Surah Sad Ayat 34-40; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Sad Ayat 34-40

Pecihitam.org – Kandungan Surah Sad Ayat 34-40 ini, menjelaskan keadaan Sulaiman pada saat mendapat cobaan dan keadaannya setelah selesai menghadapi cobaan itu. Allah mencobanya dengan menimpakan sakit keras. Demikian hebatnya serangan penyakitnya itu hingga kehilangan kekuatan sama sekali. Badannya lemah lunglai tergeletak di atas kursinya seolah-olah tak bernyawa lagi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah lalu menjelaskan bahwa setelah Sulaiman sembuh dari sakitnya, ia menyadari kelemahan yang ada pada dirinya. Ia telah memilih hal yang kurang penting. Dia telah kehilangan waktu yang utama untuk melakukan ibadah karena menyaksikan latihan kuda. Lalu Nabi Sulaiman berdoa kepada Allah agar dianugerahi kerajaan yang tidak ada tandingannya, yang tak akan dimiliki oleh seorang jua pun sesudahnya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Sad Ayat 34-40

Surah Sad Ayat 34
وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ

Terjemahan: Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat.

Tafsir Jalalain: وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ (Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman) Kami telah mencobanya dengan suatu ujian, yaitu kerajaannya dirampas oleh orang lain. Demikian itu, karena ia pernah menikahi seorang perempuan yang ia sukai, hanya perempuan itu termasuk orang yang menyembah berhala, tanpa sepengetahuan Nabi Sulaiman.

Dan tersebutlah bahwa kebesarannya itu terletak pada cincinnya kemudian pada suatu hari ketika ia bermaksud untuk pergi ke kamar mandi, ia melepaskan cincinnya itu. Lalu ia menitipkannya kepada salah seorang dari istrinya yang bernama Aminah, sebagaimana biasanya. Setelah ia pergi tiba-tiba datanglah makhluk jin yang menyerupai Nabi Sulaiman, kemudian jin itu mengambil cincin itu dari Aminah dan langsung memakainya.

وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدًا (dan Kami dudukkan pada singgasananya sesosok jasad) yaitu jin tersebut, yang bernama Shakhr atau jin lainnya, kemudian jin itu menduduki singgasana Nabi Sulaiman. Ketika itu juga ia dikelilingi burung-burung dan lain-lainnya. Lalu muncullah Nabi Sulaiman dalam bentuk yang tidak seperti biasanya, yakni tanpa pakaian kebesaran, ia melihat bahwa di singgasananya telah duduk seseorang. Kemudian ia berkata kepada orang-orang yang ada di situ, “Aku adalah Sulaiman.”

Akan tetapi orang-orang mengingkarinya ثُمَّ أَنَابَ (kemudian ia kembali) yakni kembali dapat merebut kebesarannya setelah selang beberapa hari; yaitu setelah ia berhasil merebut cincin kebesarannya, lalu memakainya dan duduk di atas singgasananya kembali.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: وَلَقَدۡ فَتَنَّا سُلَيۡمَٰنَ (“Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman.”) yaitu Kami mengujinya dengan mencabut kerajaannya. وَأَلۡقَيۡنَا عَلَىٰ كُرۡسِيِّهِۦ جَسَدًا (“Dan Kami jadikan ia tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh.”) menurut Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, al-Hasan, Qatadah dan lain-lain, yaitu syaitan. ثُمَّ أَنَابَ (“Kemudian dia bertaubat.”) yaitu kembali kepada kerajaan, kekuasaan dan singgasananya.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah menjelaskan keadaan Sulaiman pada saat mendapat cobaan dan keadaannya setelah selesai menghadapi cobaan itu. Allah mencobanya dengan menimpakan sakit keras. Demikian hebatnya serangan penyakitnya itu hingga kehilangan kekuatan sama sekali. Badannya lemah lunglai tergeletak di atas kursinya seolah-olah tak bernyawa lagi.

Abu Hurairah meriwAyatkan bahwa Nabi saw bersabda: Nabi Sulaiman berkata, “Saya akan berkeliling malam ini untuk mengumpuli sembilan puluh istri, semuanya nanti akan melahirkan anak yang mahir menunggang kuda dan berjihad fi sabilillah”. Maka seorang sahabatnya berkata kepadanya. “Katakan insya Allah”, tetapi Nabi Sulaiman tidak mengatakan insya Allah.

Nabi Sulaiman kemudian mengumpuli istri-istrinya itu semua, tetapi tidak ada yang hamil dari mereka kecuali seorang istri, yang kemudian melahirkan anak yang tidak sempurna. Demi Zat yang menguasai diri Muhammad, “Seandainya Nabi Sulaiman mengatakan insya Allah, niscaya semua istrinya melahirkan anak-anak yang mahir menunggang kuda dan berjihad fi sabilillah”.(RiwAyat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Keterangan lain menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan cobaan itu ialah berkenaan dengan keinginan Nabi Sulaiman mendatangi sembilan puluh istrinya dalam satu malam dan setiap istrinya melahirkan seorang penunggang kuda. Namun, ia tidak mengucapkan insya Allah, sehingga Allah mengujinya dengan cobaan tidak ada yang melahirkan kecuali hanya satu orang dan melahirkan bayi lumpuh setengah badan dan diletakkan di atas kursi Nabi Sulaiman.

Di saat-saat menerima cobaan seperti itu, ia selalu memanjatkan harapannya kepada Allah serta penyerahan dirinya menerima cobaan itu dengan ikhlas. Pada penghujung Ayat, Allah menegaskan bahwa Sulaiman lalu bertobat meminta ampun atas kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya serta berserah diri kepada Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaimân sehingga ia tidak tergoda oleh kekuasaan. Kami menjadikannya tergeletak di atas kursinya sebagai jasad yang tidak mampu mengendalikan urusan. Kemudian ia menyadari cobaan itu dan segera kembali bertobat kepada Allah.

Surah Sad Ayat 35
قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِى وَهَبۡ لِى مُلۡكًا لَّا يَنۢبَغِى لِأَحَدٍ مِّنۢ بَعۡدِىٓ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ

Terjemahan: Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”.

Tafsir Jalalain: قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِى وَهَبۡ لِى مُلۡكًا لَّا يَنۢبَغِى (Ia berkata, “Ya Rabbku! Ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut dimiliki) maksudnya, belum pernah dimiliki لِأَحَدٍ مِّنۢ بَعۡدِىٓ (oleh seorang jua pun sesudahku) artinya, yang tidak layak dimiliki oleh orang selainku. Pengertian ungkapan ini sama dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya yang lain, yaitu, ‘Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah?’ (Q.S. Al-Jatsiyah, 23) yakni selain Allah إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ (sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”).

Baca Juga:  Surah Al Baqarah Ayat 266-269; Tafsir dan Terjemahannya

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِى وَهَبۡ لِى مُلۡكًا لَّا يَنۢبَغِى لِأَحَدٍ مِّنۢ بَعۡدِىٓ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ (“Ia berkata: ‘Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahapemberi.”) sebagian ulama berkata: “Maknanya adalah, tidak patut bagi seseorang setelahku. Yakni tidak layak bagi seseorang pun untuk mencabutnya darinya sesudahku, sebagaimana masalah tubuh yang tergeletak di atas kursinya, bukan berarti dia mencegah orang lain sesudahnya.”

Pendapat yang shahih bahwa beliau meminta kepada Allah Ta’ala sebuah kerajaan yang tidak diberikan kepada manusia sesudahnya seperti kerajaan itu. Inilah makna yang jelas dalam Ayat suci tersebut.

Terdapat hadits-hadits shahih dari beberapa jalan yang berasal dari Rasulullah saw. Ketika menafsirkan Ayat ini Imam al-Bukhari meriwAyatkan hadits dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Sungguh malam tadi ada Ifrit dari bangsa jin melompatiku –atau kalimat sejenisnya- untuk menggangguku dalam shalat. Lalu Allah Tabaaraka wa Ta’ala memberiku kemampuan untuk menangkapnya dan aku ingin mengikatnya di salah satu tiang masjid, sehingga pagi hari kalian semua dapat melihatnya.

Lalu aku teringat perkataan saudaraku, Sulaimman a.s: ‘Ya Rabb-ku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku.’” Rauh berkata: “Lalu dia dikembalikan dalam keadaan hina.” Demikian yang diriwAyatkan oleh Muslim dan an-Nasa’i dari Syu’bah.

