Surah Al-Fath Ayat 29; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Fath Ayat 29

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Fath Ayat 29 ini, menerangkan bahwa Muhammad saw adalah rasul Allah yang diutus kepada seluruh umat. Para sahabat dan pengikut Rasul bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi lemah lembut terhadap sesama mereka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Rasulullah bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih mengasihi dan sayang-menyayangi antara mereka seperti tubuh yang satu; bila salah satu anggota badannya sakit demam, maka badan yang lain merasa demam dan terganggu pula.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fath Ayat 29

Surah Al-Fath Ayat 29
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبۡتَغُونَ فَضۡلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنًا سِيمَاهُمۡ فِى وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمۡ فِى ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَمَثَلُهُمۡ فِى ٱلۡإِنجِيلِ كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسۡتَغۡلَظَ فَٱسۡتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعۡجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلۡكُفَّارَ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنۡهُم مَّغۡفِرَةً وَأَجۡرًا عَظِيمًۢا

Terjemahan: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya.

Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Tafsir Jalalain: مُّحَمَّدٌ (Muhammad itu) lafal ayat ini berkedudukan menjadi Mubtada رَّسُولُ ٱللَّهِ (adalah utusan Allah) menjadi Khabar dari Mubtada وَٱلَّذِينَ مَعَهُ (dan orang-orang yang bersama dengan dia) yakni para sahabatnya yang terdiri dari kaum mukminin. Lafal ayat ini menjadi Mubtada sedangkan Khabarnya ialah أَشِدَّآءُ (adalah keras) yakni mereka adalah orang-orang yang bersikap keras عَلَى ٱلۡكُفَّارِ (terhadap orang-orang kafir) mereka tidak mengasihaninya رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡ (tetapi berkasih sayang sesama mereka) menjadi Khabar yang kedua; yakni mereka saling kasih-mengasihi di antara sesama mukmin bagaikan kasih orang tua kepada anaknya.

تَرَىٰهُمۡ (kamu lihat mereka) kamu perhatikan mereka رُكَّعًا سُجَّدًا (rukuk dan sujud) keduanya merupakan Hal atau kata keterangan keadaan يَبۡتَغُونَ (mencari) lafal ayat ini merupakan jumlah isnaf, yakni mereka melakukan demikian dalam rangka mencari فَضۡلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنًا سِيمَاهُمۡ (karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka) ciri-ciri mereka, lafal ayat ini menjadi Mubtada فِى وُجُوهِهِم (tampak pada muka mereka) menjadi Khabar dari Mubtada. Tanda-tanda tersebut berupa nur dan sinar yang putih bersih yang menjadi ciri khas mereka kelak di akhirat, sebagai pertanda bahwa mereka orang-orang yang gemar bersujud sewaktu di dunia مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ (dari bekas sujud.) Lafal ayat ini berta’alluq kepada lafal yang menjadi Ta’alluq atau gantungan bagi Khabar, yaitu lafal Kaainatan.

Kemudian dii’rabkan sebagai Hal karena mengingat Dhamirnya yang dipindahkan kepada Khabar. ذَٰلِكَ (Demikianlah) sifat-sifat yang telah disebutkan tadi مَثَلُهُمۡ (sifat-sifat mereka) yakni gambaran tentang mereka, kalimat ayat ini menjadi Mubtada فِى ٱلتَّوۡرَىٰةِ (di dalam kitab Taurat) menjadi Khabarnya وَمَثَلُهُمۡ فِى ٱلۡإِنجِيلِ (dan sifat-sifat mereka dalam kitab Injil) menjadi Mubtada, sedangkan Khabarnya adalah كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡـَٔهُۥ (yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya) dapat dibaca Syathahu atau Syathaahu, yakni tunasnya,

فَـَٔازَرَهُۥ (maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat) dapat dibaca Faaazarahuu atau Fa’azarahu, yakni tunas itu membuat tanaman menjadi kuat فَٱسۡتَغۡلَظَ (lalu menjadi besarlah dia) membesarlah dia فَٱسۡتَوَىٰ (dan tegak lurus) yakni kuat dan tegak lurus عَلَىٰ سُوقِهِۦ (di atas pokoknya) lafal Suuq ini adalah bentuk jamak dari lafal Saaqun يُعۡجِبُ ٱلزُّرَّاعَ (tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya) karena keindahannya.

