaki) apa yang Allah kehendaki. إِنَّهُۥ عَلِىٌّ (Sesungguhnya Dia Maha Tinggi) dari sifat-sifat yang dimiliki oleh semua makhluk حَكِيمٌ (lagi Maha Bijaksana) di dalam perbuatan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Ini merupakan tingkatan-tingkatan wahyu dari sisi Allah. Dia terkadang menanamkan dalam jiwa Rasulullah saw. sesuatu, dimana beliau tidak meragukan bahwa hal itu adalah dari Allah swt. sebagaimana tercantum dalam Shahih Ibni Hibban, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Ruhul Qudus meniupkan di dalam jiwaku, bahwa satu jiwa tidak akan mati sampai mendapatkan rizky dan ajalnya secara sempurna. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rizky dengan sebaik-baiknya.”

Firman Allah: أَوۡ مِن وَرَآئِ حِجَابٍ (“atau di belakang tabir.”) sebagaimana Dia mengajak bicara Musa, lalu Musa meminta melihat-Nya setelah diajak bicara, akan tetapi dilarang-Nya. Di dalam hadits shahih dinyatakan bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Jabir bin ‘Abdillah:

“Tidak ada seorangpun yang diajak bicara oleh Allah, kecuali dari balik tabir, dan sesungguhnya Dia berbicara kepada ayahmu secara langsung.” Demikian dinyatakan dalam hadits. Dan ayahnya itu telah terbunuh dalam perang Uhud, akan tetapi ini terjadi di alam Barzakh, sedang Ayat ini adalah di dunia.

Firman Allah: أَوۡ يُرۡسِلَ رَسُولًا فَيُوحِىَ بِإِذۡنِهِۦ مَا يَشَآءُ (“Atau dengan mengutus seorang utusan [malaikat], lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.”) sebagaimana Jibril dan malaikat-malaikat lain turun kepada para Nabi.

إِنَّهُۥ عَلِىٌّ حَكِيمٌ (“Sesungguhnya Dia Maha tinggi lagi Maha bijaksana.”) yakni, Dia Mahatinggi, Mahamengetahui, Mahamendalami lagi Mahabijaksana.

Baca Juga:  Cetakan Al-Quran di Indonesia Pada Masa Awal Abad ke-20

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menerangkan bahwa Allah tidak akan berkata-kata dengan hamba-Nya kecuali dengan salah satu dari tiga cara seperti berikut ini:

  1. Dengan wahyu, yakni Allah menanamkan ke dalam hati sanubari seorang nabi suatu pengertian yang tidak diragukannya bahwa yang diterimanya adalah dari Allah. Seperti halnya yang terjadi dengan Nabi Muhammad saw. Sabda beliau:

Sesungguhnya Ruhul Qudus telah menghembuskan ke dalam lubuk hatiku bahwasanya seseorang tidak akan meninggal dunia hingga dia menerima dengan sempurna rezeki dan ajalnya, maka bertakwalah kepada Allah dan berusahalah dengan cara yang sebaik-baiknya. (RiwAyat Ibnu hibban)

  1. Di belakang tabir yakni dengan cara mendengar dan tidak melihat siapa yang berkata, tetapi perkataannya itu didengar, seperti halnya Allah berbicara dengan Nabi Musa, Firman Allah :

Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku. (al-A’raf/7: 143)

  1. Mengutus seorang utusan, yakni Allah mengutus Malaikat Jibril, maka utusan itu menyampaikan wahyu kepada siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana halnya Jibril turun kepada Nabi Muhammad saw dan kepada nabi-nabi yang lain.

‘Aisyah meriwAyatkan bahwa al-harits bin Hisyam bertanya kepada Nabi saw, “Bagaimana cara wahyu datang kepadamu?” Rasulullah saw menjawab, “Terkadang wahyu datang kepadaku seperti bunyi lonceng. Cara inilah yang sangat berat bagiku. Setelah ia berhenti, aku telah mengerti apa yang telah dikatakan-Nya; kadang-kadang malaikat mewujudkan dirinya kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku, maka aku mengerti apa yang dibicarakannya”.

Berkata ‘Aisyah ra, sesungguhnya saya lihat Nabi ketika turun kepadanya wahyu di hari yang sangat dingin, kemudian setelah wahyu itu berhenti terlihat dahinya bercucuran keringat. (RiwAyat al-Bukhari)

Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah itu Mahatinggi lagi Mahasuci dari sifat-sifat makhluk ciptaan-Nya. Dia disebut menurut kebijaksanaan-Nya, berbicara dengan hamba-hamba-Nya, adakalanya tanpa perantara baik berupa ilham atau berupa percakapan dari belakang tabir.

Tafsir Quraish Shihab: Seorang manusia tidak akan diajak bicara oleh Allah kecuali melalui wahyu–yaitu pengutaraan tutur ke dalam kalbu–baik berupa ilham maupun mimpi. Atau dengan cara memperdengarkan suara ilahi tanpa si pendengar dapat melihat pembicaranya.

Dapat juga dengan cara mengutus malaikat yang dapat dilihat dan dapat didengar suaranya untuk kemudian mewahyukan kepadanya, dengan izin Allah, apa saja yang dikehendaki-Nya. Allah benar-benar Mahaluhur, tidak dapat dicegah, lagi Mahabijaksana atas segala urusan- Nya.

Surah Asy-Syura Ayat 52
وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحًا مِّنۡ أَمۡرِنَا مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلۡنَٰهُ نُورًا نَّهۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهۡدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسۡتَقِيمٍ

Terjemahan: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 9-12; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: وَكَذَٰلِكَ (Dan demikianlah) maksudnya, sebagaimana Kami wahyukan kepada rasul-rasul selain kamu أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ (Kami wahyukan kepadamu) hai Muhammad رُوحًا (wahyu) yakni Alquran, yang karenanya kalbu manusia dapat hidup مِّنۡ أَمۡرِنَا (dengan perintah Kami) yang Kami wahyukan kepadamu.

