Tidak Berbeda dengan Yahudi, Wahabi Juga Menyamakan Allah dengan Makhluk

Tidak Berbeda dengan Yahudi, Wahabi Juga Menyamakan Allah dengan Makhluk

PeciHitam.org Penolakan penggunaan dalil Aqidah mayoritas Ulama (Aqidah Asy’ariyah – Maturidiyah) dalam memahami masail at-Tauhidiyah, menunjukan salafi wahabi membuat arus teologi sendiri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Usaha-usaha penolakan salafi wahabi terhadap takwil semakin menguatkan argumentasi bahwa golongan tersebut bukan Ahlussunnah wal Jamaah.

Bahkan ketika disamakan dengan model aqidah orang Yahudi, keyakinan salafi wahabi memiliki kemiripan konsep. Sebagaimana konsep Tajsim atau Tajassum (Sifat Bentuk Jasad) yang menyerupai keyakinan orang Yahudi kepada Tuhan. Allah disifati memiliki anggota badan yang menjadikan Tashawwur (penggambaran) terhadap wujud kasar atau fisik. Berikut Ulasannya!

Pensucian Allah SWT dari Tajsim dalam Sunni

Allah SWT adalah dzat tersempurna yang menguasai alam semesta yang terbatas oleh ruang dan waktu. Bahwa ruang dan waktu adalah makhluk Allah SWT, sedangkan Allah mustahil sama dengan makhluknya.

Oleh karenanya dalam kitab-kitab Tauhid Sunni, seperti Kitab Tijan Ad-Durari, ‘Aqidah al-Awam, ‘Aqidah Al-Kubra Allah disifati dengan mukhalafatu lil hawadits.

Makna mukhalafatu lil Hawadits yaitu ketidak-samaan Dzat Allah SWT dengan makhluk yang  memiliki batasan ruang dan waktu. Sedangkan Allah adalah Khalik, Sang Pencipta yang menciptakan seluruh Makhluk termasuk Ruang dan Waktu. Oleh karenanya dalam memahami teks al-Qur’an, terkait sifat Allah yang menggunakan kosa kata Jism golongan Sunni melakukan takwil.

Sifat dasar sebuah kata kadangkala memiliki keterbatasan dalam menerangkan makna. Pemahaman Sunni terhadap surat al-Qashash ayat 88 dengan redaksi,

Baca Juga:  Kitab "Hadzihi Mafahimuna", Narasi Sesat Wahabi (Bagian I)

وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا إِلَهَ إِلا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٨٨

Artinya; “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Qs. Al-Qashash: 88)

Diartikannya kata ‘إِلا وَجْهَهُ’ dengan pemaknaan takwili guna menghindari Tashawwur (penggambaran dan penyamaan dengan makhluk). Maknanya menjadi إِلا وَجْهَهُ’-Kecuali KekuasaanNya, sebagaimana pendapat Imam Bukhari. Jika mengikuti alur pendapat salafi wahabi maka akan tetap dimaknai dengan kata ‘Kecuali Wajah-Nya (Allah SWT).

Konsep utama dalam alur pemikiran Sunni ketika menerima takwil adalah menghindarkan Allah SWT dari Bayangan Makhluk yang tergambar dalam benak pikiran Muslim. Jika menggunakan makna Mu’jami akan sangat sulit menempatkan Allah SWT sebagai dzat yang berbeda dengan MakhlukNya, apalagi untuk orang awam.

Baca Juga:  Kisah Menarik Antara Habib Sholeh dengan Seorang Wahabi Congkak

Kemiripan Salafi Wahabi dengan Yahudi

Kemiripan akidah yang diyakini oleh tokoh-tokoh salafi wahabi bukan isapan jempol belaka. Hanya saja golongan ini dengan sangat baik melakukan taqiyyah (pembohongan publik, penghindaran) ketika menjelaskan tentang Aqidah mereka.

Contoh dalam sederhana dalam masalah penyerupaan Allah SWT dengan makhluknya tercantum dalam kitab Masail Imam Ibnu Baz. Bahwa dalam tanya jawab nomor 36 disebutkan;

سألت شيخنا عن الحديث إثبات الاصابع الله، هل هو للحصر، وان الاصابع خمس؟

الجواب: نعم: لان الاصابع استوعبت الخلائق

Artinya; ‘Aku Bertanya kepada Syaikh kami (Ibnu Baz) tentang ketetapan Jari-jari Allah SWT, apakah jari Allah berjumlah 5? Dan jawabannya; Benar, karena jari sudah mencakup semua Makhluk Allah.

Maka simpulan dari pertanyaan dan jawaban di atas, golongan salafi wahabi memiliki 5 jari sebagaimana kebiasaan Manusia, MakhlukNya. Tidak hanya sampai pada simpulan tersebut, orang salafi wahabi sangat identik dengan pemahaman Yahudi dari segi penyamaan Allah dengan MakhlukNya. Kitab Safarul Mulk milik Yahudi diterangkan;

ﻭ ﻗﺎﻝ ﻓﺎﺳﻤﻊ ﺇﺫﺍً ﻛﻼﻡ ﺍﻟﺮﺏ ﻗﺪ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﺮﺏ ﺟﺎﻟﺴﺎ ﻋﻠﻰ ﻛﺮﺳﻴﻪ ﻭ ﻛﻞ ﺟﻨﺪ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻭﻗﻮﻑ ﻟﺪﻳﻪ ﻋﻦ ﻳﻤﻴﻨﻪ ﻭ ﻋﻦ ﻳﺴﺎﺭﻩ

Baca Juga:  Betulkah Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab "Bertaubat" Di Akhir Hayatnya?

Artinya; ‘Dan berkata “Dengarkanlah, ucapan Tuhan, aku telah melihat Tuhanku duduk di atas kursinya dan semua pasukan langit berdiri di hadapannya dari sebelah kanan dan kirinya”.

Kesamaan dengan Aqidah salafi wahabi tergambar dalam kitab Majmu Fatawa karya Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyyah. Redaksinya sebagai berikut;

ﺇﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺠﻠﺴﻪ ﺭﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﻣﻌﻪ

Artinya; “Sesungguhnya Muhammad Rasulullah didudukkan Allah di atas Arsy bersama Allah SWT”

Kesamaan terhadap dua kitab rujukan Yahudi (Kitab Safarul Mulk) dan kitab pegangan salafi wahabi, Majmu’ Fatawa sedikit memberi penggambaran bahwa salafi wahabi memiliki kemiripan bahkan identik dengan Aqidah Yahudi.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan