Banyak Ustadz Dadakan, Salah Siapa?

Ustadz Dadakan

“Nanti akan datang masa, ada orang bukan keturunan pesantren dipanggil ustadz” Gus Dur

Pecihitam.org – Katanya sih, di zaman yang serba informasi ini seperti sekarang ini profesi paling gampang itu ya jadi ustadz. Bahkan tidak perlu menguasai ilmu-ilmu keislaman, tidak perlu lulusan pesantren. Terlalu lama kalau harus nyantri dulu 15 tahun.

Asalkan potongan dan casing sudah pas, bisa kutip-kutip dalil sedikit lalu bilang ini bid’ah, ini haram, ini halal. Apalagi ditambah banyak follower. Tambah enak wes dipanggil ustadz. Segera anda akan diundang ceramah di mana-mana. Tidak perlu khawatir, orang tidak akan mencari tahu seberapa jauh kedalaman ilmu agama Anda.

Perbincangan ustadz dadakan yang tak paham ilmu ini kembali mencuat, setelah beberapa hari ini viral video seorang pemuda hijrah (katanya) yang tidak perlu disebutkan namanya saya kira. Dia dengan mudahnya bilang ini hadits dhoif dan ini shahih. Belum lagi membida’hkan amalan-amalan lainnya.

Teringat perkataan Kyai Said Aqil Sirajd yang pernah menyampaikan dalam sebuah program Catatan Najwa 15 Maret 2019, bahwa fenomena ustadz dadakan ini ternyata sudah pernah di prediksi Gus Dur ketika beliau masih menjadi ketua PBNU.

Gus Dur bilang, “Nanti akan datang masa, ada orang bukan keturunan pesantren dipanggil ustadz”. Ternyata memang hal itu sudah terlihat hari ini. Memang miris, tapi harus disadari bahwa ini benar-benar terjadi.

Mungkin Anda sudah tahu bahwa untuk menjadi ustadz, yang betulan ustadz lho ya,, tidaklah mudah. Harus melewati jenjang ilmu yang tantangannya tidak kalah berat dibanding anda yang sarjana kedokteran, yang harus menyelesaikan berbagai mata kuliah dan praktek yang bikin kepala seperti mau pecah.

Untuk menjadi ustadz yang betulan ustadz, ilmu paling mendasar yang harus dikuasai adalah bahasa Arab, karena kitab suci Al Quran dan kitab-kitab rujukan primer semuanya berbahasa Arab. Tidak bisa menjadi ustadz dengan berbekal Qur’an dan buku-buku terjemahan saja.

Setelah itu yang tidak kalah penting anda juga harus memahami ulumul Qur’an (bukan sekadar tahu ayatnya apa), ulumul Hadits (bukan sekedar tahu hadisnya mana), penguasaan sejarah Islam, dst.

Baca Juga:  Ustadz Dadakan dan Pentingnya Profesionalisme Keilmuan dalam Islam

Oke lah,, memahami al Quran dengan cara terjemah memang tidak sepenuhnya salah. Namun jika hanya dengan terjemah saja banyak sekali konteks dan kandungan dalam al-Quran yang belum bisa tergali. Dan ini sangat berbahaya jika tiba-tiba digunakan untuk membuat hukum.

Untuk memahami al-Quran lebih dalam maka membutuhkan tafsir. Ada banyak sekali kitab tafsir karangan para ulama, seperti Tafsir al-Qurthubi, Tafsir Ibnu katsir, Tafsir Jalalain dan sebagainya.

Namun untuk memahaminya anda tidak boleh serampangan, karena sebelum anda ingin menafsirkan Al-Quran, setidaknya ada 15 bidang ilmu yang harus dikuasai. Misalnya:

  1. Ilmu Lughat (Filologi). Yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata al-Quran.
  1. Ilmu Nahwu (Tata bahasa)
  1. Ilmu Sharaf (Perubahan bentuk kata)
  1. Ilmu Isytiqaq (Akar kata)
  1. Ilmu Ma’ani. Ilmu ini sangat penting di ketahui, karena dengan ilmu ini susunan kalimat dapat di ketahui dengan melihat maknanya.
  1. Ilmu Bayaan. Ilmu yang mempelajari makna kata yang dhahir dan yang tersembunyi, juga mempelajari kiasan serta permisalan kata.
  1. Ilmu Badi’. Ilmu yang mempelajari keindahan bahasa.
  1. Ilmu Qira’at. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat di antara makna-makna suatu kata.
  1. Ilmu Aqa’id. Ilmu yang sangat penting di pelajari ini mempelajari dasar-dasar keimanan, kadangkala ada satu ayat yang arti dhahirnya tidak mungkin diperuntukkan bagi Allah swt. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat itu.
  1. Ushul Fiqih. Mempelajari ilmu ushul fiqih sangat penting, karena dengan ilmu ini kita dapat mengambil dalil dan menggali hukum dari suatu ayat.
  1. Ilmu Asbabun-Nuzul. Ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat al Quran.
  1. Ilmu Nasikh Mansukh. Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hukum yang sudah di hapus dan hukum yang masih tetap berlaku.
  1. Ilmu Fiqih. Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai hukum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hukum global.
  1. Ilmu Hadist. Ilmu untuk mengetahui hadist-hadist yang menafsirkan ayat-ayat al Quran.
  1. Ilmu Wahbi. Ilmu khusus yang di berikan Allah kepada hamba-nya yang istimewa, sebagaimana sabda Nabi Saw..,,“Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang tidak ia ketahui.”
Baca Juga:  Dasar "Monyet"! Antara Ketiadaan Etika dan Contoh Baru Bagi Anak Bangsa

Lima belas ilmu diatas, baru untuk memahami al Quran. Belum sampai tahap pengambilan keputusan hukum. Jadi belum selesai. Karena anda juga harus paham ilmu kalam (teologi). Ini penting karena nanti akan dihadapkan pada argumentasi-argumentasi pelik antar berbagai aliran. Dengan begitu anda pun akan mengerti bangunan epistemologi suatu mazhab sehingga tidak mudah menuding yang lainnya sesat. Nah lhoo..

Masih belum,, agar lebih mumpuni, syukur-syukur anda juga belajar ilmu filsafat. Karena para pemikir Islam di era awal keemasan Islam itu juga para filsuf. Dan semoga saja anda juga tidak alergi dengan tasawuf. Karena Nabi dan sebagian sahabat juga adalah manusia yang paling “nyufi”.

Terakhir, untuk melengkapi kemampuan seorang ustadz dizaman modern, ada baiknya anda juga berwawasan kekinian agar tidak gagap menjawab persoalan-persoalan kontemporer. Kalau semua yang diatas dikuasai, kloplah anda dipanggil ustadz.

Ustadz Dadakan Salah Siapa?

Nah ini yang tidak kalah penting. Mengapa para ustadz dadakan itu jadi lebih populer tinimbang ustadz yang beneran? Tidak salah ketika mereka berkelit: “lho, saya gak minta diundang pengajian kok! Saya gak minta dipanggil ustadz kok!”

Ya,, sayangnya yang mengundang dan mempopulerkan mereka ternyata kita sendiri. Kalangan umum (awam) yang juga minim ilmu-ilmu agama, yang sudah lelah dengan rutinitas, yang isi kepala kita sudah mumet dengan persoalan. sehari-hari.

Biar nggak mumet, bagusnya kita cari yang asyik-asyik saja lah. Undang siapa saja yang mau ceramah, yang lucu dan bikin kita terhibur. Kalau perlu ustadz yang muda dan kekinian, biar banyak ukhti-ukhti juga datang.

Kemudian karena viralnya di media sang ustadz dadakan namanya kian melambung. Setelah nama sang ustadz melambung, bukan hanya berceramah, kini ia ngelunjak: berani berfatwa ini bid’ah itu bid’ah, ini sesat itu sesat.

Baca Juga:  Jangan Dulu Menggugat “The Santri” Sebelum Menonton Filmnya

Kalau sudah seperti ini salah siapa? Benar apa dawuh Gus Baha, “Dunia itu semakin rusak, karena orang-orang alim selalu beralasan masih belum cukup ilmu kemudian tidak mau tampil, tidak mau mengajar dan tidak mau mengisi ceramah.”

Padahal, sudah mondok-nyantri puluhan tahun. Sudah hafal kitab Imrithi, khatam Fathul Qorib, sudah ngaji Hikam sampai bahkan Ihya’ Ulumiddin. Bilangnya si tawadhu’. Namun, sejatinya inilah yang memberi ruang bagi orang-orang yang tak punya ilmu mengajarkan agama.” Begitulah kira-kira yang disampaikan gus Baha.

Maka kepada santri-santri yang menguasai ilmu-ilmu agama, meleburlah ke masjid-masjid umum lingkungan tempat tinggal. Ustadz-ustadz NU yang ngelotok kitab kuning, gaulnya jangan dengan lingkungan NU saja.

Ustadz-ustadz Muhammadiyah yang konon berpikirnya modern dan visoner, jangan kumpulnya dengan Muhammadiyah saja.

Tolong, tampillah di ruang publik. Beri kami pencerahan bahwa ilmu-ilmu agama itu luas dan indah. Agar kami enggan lagi diceramahi oleh ustadz dadakan.

Sebab kalau anda sebagai santri yang lebih paham ilmu agama namun enggan meramaikan masjid-masjid umum (awam), enggan tampil di media, terpaksa kami harus mendengarkan mereka-mereka. Meskipun akhirnya mereka sedikit-sedikit tuding bid’ah, sedikit-sedikit mencap kelompok lainnya sesat.

Menutip maqalah dari Gus Baha,

إذا ظهرت الفتن ، فليظهر العالم علمه.

“Jika sudah nampak fitnah-fitnah (urusan agama), maka orang alim harus menunjukkan ilmunya.”

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG