Mengenal Pemikiran Al Kindi dalam Memadukan Filsafat dan Agama

filsafat dan agama

Pecihitam.org,- Filsafat dan Agama, ketika dua kata ini dicoba untuk dipadukan mungkin tak semua orang akan setuju, bahkan beberapa kalangan tertentu memang beranggapan bahwa antara filsafat dan agama sama sekali haram untuk dikait kaitkan bahkan disatupadankan. Mengapa? Karena bagi mereka filsafat adalah ilmu yang berbahaya, ilmu yang dapat merusak akidah seseorang, dan lain sebagainya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Namun sebaliknya, beberapa tokoh malah beranganggap bahwa antara Filsafat dan Agama saling berhubungan, saling berkaitan dan saling melengkapi, dan salah satu tokoh yang sangat berkontribusi dalam penyatuan dua disiplin ilmu ini adalah Abu Yusuf Al Kindi.

Tentu dalam memadukan dua hal besar ini (antara filsafat dan agama) bukanlah perkara yang mudah melainkan perlu intelektual yang begitu tajam dan pengetahuan yang luas, baik itu dari segi Ilmu Agama maupun Ilmu Filsafat.

Pandangan Al Kindi Terkait Filsafat dan Agama

Sebagai seorang Filsuf terlebih berdiri sebagai Filsuf Islam, tentu Al Kindi tidak diam begitu saja ketika Filsafat dan Agama dianggap bertentangan. Bagaimana mungkin Agama yang berlandaskan pada wahyu sedangkan filsafat yang berlandaskan pada akal dijadikan sebagai perbandingan?

Baca Juga:  Memahami Ahlul Halli Wal Aqdi dalam Tinjauan Fikih dan Wewenangnya di Era Modern

Jelas ini merupakan permainan kata-kata yang dipaksakan untuk menjatuhkan satu diantaranya, jika bukan pada Filsafat tentu pada agama. Sedangkan faktanya? Antara agama dan filsafat adalah dua kosa kata yang saling berhubungan dan berkaitan.

Bagi Al Kindi sendiri, Antara wahyu dan akal merupakan Ilmu tentang kebenaran. Sedangkan kebenaran itu adalah satu (tidak banyak). Baginya Ilmu filsafat adalah Ilmu yang telah melingkupi terkait masalah Ketuhanan, keesaan-Nya, dan keutamaan serta ilmu ilmu selain yang mengajarkan bagaimana jalan jalan memperoleh apa apa yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa apa yang mudharat. Dan perihal tersebut sama, tentang apa yang dibawa oleh para Rasul Allah dan juga menetapkan keesaan Allah.

Dalam menguatkan pandangan beliau terkait Filsafat yang baginya halal bagi umat Islam, beliau mengangkat beberapa Ayat Al Qur’an sebagai dalil guna menghubungkan antara keduanya, diantaranya ialah;

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS. Al Baqarah [2]: 164)

Tentu pada ayat diatas telah mendorong kita sebagai manusia guna meresapi akan betapa besarnya tanda tanda kekuasaan Allah, jikalau kita memang termasuk orang orang yang berpikir, dan berpikir inilah yang dimaksud sebagai proses pencarian kebenaran (berfilsafat) yakni pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu.

Baca Juga:  Siapa yang Sebenarnya Lebih Pantas Disebut Thaghut?

Lantas mengapa kita masih berpikir bahwa filsafat adalah disiplin Ilmu yang berbahaya? Bagaimana mungkin kita memahami ayat ayat suci tanpa harus berpikir?

Jikalau setiap hari kita mencari dan berpikir tentang hakikat kebenaran, tentu secara tidak langsung kita sudah berfilsafat bukan? Hanya saja dalam kerangka berpikir itu kita tidak menamainya dengan berfilsafat, padahal filsafat itu sendiri dapat diartikan paling tidak sebagai kerangka berpikir dalam mencari kebenaran.

Dalam perpaduan Filsafat dan Agama yang dipaparkan oleh Al Kindi, beliau memaparkan tiga alasan terkait perpaduan tersebut, yakni

  • Pertama, Ilmu Agama merupakan bagian dari Filsafat
  • Kedua, wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan kebenaran Filsafat saling bersesuaian
  • Ketiga, menuntut Ilmu, secara logika, diperintahkan dalam agama. (M.M.Syarif, History, hlm. 425)
Baca Juga:  Upaya Al-Kindi Menerjemahan Filsafat Yunani Kuno ke dalam Islam

Sehingga dapat disimpulkan bahwasanya Al Kindi berpandangan bahwa antara filsafat dan agama saling berkaitan, karena sejatinya wahyu hanya akan dapat dipahami lewat akal (kerangka berpikir).

Namun, dalam hal ini bukan berarti Al Kindi telah memasukkan Filsafat ke dalam dunia Islam dari pintu depan serta mengusir atau mendorong Agama dari pintu belakang.

Itulah sekilas pandangan Al Kindi terkait perpaduan antara filsafat dan Agama. Semoga bermanfaat!

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *