Inilah Tiga Amalan Yang Sepadan dengan Ibadah Haji

Tiga Amalan Yang Sepadan Dengan Ibadah Haji

Pecihitam.org – Ada sebagian orang yang tidak mampu menunaikan ibadah Haji tetapi mereka memaksakan dirinya untuk berangkat ke Baitullah untuk menunaikan ibadah Haji. Walaupun bekal yang mereka miliki belum seutuhnya mumpuni.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 97 yang berbunyi :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّا سِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْـَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً

Artinya: “Menunaikan ibadah Haji ialah kewajiban manusia kepada Allah swt, yaitu bagi orang yang mampu melakukan perjalanan ke Baitullah”

Dalam Tafsir Ibnu Mas’ud di jelaskan bahwasannya Dari Nabi saw bahwa beliau ditanya, “apa yang dimaksud سَبِيْلا (Perjalanan) ?” Beliau menjawab, “Orang yang memiliki bekal dan kendaraan”, Dari ibnu Al-Jauzi yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar (dan lain-lainnya).

Dari Tafsir diatas, bahwasannya jika seseorang yang belum memiliki bekal dan kendaraan, alangkah baiknya menunda dulu untuk pergi ke Baitullahnya, sampai benar-benar memiliki bekal dan kendaraan.

Dalam hal ini seseorang yang belum bisa berangkat ke Baitullah bisa mengerjakan Amalan-amalan yang pahalanya sepadan dengan ibadah Haji. Berikut tiga Amalan yang pahalanya sepadan dengan ibadah Haji :

1. Shalat Subuh berjamaah, dilanjutkan dengan beri’tikaf sampai matahari terbit (masuk waktu Dhuha)

Sebagaimana penggalan Hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmizdi:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِحَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ, قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Baca Juga:  Rasulullah Menjunjung Tinggi Hak-hak Perempuan dalam Islam

Artinya : “Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat Subuh berjamaah kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, lalu ia shalat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah’. ” setelah itu dia berkata, “Rasulullah saw bersabda, “sempurna, sempurna dan sempurna”.”

Dalam kitab Fathul Qorib disebutkan ada dua syarat dalam Beri’tikaf yaitu Niat beri’tikaf dan berdiam diri dalam masjid.

Dalam beri’tikaf nazdar tidak diperbolehkan keluar dari masjid kecuali ada beberapa alasan tertentu seperti buang hajat, karena uzdur haid dan nifaf (bagi perempuan), dan sakit yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan beri’tikaf.

Kemudian dalam beri’tikaf dikatakan batal apabila melakukan wathi (berhubungan intim).

2. Mengerjakan Shalat Fardhu di masjid

Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud :

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ, مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ  كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لَا يَنْصِبُهُ إِلَّا إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ  كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ وَصَلَاةٌ عَلَى أَثَرِصَلَاةٍ لَا لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِي عِلِّيِّينَ

Artinya : Dari Abu Umamah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk megerjakan shalat Fardhu di masjid, maka pahalanya seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji. Barangsiapa yang keluar untuk mengerjakan shalat sunah Dhuha, dan dia tidak berusaha, kecuali untuk mengerjakannya, maka pahalanya seperti pahala orang yang menunaikan ibadah umrah. Suatu shalat ke shalat lainnya, di antara keduanya tidak diselingi dengan perkataan yang sia-sia, maka pahalanya tertulis di surga ‘Illiyyiin. ” 

3. Dzikir setelah shalat

Baca Juga:  Teks Lengkap Ijab Kabul Dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab

Dzikir bisa juga di artikan membasahi lidah dengan mengucap kalimat – kalimat keagungan Allah swt. Zdikir biasanya dilaksanakan setelah mengerjakan shalat lima waktu, tetapi pada dasarnya zdikir bisa dilaksanakan kapan pun dan dimana pun, kecuali karena sebab-sebab tertentu.

Dalam sebuah penggalan Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, bahwasannya zdikir yang dilaksanakan setelah shalat lima waktu mempunyai pahala yang sepadan dengan pahala orang yang menunaikan ibadah haji. Sebagaimana hadits berikut :

فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَاوَيَعْتَمِرُونَ وَيُجَاهِدُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ, قَالَ أَلَا أُحَدِّثُكُمْ إِنْ أَخَذْتُمْ أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ بَعْدَكُمْ وَكُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ إِلَّا مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ وَ تُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلَا ةٍ ثَلَا ثًا وَ ثَلَا ثِينَ

Artinya : Namun mereka memiliki kelebihan disebabkan harta mereka, sehingga mereka dapat menunaikan ‘ibadah haji dengan harta tersebut, juga dapat melaksnakan ‘umrah bahkan dapat berjihad dan bersedekah.” Maka beliau pun bersabda: “ Maukah kalian semua saya beritahu sesuatu yang apabila dikerjakan bisa melampaui derajat orang-orang yang sudah mengungguli kalian sebelumnya, dan tidak akan ada yang dapat mengalahkan kalian dengan amal ini, sehingga kalian bisa menjadi orang yang terbaik di antara kalian dan di tengah-tengah mereka, kecuali apabila ada orang yang mengerjakan seperti yang kalian amalkan ini. Yaitu kalian membaca kalimah Tasbih (Subhaanaallah), membaca kalimah Tahmid (Alhamdulillah) dan membaca kalimah Takbir (Allahu Akbar) setiap selesai mengerjakan shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.”

Diatas merupakan tiga amalan yang pahalanya sepadan dengan menunaikan ibadah Haji. Semoga pembahasan diatas dapat memotivasi umat Islam untuk melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. والله اعلم

Baca Juga:  Untuk Apa Kita Berdoa Jika Kesulitan Hidup Tidak Teratasi?

Penulis: Muhammad Ali Mas’ud (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan belajar Agama di Pondok Pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-Ien)

Redaksi