مَا كُنتَ تَدۡرِى (Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui) sebelum Kami mewahyukan kepadamu مَا ٱلۡكِتَٰبُ (apakah Alkitab) yakni Alquran itu وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ (dan tidak pula mengetahui apakah iman itu) yakni syariat-syariat dan tanda-tanda-Nya Nafi dalam Ayat ini amalnya di-ta’alluqkan kepada Fi’il dan lafal-lafal sesudah Fi’il menempati kedudukan dua Maf’ulnya.

وَلَٰكِن جَعَلۡنَٰهُ (tetapi Kami menjadikan Alquran itu) wahyu atau Alquran itu نُورًا نَّهۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهۡدِىٓ (cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk) maksudnya kamu menyeru dengan wahyu yang diturunkan kepadamu إِلَىٰ صِرَٰطٍ (kepada jalan) tuntunan مُّسۡتَقِيمٍ (yang lurus) yakni agama Islam.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحًا مِّنۡ أَمۡرِنَا (“Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami.”) yaitu al-Qur’an. مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ (“Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu.”) yakni secara rinci yang disyariatkan bagimu di dalam al-Qur’an.

وَلَٰكِن جَعَلۡنَٰهُ (“tetapi Kami menjadikannya”) yakni al-Qur’an itu, نُورًا نَّهۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا (“cahaya yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.”)

Dan firman Allah: وَإِنَّكَ (“Dan sesungguhnya kamu”) hai Muhammad. لَتَهۡدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسۡتَقِيمٍ (“benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”) yaitu kebenaran yang lurus.

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bahwa sebagaimana Dia menurunkan wahyu kepada rasul-rasul terdahulu Dia juga menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad saw berupa Al-Qur’an sebagai rahmat-Nya. Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa Muhammad saw sebelum mencapai umur empat puluh tahun dan berada di tengah-tengah kaumnya, belum tahu apa Al-Qur’an itu dan apa iman itu, dan begitu juga belum tahu apa syariat itu secara terperinci dan pengertian tentang hal-hal yang mengenai wahyu yang diturunkannya, tetapi Allah menjadikan Al-Qur’an itu cahaya terang benderang yang dengannya Allah memberi petunjuk kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya dan membandingkan kepada agama yang benar yaitu agama Islam. Sebagaimana firman Allah:

Dan engkau (Muhammad) tidak pernah mengharap agar Kitab (Al-Qur’an) itu diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) sebagai rahmat dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau menjadi penolong bagi orang-orang kafir. (al-Qasas/28: 86)

Dan firman-Nya: Katakanlah, “Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Al-Qur’an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. (Fussilat/41: 44)

Firman Allah: Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus. (al-Isra’/17: 9) Dengan cahaya Al-Qur’an itulah, Allah memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus yaitu agama yang benar.

Tafsir Quraish Shihab: Seperti Kami menurunkan wahyu kepada rasul-rasul sebelummu, Muhammad, Kami juga mewahyukan kepadamu al-Qur’ân ini untuk menghidupkan kalbu dengan seizin Kami. Sebelum diwahyukan kepadamu, kamu tidak pernah tahu apa itu al-Qur’ân.

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 13-14; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Begitu juga dengan syariat (ajaran-ajaran agama) dan masalah keimanan. Tetapi Kami kemudian menjadikan al-Qur’ân itu sebagai cahaya amat terang yang dapat dijadikan petunjuk bagi orang yang memilih petunjuk. Dengan al-Qur’ân ini kamu benar-benar mengajak ke jalan yang lurus.

Surah Asy-Syura Ayat 53
صِرَٰطِ ٱللَّهِ ٱلَّذِى لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلۡأُمُورُ

Terjemahan: (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.

Tafsir Jalalain: صِرَٰطِ ٱللَّهِ ٱلَّذِى لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ (Yaitu jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi) sebagai milik-Nya, makhluk-Nya dan hamba-hamba-Nya. أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلۡأُمُورُ (Ingatlah, bahwa kepada Allahlah kembali semua urusan) semua urusan dikembalikan.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Dia menafsirkannya dengan firman-Nya: “[yaitu] jalan Allah.” Yakni syariat yang diperintahkan-Nya: ٱلَّذِى لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ (“Yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bum.”) yaitu Rabb, Pemilik, Pengatur dan Penguasa keduanya, tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya.

أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلۡأُمُورُ (“Ingatlah bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.”) artinya, kepada-Nya seluruh urusan dikembalikan, lalu dirinci dan diberikan putusan oleh Allah. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang dhalim dan menentang.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menerangkan bahwa jalan yang lurus itu ialah jalan yang telah disyariatkan Allah pemilik langit dan bumi serta penguasa keduanya, berbuat sekehendak-Nya, dan sebagai hakim yang tidak dapat digugat keputusan-Nya.

Ayat ini diakhiri dengan satu peringatan bahwa semua urusan makhluk pada hari Kiamat nanti dikembalikan kepada Allah tidak kepada yang lain. Maka ditempatkanlah setiap mereka itu pada tempat yang layak baginya, di surga atau di neraka. Firman Allah:

Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan. (Ali ‘Imran/3: 109).

Tafsir Quraish Shihab: Yaitu jalan agama Allah, satu-satunya Tuhan yang memiliki hak mencipta dan mengatur semua makhluk yang ada di langit dan di bumi. Allah Swt. mengingatkan bahwa hanya kepada-Nya segala perkara dikembalikan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syura Ayat 51-53 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S