Analis Palestina: Arab Saudi Cinta Donald Trump dan Netanyahu

Pecihitam.org – Pekan ini Arab Saudi memulai sidang atas mereka bersama sejumlah warga Yordania. Sebelumnya, pada tahun 2019 Arab Saudi menangkap sekira 20 warga Palestina.

Adapun warga Palestina yang ditangkap tersebut adalah Muhammad al-Khudri (mantan penghubung Hamas-Saudi), putranya Hani, dan Abu Ubaidah al-Agha (seorang pengusaha Palestina).

Pemerintah Saudi mendakwa mereka dengan tuduhan afiliasi kepada badan teroris atau dukungan terhadap terorisme.

Pengadilan yang dilakukan Saudi terhadap warga Palestina ini memicu gelombang kritik dari tokoh dan kelompok perlawanan Palestina.

“Kami adalah kelompok perlawanan. Namun Saudi saat ini memerangi orang-orang yang membela al-Quds,” ujar Ali Barakah, anggota Humas kelompok Hamas dalam wawancara dengan stasiun al-Masirah, dilansir dari Liputan Islam, Selasa, 9 Maret 2020,

Baca Juga:  Sudan-Israel Gelar Pertemuan Rahasia, Saeb: Itu 'Tikaman dari Belakang" Terhadap Rakyat Palestina

“Kami sudah berhubungan langsung dengan perangkat intelijen Saudi. Namun mereka mengaku bahwa pembebasan para tahanan Hamas berada jauh di atas wewenang mereka. Kami juga berupaya mencari mediasi melalui pihak-pihak Arab, tapi kami dikejutkan dengan penyidangan para tahanan,” sambungnya.

Sebelumnya, pihak Hamas pada Senin kemarin, 9 Maret 2020, merilis statemen yang mengecam tindakan Saudi. Mereka juga menganggap dakwaan-dakwaan Saudi tidak berdasar.

Anggota kantor politik Front Demokratik untuk pembebasan Palestina, Ramzi Rabah, menyebut tindakan Riyadh sebagai “langkah radikal.”

“Badan-badan hukum telah berupaya memediasi masalah ini. Namun pemerintah Saudi tidak memberi penjelasan soal alasan penangkapan. Para tahanan juga tidak diizinkan berhubungan dengan keluarga atau pengacara,” kata Rabah kepada al-Mayadeen.

Baca Juga:  Arab Saudi Bikin Aplikasi Smart Hajj, Ibadah Haji dan Umroh Makin Mudah

Para tahanan itu, menurut Rabah, sudah menetap bertahun-tahun di Saudi. Rabah menuntut agar mereka segera dibebaskan.

Sementara itu, Penulis dan analis Palestina Mustafa al-Shawaf, mengatakan kepada al-Khaleej Online bahwa persidangan para tahanan Palestina adalah bukti cinta pemerintah Saudi yang dipimpin Bin Salman terhadap Donald Trump dan Benyamin Netanyahu.

“Sidang ini menunjukkan wajah Saudi yang sebenarnya. Al-Shawaf menyatakan, ‘kesalahan’ para tahanan hanyalah menghimpun dana untuk Palestina dan rakyatnya,” ujarnya.