Imam Ahmad meriwAyatkan dari Abu Ahmad, dari Maisarah bin Ma’bad, bahwa Abu ‘Ubaid Hajib Sualiman berkata: “Aku melihat ‘Atha’ bin Yazid al-Laitsi berdiri dalam keadaan shalat, lalu aku berjalan melewatinya dan diapun menghalangiku.” Kemudian dia berkata:

“Abu Sa’id al-Khudri bercerita kepadaku, bahwa Rasulullah saw. berdiri melaksanakan shalat shubuh, sedangkan dia berada di belakangnya. Beliau membaca satu surat dan terganggu dalam bacaannya. Ketika beliau menyelesaikan shalatnya, beliau bersabda: ‘Seandainya kalian melihat aku dan iblis, maka kalian akan melihatku menangkapnya dengan tanganku, dan terus aku cekik sehingga aku dapati rasa dingin air liurnya di antara jariku ini –ibu jari dan telunjuk- dan seandainya bukan karena doa saudaraku Sulaiman, niscaya iblis akan terikat sampai pagi di salah satu tiang masjid menjadi permainan anak-anak Madinah. Maka, barangsiapa di antara kalian mampu untuk tidak dihalangi sesuatu antara dirinya dan kiblat, maka lakukanlah.’”

Menurut riwAyat Abu Dawud: “Dan barangsiapa di antara kalian mampu untuk tidak terhalang oleh seseorang antara dirinya dan Ka’bah, maka lakukanlah.”

Tafsir Kemenag: Allah lalu menjelaskan bahwa setelah Sulaiman sembuh dari sakitnya, ia menyadari kelemahan yang ada pada dirinya. Ia telah memilih hal yang kurang penting. Dia telah kehilangan waktu yang utama untuk melakukan ibadah karena menyaksikan latihan kuda.

Lalu Nabi Sulaiman berdoa kepada Allah agar dianugerahi kerajaan yang tidak ada tandingannya, yang tak akan dimiliki oleh seorang jua pun sesudahnya. Dalam hadis Nabi saw diriwAyatkan:

Bahwa Nabi saw berkata: Bahwa Ifrit dari golongan jin meludahi aku tadi malam agar aku membatalkan salatku namun Allah memberikan kekuatan kepadaku sehingga aku dapat menangkap jin itu. Aku bermaksud untuk mengikatnya di satu tiang dari tiang-tiang masjid sehingga kamu dapat melihatnya. Tapi aku teringat doa saudaraku Sulaiman,

“Ya Allah ampunilah aku, dan berilah aku kekuatan yang tidak layak untuk diberikan kepada orang sesudahku”. Maka aku usir dia untuk menjauh.(RiwAyat al-Bukhari dan Muslim)

Nabi Sulaiman dibesarkan dalam lingkungan kerajaan dan kenabian. Sejak kecil ia terlatih sebagai seorang anak dari seorang raja dan nabi. Sulaiman pun mewarisi kemampuan keduanya dan Allah juga menganugerahkan kepadanya kemampuan itu. Itulah sebabnya maka Allah menganugerahkan kepadanya kerajaan yang sangat kuat dan kekayaan yang berlimpah ruah, yang tiada tandingannya.

Di akhir Ayat Allah menyebutkan alasan yang dikemukakan Sulaiman dalam doanya yaitu karena Allah benar-benar akan mengabulkan doa setiap orang yang disertai usaha dan syarat kemampuan yang dimiliki sesuai dengan kehendak-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Sulaimân berdoa kepada Tuhannya sambil bertobat, “Ya Tuhanku, ampunilah segala apa yang telah aku lakukan dan berikanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi lagi banyak karunia-Nya.”

Surah Sad Ayat 36
فَسَخَّرۡنَا لَهُ ٱلرِّيحَ تَجۡرِى بِأَمۡرِهِۦ رُخَآءً حَيۡثُ أَصَابَ

Terjemahan: Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya,

Tafsir Jalalain: فَسَخَّرۡنَا لَهُ ٱلرِّيحَ تَجۡرِى بِأَمۡرِهِۦ رُخَآءً (Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berembus dengan baik menurut perintahnya) yakni berembus dengan lembut حَيۡثُ أَصَابَ (ke mana saja yang ia kehendaki) sesuai dengan keinginan Nabi Sulaiman.

Tafsir Ibnu Katsir: فَسَخَّرۡنَا لَهُ ٱلرِّيحَ تَجۡرِى بِأَمۡرِهِۦ رُخَآءً حَيۡثُ أَصَابَ (“Kemudian, Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut kemana saja yang dikehendakinya.”) al-Hasan al-Bashri berkata: “Ketika Sulaiman telah menyembelih kuda-kudanya [disebabkan] murka karena Allah, maka Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik yaitu angin yang begitu cepat perjalanannya di waktu pagi dengan perjalanan sebulan dan perjalanan di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan pula.

Firman Allah: حَيۡثُ أَصَابَ (“Kemana saja dikehendakinya.”) yaitu ke negeri mana saja yang dia inginkan.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah menjelaskan beberapa nikmat yang diberikan kepada Nabi Sulaiman, sebagai jawaban dari pada doanya. Pertama: Allah menganugerahkan kepada Sulaiman kekuasaan menundukkan angin. Atas izin Allah, angin berhembus dengan kencang atau gemulai menurut kehendaknya pula.

Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 60-63; Seri Tadabbur Al Qur'an

Allah berfirman: Dan (Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. (al-Anbiya’/21: 81)

Kedua: Allah menganugerahkan kepadanya kemampuan menundukkan setan-setan yang ahli bangunan dan ahli menyelam, yang melakukan tugas sesuai dengan perintah Sulaiman. Apabila ia memerintahkan kepada mereka membangun suatu bangunan seperti gedung-gedung pertemuan istana, benteng pertahanan, atau gedung-gedung tempat menyimpan harta kekayaan Sulaiman dan lain-lain, maka tugas itu dapat mereka selesaikan dalam waktu yang sangat singkat.

Apabila Sulaiman memerintahkan mereka untuk mengumpulkan mutiara dan marjan serta kekayaan laut lainnya, tugas itu dapat diselesaikan dengan cepat pula.

Ketiga: Allah menganugerahkan kepadanya kekuasaan menundukkan setan yang menentang perintahnya. Tangan dan kaki mereka terikat dalam belenggu, agar tidak berbahaya kepada yang lain, dan sebagai hukuman atas pembangkangannya.

Kekuasaan yang diberikan Allah kepada Sulaiman untuk menundukkan setan maksudnya adalah kekuasaan untuk menggerakkan mereka melakukan tugas-tugas berat, yaitu tugas membangun gedung-gedung, dan menyelam mengeluarkan kekayaan laut. Namun tidak ada keterangan secara pasti mengenai bagaimana Sulaiman membelenggu setan itu.

Sikap yang paling utama ialah kita menerima keterangan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan untuk mengungkapkan pengertiannya, kita serahkan kepada ilmu pengetahuan.

Tafsir Quraish Shihab: Kemudian Kami menundukkan baginya angin yang berhembus dengan baik dan mudah, ke mana saja dia ingini.

Surah Sad Ayat 37
وَٱلشَّيَٰطِينَ كُلَّ بَنَّآءٍ وَغَوَّاصٍ

Terjemahan: dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam,

Tafsir Jalalain: وَٱلشَّيَٰطِينَ كُلَّ بَنَّآءٍ (Dan Kami tundukkan pula kepadanya setan-setan, semuanya ahli bangunan) yakni pandai membuat bangunan-bangunan yang menakjubkan dan aneh وَغَوَّاصٍ (dan penyelam) ahli menyelam di dalam laut untuk mengambil mutiara-mutiara yang terkandung di dalamnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: وَٱلشَّيَٰطِينَ كُلَّ بَنَّآءٍ وَغَوَّاصٍ (“Dan [Kami tundukkan pula kepadanya] setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam.”) yakni di antara mereka dipekerjakan pada bangunan-bangunan raksasa berupa gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang [besarnya] seperti kolam dan periuk yang tetap [berada di atas tungku], serta kerja-kerja berat lainnya yang tidak mampu dilakukan oleh manusia.

Segolongan lagi adalah para penyelam di lautan yang mampu mengeluarkan isinya berupa intan permata dan barang-barang berharga lainnya yang tidak didapati di manapun selain di dalamnya.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah menjelaskan beberapa nikmat yang diberikan kepada Nabi Sulaiman, sebagai jawaban dari pada doanya. Pertama: Allah menganugerahkan kepada Sulaiman kekuasaan menundukkan angin. Atas izin Allah, angin berhembus dengan kencang atau gemulai menurut kehendaknya pula.

Allah berfirman: Dan (Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. (al-Anbiya’/21: 81)

Kedua: Allah menganugerahkan kepadanya kemampuan menundukkan setan-setan yang ahli bangunan dan ahli menyelam, yang melakukan tugas sesuai dengan perintah Sulaiman. Apabila ia memerintahkan kepada mereka membangun suatu bangunan seperti gedung-gedung pertemuan istana, benteng pertahanan, atau gedung-gedung tempat menyimpan harta kekayaan Sulaiman dan lain-lain, maka tugas itu dapat mereka selesaikan dalam waktu yang sangat singkat. Apabila Sulaiman memerintahkan mereka untuk mengumpulkan mutiara dan marjan serta kekayaan laut lainnya, tugas itu dapat diselesaikan dengan cepat pula.

Ketiga: Allah menganugerahkan kepadanya kekuasaan menundukkan setan yang menentang perintahnya. Tangan dan kaki mereka terikat dalam belenggu, agar tidak berbahaya kepada yang lain, dan sebagai hukuman atas pembangkangannya.

Kekuasaan yang diberikan Allah kepada Sulaiman untuk menundukkan setan maksudnya adalah kekuasaan untuk menggerakkan mereka melakukan tugas-tugas berat, yaitu tugas membangun gedung-gedung, dan menyelam mengeluarkan kekayaan laut. Namun tidak ada keterangan secara pasti mengenai bagaimana Sulaiman membelenggu setan itu.

Sikap yang paling utama ialah kita menerima keterangan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan untuk mengungkapkan pengertiannya, kita serahkan kepada ilmu pengetahuan.

Tafsir Quraish Shihab: Dan Kami tundukkan pula untuknya setan-setan yang ahli bangunan dan ahli menyelam di kedalaman laut.

Surah Sad Ayat 38
وَءَاخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِى ٱلۡأَصۡفَادِ

Terjemahan: dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu.

Tafsir Jalalain: وَءَاخَرِينَ (Dan setan yang lain) setan-setan yang lainnya مُقَرَّنِينَ (yang terikat) dirantai فِى ٱلۡأَصۡفَادِ (dalam belenggu) yaitu, tangan mereka masing-masing diikatkan ke kepalanya dengan memakai belenggu.

Tafsir Ibnu Katsir: وَءَاخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِى ٱلۡأَصۡفَادِ (“Dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu.”) yaitu diikat dengan rantai dan belenggu bagi siapa yang melanggar, durhaka, enggan dan menolak bekerja atau bagi siapa yang berbuat jahat dan melampaui batas dalam perilakunya.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah menjelaskan beberapa nikmat yang diberikan kepada Nabi Sulaiman, sebagai jawaban dari pada doanya. Pertama: Allah menganugerahkan kepada Sulaiman kekuasaan menundukkan angin. Atas izin Allah, angin berhembus dengan kencang atau gemulai menurut kehendaknya pula.

Allah berfirman: Dan (Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. (al-Anbiya’/21: 81)

Kedua: Allah menganugerahkan kepadanya kemampuan menundukkan setan-setan yang ahli bangunan dan ahli menyelam, yang melakukan tugas sesuai dengan perintah Sulaiman. Apabila ia memerintahkan kepada mereka membangun suatu bangunan seperti gedung-gedung pertemuan istana, benteng pertahanan, atau gedung-gedung tempat menyimpan harta kekayaan Sulaiman dan lain-lain, maka tugas itu dapat mereka selesaikan dalam waktu yang sangat singkat.

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 84; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Apabila Sulaiman memerintahkan mereka untuk mengumpulkan mutiara dan marjan serta kekayaan laut lainnya, tugas itu dapat diselesaikan dengan cepat pula.

Ketiga: Allah menganugerahkan kepadanya kekuasaan menundukkan setan yang menentang perintahnya. Tangan dan kaki mereka terikat dalam belenggu, agar tidak berbahaya kepada yang lain, dan sebagai hukuman atas pembangkangannya.

Kekuasaan yang diberikan Allah kepada Sulaiman untuk menundukkan setan maksudnya adalah kekuasaan untuk menggerakkan mereka melakukan tugas-tugas berat, yaitu tugas membangun gedung-gedung, dan menyelam mengeluarkan kekayaan laut. Namun tidak ada keterangan secara pasti mengenai bagaimana Sulaiman membelenggu setan itu.

Sikap yang paling utama ialah kita menerima keterangan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan untuk mengungkapkan pengertiannya, kita serahkan kepada ilmu pengetahuan.

Tafsir Quraish Shihab: Setan-setan yang lain diikat satu sama lainnya dengan belenggu dan rantai sehinga tidak mengganggu makhluk lain.

Surah Sad Ayat 39
هَٰذَا عَطَآؤُنَا فَٱمۡنُنۡ أَوۡ أَمۡسِكۡ بِغَيۡرِ حِسَابٍ

Terjemahan: Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab.

Tafsir Jalalain: Dan Kami berfirman kepada Sulaiman هَٰذَا عَطَآؤُنَا فَٱمۡنُنۡ (Inilah anugerah Kami; maka berikanlah) maksudnya, berikanlah sebagian daripadanya kepada orang yang kamu sukai أَوۡ أَمۡسِكۡ (atau tahanlah) maksudnya, tidak memberikannya بِغَيۡرِ حِسَابٍ (dengan tiada pertanggungjawaban) tanpa ada hisab bagimu dalam hal ini.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: هَٰذَا عَطَآؤُنَا فَٱمۡنُنۡ أَوۡ أَمۡسِكۡ بِغَيۡرِ حِسَابٍ (“Inilah anugerah Kami; maka berikanlah [kepada orang lain] atau tahanlah [untuk dirimu sendiri] dengan tiada pertanggung jawab.”) yakni apa yang Kami berikan kepadamu ini, berupa kerajaan lengkap dan kekuasaan sempurna sebagaimana yang kamu minta, maka berikanlah kepada siapa saja yang engkau kehendaki dan tahanlah mana saja yang engkau lakukan, maka hal itu boleh bagimu, dan putuskanlah apa saja yang engkau sukai, maka itu adalah benar.

Telah tercantum di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa ketika Rasulullah saw. diminta untuk memilih antara [sebagai] hamba yang Rasul, -yaitu yang melakukan apa saja yang diperintahkan, namun ia sebagai pemimpin yang memutuskan perkara di antara manusia, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah- dan antara sebagai Nabi yang raja, yang dapat memberikan apa saja yang dikehendakinya dan mencegah siapa saja yang dikehendakinya tanpa pertanggungjawaban dan tidak ada kesalahan, beliau memilih kedudukan yang pertama setelah beliau meminta pendapat kepada Jibril yang berkata: “Tawadlu’lah.”

Maka beliau memilih kedudukan yang pertama karena itulah yang paling mulia di sisi Allah dan paling tinggi di akhirat, sekalipun kedudukan yang kedua –yaitu Nabi dan raja adalah kedudukan yang terhormat pula di dunia dan di akhirat. Untuk itu ketika Allah menyebutkan apa saja yang diberikan-Nya kepada Sulaiman di dunia, maka Dia mengingatkan bahwa dia pun memiliki bagian yang besar di sisi Allah pada hari kiamat.

Tafsir Kemenag: Allah selanjutnya menjelaskan bahwa segala macam nikmat itu adalah anugerah yang diberikan-Nya kepada Sulaiman secara khusus. Nikmat itu meliputi kerajaan yang besar, kekayaan yang berlimpah dan kekuasaan yang tak pernah diberikan kepada yang lain. Nikmat-nikmat itu dianugerahkan kepadanya agar digunakan sebagaimana mestinya.

Allah menandaskan bahwa nikmat-nikmat itu diberikan kepada Sulaiman tanpa pertanggungjawaban, karena Sulaiman telah diberi kemampuan untuk mengendalikan segala macam nikmat itu.

Tafsir Quraish Shihab: Allah mewahyukan kepadanya, “Sesungguhnya yang Kami berikan kepadamua adalah anugerah Kami. Maka berikanlah dan cegahlah orang yang kamu kehendaki. Tidak ada dosa bagimu untuk memberikan dan menahannya.”

Surah Sad Ayat 40
وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٍ

Terjemahan: Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

Tafisr Jalalain: وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٍ (Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik) penafsiran Ayat ini sebagaimana yang telah lalu.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَـَٔابٍ (“Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.”) yaitu di negeri akhirat.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah menjelaskan bahwa di samping kemuliaan yang telah dicapainya di dunia, yang sangat menakjubkan itu, ia akan dilimpahi karunia yang lebih nikmat lagi dan kedudukannya yang lebih mulia.

Allah menjanjikan kepadanya bahwa ia akan dimasukkan dalam deretan hamba-hamba-Nya yang mempunyai kedudukan yang sangat dekat kepada Allah, yaitu kedudukan yang diperoleh para rasul dan nabi, tempat kembali yang baik yaitu surga Na’im yang penuh dengan segala macam kenikmatan.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya di sisi Kami, Sulaimân mempunyai kedudukan yang agung dan tempat kembali yang baik.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Sad Ayat 34-40 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S