Albani; Ulama Salafi Wahabi yang Mengkafirkan Imam Bukhari

Albani; Ulama Salafi Wahabi yang Mengkafirkan Imam Bukhari

PeciHitam.org – Sudah banyak sekali di bahas di dalam Website ini mengenai bagaimana model propaganda Salafi Wahabi dalam melakukan tuduhan yang tidak berdasar kepada amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Salah satu Ulama panutan mereka, yaitu Nashiruddin al-Albani bahkan sampai berani mengatakan bahwa hadis yang ada dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim belum bisa dikatakan shahih jika belum mendapatkan komentar dari dia.

Lebih dari itu, Albani bahkan berani mengatakan bahwa salah satu pendapat Imam Bukhari tidak keluar dari seorang Muslim yang beriman. Bagaimana detailnya? Mari kita bahas.

Albani Merasa Lebih Baik dari Para Imam Ahli Hadis

Mengenai hal ini, kita bisa membaca pernyataan Albani dalam kitabnya Shahih al-Kalam ath-Thayyib li Ibni Taimiyyah, pada halaman 4, cetakan ke-4 tahun 1400 H:

“Aku nasihatkan kepada setiap orang yang membaca buku ini (Shahih al-Kalam ath-Thayyib) atau buku yang lainnya, untuk tidak cepat-cepat mengamalkan hadis hadis yang ada di dalam buku buku tersebut, kecuali setelah benar benar menelitinya. Aku telah memudah kan jalan tersebut kepada kalian dengan komentar komentar yang aku berikan. Jika hal itu (komentar dariku) ada, barulah dia mengamalkan hadis itu dan menggigit gerahamnya. Jika tidak ada (keterangan dariku), maka tinggalkanlah hadis-hadis itu.”

Lihatlah, bagaimana Albani memposisikan dirinya sebagai ahli hadis mumpuni melebihi ulama hadis terdahulu. Dia melarang kita untuk mengamalkan hadis shahih dari para imam (semisal Bukhari, Muslim, Tirimidzi, dan lain lain), kecuali setelah dikomentari oleh al-Albani bahwa hadis-hadis itu adalah hadis-hadis shahih.

Baca Juga:  Imam Bukhari: Sang Pembela Ahlussunnah wal Jamaah

Jika tidak dikatakan shahih oleh Albani, maka tinggalkanlah hadis hadis tersebut. Masyaallah, hebat sekali keilmuannya, sehingga melebih para imam hadis terdahulu yang hidup Jebih dekat kepada masa Rasulullah, jauh berabad-abad dari masa hidupnya yang di abad ke-20 M.

Untuk lebih memastikan kehebatan dirinya, dia mengatakan, jika seseorang mendapati hadis-hadis shahih di dalam kitab Shahih Bukhari maupun Shahih Muslim, maka orang sebut jangan mengatakan, “Rujuklah hadis tersebut di dalam kitab Shahih Bukhari nomor segini dan kitab Shahih Muslim nomor segitu. Tetapi katakanlah, ‘Lihatlah hadis di dalam kitab Shahih al-Kalam ath-Thayyib atau -kitab lain yang telah ditahkik al-Albani.

Bukan hanya itu, dia juga mendidik murid muridnya untuk selalu taqlid (membebek) kepada diri dan menghindari ulama lain. Bukankah Salafi Wahabi mengharamkan taklid kepada para imam madzhab? Tapi kenapa makin kesini menyuruh pengikutnya untuk taklid kepada ulama mereka?

Baca Juga:  Kalimat "Kamu Percaya Nabi atau Kyai?" Propaganda Wahabi Yang Berbahaya

Albani Mengkafirkan Imam Bukhari

Dalam kitabnya yang berjudul Fatawa al-Albani, dia begitu jelas mengkafirkan Imam Bukhari. Dalam Fatawa-nya itu disebutkan, ada seorang yang bertanya tentang hakikat Imam Bukhari yang telah mentakwil firman “Kullu syai in hâlikun illà wajhahu” (Segala sesuatu binam kecuali wajah-Nya) (QS. 28:88) dengan “Kullu syai’in hålikun illâ mulkuhu” (Segala sesuatu binasa kecuali kerajaan-Nya).

Dikatakan juga, Imam Bukhari pernah mengatakannya ‘Segala sesuatu binasa kecuali apa yang dikehendaki Allah (dan bukan kecuali ‘wajah’ Allah)’. Dalam riwayat Muammar tertulis Imam Bukhari mentakwiltya dengan kata, “Kullu syai in hâlikun illâ huwa” (Segala sesuatu binasa kecuali Dia). Kemudian, orang itu bertanya, “Bagaimana jawaban Anda, ya Syaikh?” Albani menjawab:

يا أخي هذا لا يقوله مسلم مؤمن

“Wahai saudara, takwilan ini tidak dituturkan oleh seorang muslim yang beriman.”

Tentang takwilan Imam bukhari ini sudah menjadi maklum adanya bagi kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebab, hal itu memang sejalan dengan akidah umat Islam yang lurus dan benar.

Hal itu sekaligus juga membuktikan bahwa Imam Bukhari juga mentakwil ayat-ayat mutasyabihat semacam itu, sama dengan para pendahulu nya, yaitu para Salafus Shalih.

Inilah salah satu bukti bahwa tradisi penakwilan teks agama yang mutasyabihat sudah ada sejak zaman Rasulullah dan para sahabatnya.

Baca Juga:  Hati-Hati!! Kitab Riyadush Sholihin Disusupi Pemahaman Wahabi, Ini Buktinya

Bagaimana mungkin al-Albani berani melontarkan pengkafiran kepada Imam Bukhari dan mendakwa beliau tidak beriman? Siapa sebenarnya yang sesat dan keluar dari golongan mayoritas?

Untuk itu, perlu kiranya bagi kita untuk berhati hati dalam memilih guru untuk belajar. Perlu di ingat bahwa jika menemukan sebuah hadis yang terdapat tulisan disahihkan oleh Albani, maka kita harus mencari sumber aslinya terlebih dahulu.

Mohammad Mufid Muwaffaq