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 110; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Perumpamaan ini merupakan gambaran tentang keadaan para sahabat karena mereka pada mulanya berjumlah sedikit lagi masih lemah, kemudian jumlah mereka makin bertambah banyak dan bertambah kuat dengan sistem yang sangat rapi,

لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلۡكُفَّارَ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ (karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan kekuatan orang-orang mukmin) lafal ayat ini berta’alluq kepada lafal yang tidak disebutkan yang disimpulkan dari kalimat sebelumnya, yakni mereka diserupakan demikian karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.

وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنۡهُم (Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh dari kalangan mereka) yakni para sahabat; huruf Min di sini menunjukkan makna Bayanul Jinsi atau untuk menjelaskan jenis, bukan untuk menunjukkan makna Tab’idh atau sebagian, demikian itu karena para sahabat semuanya memiliki sifat-sifat tersebut مَّغۡفِرَةً وَأَجۡرًا عَظِيمًۢا (ampunan dan pahala yang besar) yakni surga; kedua pahala itu berlaku pula bagi orang-orang sesudah mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam berbagai ayat lainnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah memberitahukan tentang sifat Nabi Muhammad saw. bahwa beliau adalah seorang Rasul yang benar dan tidak perlu diragukan dan dipertanyakan lagi, dimana Dia berfirman: Muhammadur rasuulullaaHi (“Muhammad itu adalah utusan Allah”) ini adalah mubtada’ dan khabar, mencakup seluruh sifat yang baik. Kemudian diberikan pujian secara khusus bagi para shahabat beliau, mudah-mudahan Allah meridlai mereka semua, dimana Dia berfirman:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡ (“Dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”) hal itu sama dengan firman Allah yang artinya: “..Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir,” (al-Maa-idah: 54)

Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan seorang Mukmin dalam kecintaan dan kasih sayang antara sesama mereka bagaikan jasad yang satu. Jika ada salah satu anggotanya yang mengadu sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan ikut merasakan demam dan tidak dapat tidur.”

Dan sabdanya juga: “Orang mukmin terhadap mukmin lainnya itu bagaikan satu bangunan, sebagaimana memperkuat sebagian yang lain.” Dan beliau menjalinkan jari-jemari beliau. Kedua hadits tersebut terdapat dalam kitab Shahih.

Firman-Nya lebih lanjut: سِيمَاهُمۡ فِى وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ (“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka, itu berarti tanda yang baik.” Sedangkan Mujahid dan beberapa ulama mengatakan: “Yaitu, kekhusu’an dan sikap tawadlu.”

Firman Allah: Firman-Nya lebih lanjut: سِيمَاهُمۡ فِى وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ (“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata: “Yaitu kekhusyu’an.” Berkenaan dengan ini penulis katakan:

“Aku tidak melihatnya kecuali bekas itu ada di wajah. Mungkin di hadapan dua mataku terdapat orang yang mempunyai hati yang lebih keras dari Fir’aun.” As-Suddi berkata: “Shalat menjadikan wajah mereka tampan.” Sebagian ulama salaf mengemukakan:

“Barangsiapa yang banyak mengerjakan shalat pada malam hari, maka wajahnya akan menjadi tampan pada siang harinya.” Ibnu Majah telah meriwayatkan hadits dari Jabir, dimana ia bercerita bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa yang banyak mengerjakan shalat pada malam hari, maka wajahnya akan menjadi tampan pada siang harinya.” Dan yang benar, hadits tersebut mauquf (disandarkan kepada sahabat).

Sebagian mereka mengatakan bahwa kebaikan itu merupakan cahaya dalam hati, sinar pada wajah, keluasan rizki, dan kecintaan dalam hati manusia. Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan berkata:

Baca Juga:  Surah Al-Fath Ayat 1-3; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

“Tidaklah seseorang menyembunyikan suatu rahasia melainkan Allah akan menampakkannya pada wajah dan lisannya.” Maksudnya, sesuatu yang tersembunyi di dalam diri itu akan tampak pada wajah. Dengan demikian, jika seorang Mukmin mempunyai rahasia yang baik dan benar, niscaya Allah akan memperbaiki lahiriyahnya dalam pandangan umat manusia.

Sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab, dimana dia berkata: “Barangsiapa yang memperbaiki batinnya, niscaya Allah akan memperbaiki lahiriahnya.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri dari Rasulullah saw, beliau bersabda:

“Seandainya salah seorang dari kalian beramal di dalam batu yang tertutup rapat, tidak berpintu dan tidak pula berlubang, niscaya amalnya itu akan keluar untuk umat manusia, siapapun dia.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya petunjuk yang shahih, perangai yang shalih, dan kesederhanaan itu adalah satu bagian dari 25 bagian kenabian.” Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dari ‘Abdullah bin Muhammad an-Nufaili, dari Zuhair dengan lafzhnya.

Dengan demikian para shahabat telah mentulus ikhlashkan niat dan membaguskan amal perbuatan mereka, sehingga setiap orang yang melihat mereka akan kagum terhadap tanda dan petunjuk mereka.

Malik mengatakan: “Telah diberitahukan kepadaku bahwa jika orang-orang Nasrani melihat para shahabat yang telah membebaskan kota Syam [Syria] maka mereka mengatakan: ‘Demi Allah, mereka itu lebih baik daripada kaum Hawariyyun [pengikut setia Nabi ‘Isa a.s.], sebagaimana berita yang pernah sampai kepada kami.’”

Dan mereka telah berkata jujur mengenai hal tersebut, karena sesungguhnya umat ini telah diagungkan di dalam kitab-kitab terdahulu dan yang paling agung dan paling utama adalah para shahabat Rasulullah saw.. Allah pun telah menyebutkan mereka dalam kitab-kitab yang Dia turunkan dan berita-berita yang ada.

Oleh karena itu, di sini Allah berfirman: ذَٰلِكَ مَثَلُهُمۡ فِى ٱلتَّوۡرَىٰةِ (“Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat.”) وَمَثَلُهُمۡ فِى ٱلۡإِنجِيلِ كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡـَٔهُۥ (“Dan sifat-sifat mereka di dalam Injil yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya.”) فَـَٔازَرَهُۥ (“Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat.”) yakni semakin kokoh.

فَٱسۡتَغۡلَظَ (“Lalu menjadi besarlah dia.”) yakni semakin tumbuh besar. فَٱسۡتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعۡجِبُ ٱلزُّرَّاعَ (“Dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman-tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya.”) maksudnya demikian juga dengan para shahabat Rasulullah saw., dimana mereka mendukung, memperkuat, dan menolong beliau. Sehingga perumpamaan mereka terhadap beliau laksana tunas dengan tanaman. لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلۡكُفَّارَ (“Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.”)

Dari ayat tersebut di atas, Imam Malik mengambil kesimpulan tentang kekufuran kaum Syi’ah Rafidhah yang membenci para shahabat. Ia mengatakan: “Karena mereka membenci para shahabat, dan barangsiapa yang membenci para shahabat, maka ia telah kafir berdasarkan ayat ini.”

Dalam hal itu, ia didukung oleh kelompok ulama. Dan banyak hadits yang membahas tentang keutamaan para sahabat dan larangan menyebarluaskan keburukan mereka. Dan cukuplah untuk mereka pujian dan keridlaan Allah Ta’ala yang Dia berikan kepada mereka.

Firman Allah: وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنۡهُم (“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka.”) ini untuk menjelaskan jenis, مَّغۡفِرَةً (“ampunan”) yaitu atas dosa-dosa mereka. وَأَجۡرًا عَظِيمًۢا (“dan pahala yang besar”) yakni pahala yang melimpah dan rizki yang mulia.

Janji Allah itu benar, tidak akan dilanggar dan tidak akan diganti. Dan setiap orang yang mengikuti jejak para shahabat, maka ia akan masuk ke dalam hukum mereka. Mereka mempunyai keutamaan dan kesempurnaan yang tidak seorangpun dari umat ini yang akan memperolehnya. Dan dijadikan-Nya Surga Firdaus sebagai tempat tinggal mereka.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya, Shahih Muslim, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian mencaci para shahabatku. Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya saja salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan menyamai satu mudd gandum pun dari mereka dan tidak pula setengahnya.” Hanya milik Allah segala puji dan sanjungan.

Baca Juga:  Surah Al-Fath Ayat 18-19; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Muhammad saw adalah rasul Allah yang diutus kepada seluruh umat. Para sahabat dan pengikut Rasul bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi lemah lembut terhadap sesama mereka. Firman Allah:

Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah. (al-Ma’idah/5: 54)

Rasulullah bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih mengasihi dan sayang-menyayangi antara mereka seperti tubuh yang satu; bila salah satu anggota badannya sakit demam, maka badan yang lain merasa demam dan terganggu pula. (Riwayat Muslim dan Ahmad dari an-Nu’man bin Basyir)

Orang-orang yang beriman selalu mengerjakan salat dengan khusyuk, tunduk, dan ikhlas, mencari pahala, karunia, dan keridaan Allah. Tampak di wajah mereka bekas sujud. Maksudnya ialah air muka yang cemerlang, tidak ada gambaran kedengkian dan niat buruk kepada orang lain, penuh ketundukan dan kepatuhan kepada Allah, bersikap dan berbudi pekerti yang halus sebagai gambaran keimanan mereka.

Mengenai cahaya muka orang yang beriman, ‘Utsman berkata, “Adapun rahasia yang terpendam dalam hati seseorang; niscaya Allah menyatakannya pada raut mukanya dan lidahnya.” Sifat-sifat yang demikian itu dilukiskan dalam Taurat dan Injil.

Para sahabat dan pengikut Nabi semula sedikit dan lemah, kemudian bertambah dan berkembang dalam waktu singkat seperti biji yang tumbuh, mengeluarkan batangnya, lalu batang bercabang dan beranting, kemudian menjadi besar dan berbuah sehingga menakjubkan orang yang menanamnya, karena kuat dan indahnya, sehingga menambah panas hati orang-orang kafir.

Kemudian kepada pengikut Rasulullah saw itu, baik yang dahulu maupun yang sekarang, Allah menjanjikan pengampunan dosa-dosa mereka, memberi mereka pahala yang banyak, dan menyediakan surga sebagai tempat yang abadi bagi mereka. Janji Allah yang demikian pasti ditepati.

Tafsir Quraish Shihab: Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersamanya bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi bersikap kasih sayang terhadap sesama mereka. Kamu lihat mereka selalu rukuk dan sujud mencari pahala dan rida Allah.

Tanda mereka adalah kekhusukan yang tampak di muka mereka dari bekas seringnya melakukan salat. Demikianlah sifat-sifat mereka yang diterangkan dalam kitab Tawrât. Sedangkan sifat-sifat mereka dalam kitab Injîl adalah seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya.

Tunas menjadikan tanaman itu kuat, lalu tanaman itu menjadi besar dan tegak di atas akarnya. Tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya karena tumbuh kuat. Demikian halnya dengan orang-orang Mukmin, dengan kekuatan mereka Allah ingin menjengkelkan orang-orang kafir. Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ampunan yang menghapus semua dosa-dosa mereka dan pahala yang amat besar.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Fath Ayat 29 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S