Surah An-Nahl Ayat 63-65; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Nahl Ayat 63-65

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Nahl Ayat 63-65 ini, memperkenalkan al-Quran sebagai kitab hidayah. Sebuah kitab yang dipersiapkan untuk menuntun manusia menuju kebahagiaan dan menyelamatkan mereka. Dengan al-Quran manusia dapat meraih rahmat ilahi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sama halnya dengan diturunkannya Al-Qur’an. Sesungguhnya dalam kejadian diturunkannya air hujan dan ditumbuhkannya tanam-tanaman, benar-benar terdapat bukti petunjuk atas kuasa Allah untuk membangkitkan (yang sudah mati) dan (menunjukan) sifat keesaanNya bagi kaum yang mau mendengar dengan baik, merenung, taat kepada Allah dan bertakwa kepadaNya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl Ayat 63-65

Surah An-Nahl Ayat 63
تَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Terjemahan: Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.

Tafsir Jalalain: تَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ (Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus kepada umat-umat sebelum kamu) telah mengutus rasul-rasul Kami فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ (tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka) yang buruk itu sehingga perbuatan-perbuatan mereka yang buruk itu dilihatnya baik, Oleh karenanya mereka mendustakan rasul-rasul.

فَهُوَ وَلِيُّهُمُ (maka setan menjadi pemimpin mereka) yang mengatur urusan-urusan mereka الْيَوْمَ (di hari itu) yakni di dalam kehidupan dunia, وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (dan bagi mereka azab yang sangat pedih) yang sangat menyakitkan kelak di hari kemudian. Menurut suatu pendapat dikatakan bahwa makna yang dimaksud dengan hari ini ialah hari kiamat.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia telah mengutus beberapa orang Rasul kepada umat-umat terdahulu. Tetapi umat-umat itu justru mendustakan mereka. Dan kamu, hai Muhammad, akan menjadi suri tauladan bagi saudara-saudaramu dari kalangan para Rasul. Oleh karena itu, janganlah pendustaan kaummu terhadapmu menjadikan dirimu gentar.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 24-25; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Adapun orang-orang musyrik yang mendustakan para Rasul, maka sesungguhnya yang membuat mereka berbuat seperti itu adalah tindakan syaitan yang membuat apa yang mereka kerjakan itu terlihat baik.

فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ (Maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu.) Maksudnya, mereka berada di bawah siksaan dan tekanan, sedang syaitan-syaitan itu menjadi pemimpin mereka, padahal syaitan-syaitan itu tidak bisa menjadi penyelamat bagi mereka dan bagi mereka adzab yang sangat pedih.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah swt bersumpah dengan nama-Nya sendiri bahwa Dia sungguh telah mengutus banyak rasul kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad. Para rasul itu mengajak mereka untuk beriman dan beribadah kepada Allah swt. Akan tetapi, umat-umat itu telah tertipu oleh tipu daya setan sehingga mereka menyangka perbuatan-perbuatan mereka baik, padahal sebetulnya perbuatan jahat. Setan itulah akhirnya yang menjadi teman mereka, dan akan menemani mereka masuk ke dalam neraka.

Surah An-Nahl Ayat 64
وَمَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Terjemahan: Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Tafsir Jalalain: وَمَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ (Dan Kami tidak menurunkan kepadamu) hai Muhammad الْكِتَابَ (Alkitab ini) Alquran ini إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ (melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu) yaitu tentang perkara agama.

وَهُدًى (dan menjadi petunjuk) diathafkan kepada lafal litubayyina. وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (dan rahmat bagi kaum yang beriman) kepada Alquran itu.

Baca Juga:  Surah Yasin ayat 20-25; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya bahwa diturunkannya Kitab kepadanya adalah agar dia menjelaskan kepada umat manusia yang berbeda pendapat tentangnya. Jadi, al-Qur’an merupakan penengah di antara umat manusia dalam setiap aka yang mereka perselisihan.

وَهُدًى (Dan petunjuk) yakni, bagi hati; وَرَحْمَةً (serta rahmat) bagi yang berpegang teguh padanya; لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (Bagi orang-orang yang beriman.) Sebagaimana Allah telah menjadikan al-Qur’an sebagai penghidup bagi hati yang mati karena kekufurannya. Demikian halnya Dia telah menghidupkan bumi setelah matinya melalui air yang Dia turunkkan dari langit.

Tafsir Kemenag: Allah swt menjelaskan fungsi Al-Qur’an, yaitu sebagai dasar dan pedoman yang dapat membuka pikiran mereka untuk dapat menilai kebenaran bimbingan wahyu. Allah swt menjelaskan bahwa Dia menurunkan kitab kepada Nabi Muhammad saw untuk dijadikan bimbingan bagi para umatnya.

Juga agar Nabi saw dapat menjelaskan persoalan-persoalan yang mereka ragukan atau tidak percayai, sehingga mereka dapat melihat mana yang hak dan mana yang batil, mana yang benar dan mana yang salah.

Di samping itu, Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk yang dapat membimbing umatnya kepada kebenaran sehingga terhindar dari kesesatan. Al-Qur’an juga berfungsi sebagai rahmat Allah terbesar kepada hamba yang mau beriman. Dengan berpedoman kepada Al-Qur’an, mereka akan terbimbing dalam hidup di dunia dan akan berbahagia di dunia dan di akhirat.

Surah An-Nahl Ayat 65
وَاللَّهُ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

Terjemahan: Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).

Tafsir Jalalain: وَاللَّهُ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ (Dan Allah menurunkan dari langit air hujan dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi) dengan tumbuh-tumbuhan بَعْدَ مَوْتِهَا (sesudah matinya) dimaksud sesudah mengalami kekeringan.

Baca Juga:  Surah Ali Imran Ayat 30-37; Seri Tadabbur Al Qur'an

إِنَّ فِي ذَلِكَ (Sesungguhnya pada yang demikian itu) dalam hal yang telah disebutkan itu لَآيَةً (benar benar terdapat tanda) yang menunjukkan adanya hari berbangkit لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ (bagi orang-orang yang mendengarkan) dengan pendengaran dibarengi dengan pemikiran.

Tafsir Ibnu Katsir: إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ (Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda [kekuasaan] bagi orang-orang yang mendengarkan) Yakni, orang-orang yang memahami makna pembicaraan.

Tafsir Kemenag: Allah swt mengajak para hamba-Nya untuk memperhatikan dalil dan bukti yang menunjukkan kebenaran bahwa Allah swt itu Maha Esa dan Dialah yang berhak dipertuhan dan pantas disembah. Dalam hal ini,

Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menurunkan hujan dari langit, yang dibutuhkan berbagai macam tanaman di permukaan bumi. Andaikan tidak ada hujan, tentulah bumi itu menjadi kering, tandus, dan tak mungkin ditumbuhi oleh tanam-tanaman dan rerumputan.

Hal itu menunjukkan bahwa Allah berkuasa menghidupkan tanah dan menyuburkannya setelah tidak adanya tanda-tanda kehidupan. Orang-orang yang memperhatikan kejadian itu tentu akan melihat bukti-bukti yang jelas dan tanda yang pasti tentang adanya Allah Yang Mahakuasa.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Nahl Ayat 63-65 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S