Jika Memang Ajarannya Benar, Mengapa Malu Dipanggil Wahabi?

Mengapa Malu Dipanggil Wahabi

Pecihitam.org – Salah satu hal menarik dari para pengikut dan fanatik Wahabi terutama yang ada di Indonesia adalah, mereka tidak suka dan malu disebut sebagai Wahabi. Mereka lebih mengaku dan senang dipanggil sebagai salafi meski ternyata jauh sekali dari akhlak salafunas sholih bahkan cenderung untuk memisahkan diri dari pemahaman mayoritas para ulama’.

Jika memang ajaran yang di pelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab itu benar, bersih dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw, mengapa mesti malu ketika ada orang lain yang memanggil mazhab anda sebagai Wahabi?

Bukankah seharusnya anda bangga di panggil dengan sebutan wahabi yang merupakan nama dari pendiri manhaj anda yang menurut fakta sejarah adalah buatan Inggris Britania. Dibuat untuk menghancurkan islam dari dalam, karena memang untuk menghancurkan islam dari luar adalah tidak mungkin.

Atau, rasa malu tersebut karena sejarah kelam berdirinya aliran yang suka sekali membid’ahkan amalan orang yang tak sesuai dengan Wahabi ini? Apalagi ketika ada orang yang mengetahui bahwa asal mula berdirinya aliran Wahabi ini bersimbah darah para ulama dan penduduk muslim najd.

Ulama dan penduduk yang mereka bunuh itu juga mengucapkan kalimat syahadat dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Wahabi membantai seluruh muslim yang tak mau mengakui dan masuk ke aliran mereka yang mengatakan Allah berada di langit dan memiliki anggota tubuh. Selain membantai ulama, mereka juga membunuh perempuan dan anak-anak, teramat sadis.

Baca Juga:  Saudi Melakukan Deradikalisasi, Lalu Bagaimana Masa Depan Salafi Wahabi?

Kini, berbaga macam cara mereka lakukan untuk menyembunyikan ke” Wahhabian ” mereka, untuk menyembunyikan hitam kelamnya sejarah sekte mereka. Dan salah satunya dengan merubah nama mazhab Wahabi dengan nama Salafi. Kemudian mengatakan kelompok lain dengan tuduhan Syiah yang menciptakan gelar Wahabi dengan cara licik.

Kemudian, cara lain untuk menutupi aib dari sejarah kelam pendirinya adalah dengan memutar balikkan fakta bahwa nama Wahabi adalah salah satu sifat Allah, dan pendirinya bernama Muhammad. Tapi alangkah lucunya, jika pendirinya bernama Muhammad seharusnya nama alirannya adalah Muhammadi bukan Wahabi, yang bernama Wahab itu adalah kakeknya.

Ini tentu argumentasi yang kontradiktif, mereka mungkin tidak tau atau pura-pura tidak tau tentang adat budaya dalam Bangsa Arab tentang penisbatan nama. Nama dalam bangsa Arab biasa di nisbatkan kepada ayah, kakek dan seterusnya.

Contohnya Imam Syafi’i, nama mahzab beliau adalah mahzab Syafi’i, padahal nama beliau adalah Muhammad bin Idris. Dan tidak ada satupun sampai saat ini pengikut mahzab Syafi’i yang protes dengan penamaan tersebut.

Baca Juga:  Imam Bukhori Pun Dianggap Bukan Muslim oleh Albani

Begitu pula madzhab Hanbali nama pendiri nya adalah Ahmad Bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris. Dan tidak ada dari pengikutnya protes lalu mengganti dengan nama Madzhab Ahmadi.

Kemudian untuk menutupi aib ajaran mereka yang memang sudah salah kaprah sejak awal berdirinya, mereka mengatakan bahwa penisbatan nama Wahabi bukan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab namun kepada Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum.

Lho, apa mereka tidak pernah belajar sejarah atau membaca kitab? Abdurrahman bin Rustum adalah pendiri ajaran Wahbiyyah ( Abad 2 Hijriah ) sedangkan Abdul Wahab adalah pendiri Wahhabiyyah ( Abad 12 Hijriah ). Perbedaan keduanya sangat jauh sekali.

Mbok ya sudah,, kalau memang mengikuti ajaran Wahabi dan merasa ajaran mereka itu benar, ya diterima saja dan jangan malu jika ada orang lain memanggil dengan sebutan Wahabi.

Bukankah Ulama-ulama wahhabi sendiri juga mengakui bahwa ajaran mereka adalah bernama ” Wahabi ” dan di pelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Apa cuma jamaah Wahabi Indonesia saja yang sangat malu di panggil Wahabi, atau kenapa?

Para petinggi Wahabi yang bangga dengan kewahhabiannya misalnya Syeikh bin Baz. Dalam kitab Fatawa Nur ‘ala al-darb ia mengatakan,

Baca Juga:  Inilah Sejarah "Hitam" Kaum Salafi Wahabi

“Penamaan tersebut mahsyur untuk ulama tauhid yakni ulama Najd, mereka menisbahkan para ulama tersebut kepada Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab”

“Nama itu ( Wahhabiyyah ) adalah panggilan yang sangat mulia dan sangat agung”.

Ahmad bin Hajar al Bhutami bin Ali Dalam kitab Muhammad bin Abdul Wahhab aqidatuhus salafiyyah wa da’watuhul islamiyyah menamakan dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab dengan istilah “Wahhabiy” pada halaman 78-79

“Mereka kaum muslimin al wahabiyah mampu mendirikan daulah islamiyah dengan azas dari pokok-pokok alwahabiyyah”

Jadi masihkah malu dipanggil dengan sebutan Wahabi? Jika ragu, maka kembalilah ke ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yang sesungguhnya. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG