Tak Ada Gunanya Punya Fitrah Jika Tak Diasah

Tak Ada Gunanya Punya Fitrah Jika Tak Diasah

PeciHitam.org Manusia adalah makhluk yang dapat dididik dan mendidik, hamba allah yang mulia, berfungsi sebagai pemimpin atau pengelola bumi (khalifah fi al-ardl).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sering kita dengar sebuah ungkapan, bahwa “manusia terlahir dalam keadaan Fitrah” atau memiliki kecenderungan menerima agama (Islam) dan suci. Sebenarnya apa itu fitrah dan bagaimana cara kerja fitrah itu?

Memupuk Fitrah

Fitrah yakni potensi yang dimiliki manusia untuk menerima agama, iman dan tauhid serta perilaku suci. Dalam pertumbuhannya, manusia itu sendirilah yang harus berupaya mengarahkan fithrah tersebut pada iman atau tauhid melalui faktor pendidikan, pergaulan dan lingkungan yang kondusif.

Bila beberapa faktor tadi gagal dalam menumbuhkembangkan fithrah manusia, maka dikatakan bahwa fithrah tersebut dalam keadaan tertutup, yang dapat dibuka kembali bila faktor-faktor tadi mendukungnya. Sebagai bentuk potensi, fitrah dengan sendirinya memerlukan aktualisasi atau pengembangan lebih lanjut.

Tanpa aktualisasi, fithrah dapat tertutupi oleh ‘polusi’ yang dapat membuat manusia berpaling dari kebenaran. Meski setiap orang memiliki kecenderungan ini tidak serta merta secara aktual wujud dalam kenyataan.

Baca Juga:  Umat Islam Harus Paham, Bagaimana Batas Antara Sunnah dan Bid'ah

Karena itu, fitrah bisa yazid wa yanqush atau bisa tambah juga bisa kurang. Tambah, karena faktor pembinaan dan pendidikan yang kondusif, dan kurang, karena faktor-faktor negatif yang mempengaruhinya.

Fitrah Itu Bukan Kecenderungan Agama

Ibn al-Qayyim berpendapat bahwa manusia menerima Islam itu adalah sama dengan jalan yang ditempuh seorang anak kecil yang menerima ibunya.

Sesuai dengan pandangan ini, manusia bukanlah sudah muslim semenjak lahirnya, melainkan telah dibekali dengan potensi yang memungkinkannya menjadi muslim.

Jadi, inti fitrah adalah bahwa manusia memiliki kecenderungan beragama, lebih spesifik lagi adalah Islam, iman dan tauhid.

Ambil contoh, kasus Fir’aun, ia bukan saja semula tidak percaya kepada Tuhan, bahkan menganggap dirinya sebagai Tuhan serta memerintahkan orang lain untuk menyembahnya.

Namun, ketika Musa mengingatkan bahwa ia bukanlah Tuhan melainkan manusia biasa seperti halnya manusia yang lain, dan yang patut disembah adalah Allah semata, maka Fir’aun murka seraya mengejar-ngejar Musa dan hendak membunuhnya. Begitu Fir’aun akan tenggelam, barulah ia menyadari akan agama yang disampaikan oleh Musa.

Baca Juga:  Begini Para Salaf As-Sholih Bertabarruk Terhadap Pribadi Rasulullah

Ini sebagai pertanda bahwa selama berkuasa, fitrahnya telah tertutup oleh kepicikan hati dan perbuatannya, namun begitu ia akan tenggelam, kesadaran akan adanya Tuhan muncul, dan itu sudah terlambat.

Samakah dengan Tabula Rasa?

Konsep fitrah tidaklah identik dengan teori tabula rasa. Teori tabula rasa, sebagaimana dikemukakan oleh John Locke, memandang bahwa manusia itu putih bersih, ibarat kertas belum dicoret. Lingkungan dan pendidikanlah yang mencoret kertas yang putih bersih tadi. Jadi, teori tabula rasa memandang manusia terlahir dalam keadaan pasif.

Sebaliknya, fithrah memandang manusia lebih dari sekadar kertas putih dan bersih, melainkan dalam fithrah terdapat potensi yang terbawa oleh manusia, yakni daya atau kekuatan untuk menerima agama atau tauhid.

Bedanya dengan teori tabula rasa, potensi ini bersifat dinamis. Lingkungan dan pendidikan diakui sebagai penyebab berkurang atau bertambahnya potensi fitrah manusia.

la benar-benar menjadi orang yang beriman kepada Allah sekalipun lingkungan sekitarnya adalah anti-tauhid. Allah mengabadikan peristiwa ini dengan firmanNya:

“Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”

Lingkungan adalah faktor yang dapat mempengaruhi tingkah laku manusia, namun bukan satu-satunya faktor. Selain lingkungan adalah pendidikan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, katanya: Rasulullah saw. bersabda:

Baca Juga:  Subhanallah! Karena Surat Ini, Rambut Rasulullah Saw Beruban Sebelum Waktunya

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (yaitu suci bersih). Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana seekor ternak yang melahirkan anaknya (dengan sempurna kejadian dan anggotanya), adakah kamu menganggap hidung, telinga dan lain-lain anggotanya terpotong.”

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan