Begini Cara Menjawab Adzan Yang Benar Sesuai Sunnah

Begini Cara Menjawab Adzan Yang Benar Sesuai Sunnah

PeciHitam.org – Adzan merupakan salah satu ibadah sunnah yang dilakukan sebelum melakukan shalat atau lebih tepatnya ketika mulai masuk waktu shalat. adapun cara menjawab adzan dan status hukumnya bisa dilihat dibawah ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Menjawab Adzan, di kalangan Hanafiyah, dihukumi wajib, sedangkan madzhab-madzhab yang lain menghukumi sunnah.

Tentang menunggu adzan selesai atau melakukan sholat saja tanpa mendengarkan adzan ketika masuk masjid, sebaiknya menunggu adzan selesai kemudian melakukan sholat sunnah. Ini dimaksudkan untuk dapat melakukan kedua ibadah tersebut dengan sempurna. Penjelasan tentang hal ini terdapat dalam Kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu Juz 1 hal. 555 sebagai berikut ;

قال الشافعية : وإذا دخل المسجد، والمؤذن قد شرع في الأذان، لم يأت بتحية ولا بغيرها، بل يجيب المؤذن واقفاً حتى يفرغ من أذانه ليجمع بين أجر الإجابة والتحية

Artinya: Kalangan madzhab Syafi’i  mengatakan : jika seseorang masuk ke masjid sedangkan muadzdzin mengumandangkan adzan, maka dia hendaknya tidak melakukan shalat sunnah tahiyyatul masjid atau yang lain, akan tetapi menjawab adzan dalam keadaan berdiri sampai adzan selesai. Ini dilakukan untuk mendapatkan pahala menjawab adzan dan sekaligus pahala sholat tahiyyatul Masjid.

Mendengarkan khutbah Jumat, dalam madzhab imam Syafi’i, hukumnya sunnah. Ini dapat kita lihat dalam salah satu kitab madzhab Imam Syafi’i , Fathul Muin hal. 43;

وسن (إنصات) أي سكوت مع إصغاء (لخطبة) ويسن ذلك وإن لم يسمع الخطبة

Artinya : Ishgha(diam dan mendengarkan) khutbah hukumnya sunnah, hal itu juga disunnahkan walaupun khutbah tidak terdengar.

Hal yang sangat disunnahkan terkait (cara menjawab) adzan dan iqamah lainnya ialah beberapa amalan dan doa sesudahnya, sebagaimana yang telah kami sarikan dari beberapa literatur klasik:

Dalam kitab Asna al-Mathalib oleh Imam Zakaria al-Anshary (Dar al-Kutub al-Islamy, 2000), juz II, hal. 456, setelah selesai adzan, disunnahkan bagi muadzin dan yang mendengar adzan, untukmembaca shalawat, yang paling utama ialah shalawat Ibrahimiyyah:

Baca Juga:  Jangan Tinggi Hati, Sebab Hanya Allah yang Maha Tinggi

اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا  مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا  مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْت عَلَى سَيِّدِنَا  إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا  إبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا  مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا  مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا  إبْرَاهِيمَ وَعَلَى  آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa ‘alâ `âli sayyidinâ Muhammad kamâ shallaita ‘alâ sayyidinâ Ibrâhîm, wa ‘alâ `âli sayyidinâ Ibrâhim, wa bârik ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa ‘alâ `âli sayyidinâ Muhammad kamâ bârakta ‘alâ sayyidinâ Ibrâhim, wa ‘alâ `âli sayyidinâ Ibrâhîm, innaKa Hamîdun Majîdun

“Ya Allah, berilah rahmat pada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaiman Engkau merahmati Nabi Ibrahim dan keluarganya, serta berkatilah Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaiman Engkau berkatilah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung”

Dilanjutkan dengan berdoa dengan doa di bawah ini:

اللهم رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ اَلتَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ سَيِّدنَـَامُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ المَحْمُودَ الَّذِيْ وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَاد

Allâhumma Rabba hâdzihid-da‘wati at-tâmmati, wash-shalâtil-qâimati, âti sayyidanâ Muhammad al-washilah wal fadlîlah, wad-darajatar rafî’ah wab’atshu maqâman mahmûdan alladzî wa’adtah, innaka lâ tukhliful-mî‘âd

“Ya Allah Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna dan shalat yang tetap didirikan, kurniailah Nabi Muhammad wasilah (tempat yang luhur) dan kelebihan serta kemuliaan dan derajat yang tinggi dan tempatkanlah dia pada kependudukan yang terpuji yang telah Engkaujanjikan, sesungguhnya Engkau tiada menyalahi janji, wahai dzat yang paling Penyayang.”

Selanjutnya, disebutkan juga dalam kitab Jami’ul Ahadits, juz IV, hal. 250, disebutkan ada doa khusus setelah adzan maghrib, yakni:

اللهم هَذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ وإدْبَارُ نَهَارِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فَاغْفِرْ ليْ

Allahumma hadza iqbâlu lailika wa idbâru nahârika wa ashwâtu du’âika faghfir lii

Baca Juga:  5 Persiapan Penting dalam Menyambut Puasa Ramadhan

“Ya Allah, ini adalah (saat) datangnya malam-Mu, dan perginya siang-Mu, dan terdengarnya doa-doa untuk-Mu, maka ampunilah aku”

Adapun ba’da (setelah) adzan shubuh, ada doa khusus sebagaimana disebutkan dalam kitab Fathul Muin hal. 280, yakni:

اللهم هَذَا إِقْبَالُ نَهَارِكَ وَإِدْبَارُ لَيْلِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فاغْفِرْ لِي

Allahumma hadza iqbâlu nahârika wa idbâru lailika wa ashwâtu du’âika faghfir lî

“Ya Allah, ini adalah (saat) datangnya siang-Mu, dan perginya malam-Mu, dan terdengarnya doa-doa untuk-Mu, maka ampunilah aku”

Doa diantara Adzan dan Iqamah.

اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِيْ الدُّنْيَا وَالْأَخِرَةِ

Allahumma innî as-alukal-‘âfiyah fid-dunya wal-âkhirah

“Ya Allah, aku mohon pada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat”

Disambung dengan Membaca ayat kursi:

اللهُ لآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِيْ السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُوْدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

Allâhu lâ Ilâha illa Huwal hayyul qayyumu. Lâ ta’khudzuhû sinatuw wa lâ naûm. laHû mâ fissamâwâti wa mâ fil ardhi. man dzal ladzii yasfa’u ‘indahû illâ bi idznihi. ya’lamu mâ baina aidiihim wa mâ khalfahum. wa lâ yuhithûna bi syai-in min ‘ilmihii illâ bi mâsyâ-a. wasi’a kursiyyuhussamâwâti wal ardha. wa lâ ya-udhû hifzhuhumâ wahuwal ‘aliyyul azhiim.

“Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Baca Juga:  Seemosi Bagaimanapun, Jagalah Ucapanmu! Karena Setiap Kata Adalah Doa

Sementara itu, untuk menjawab masing masing kalimat dalam adzan, jawabannya sama dengan lafadz adannya, kecuali dalam bacaan hayya ‘ala sholah dan hayya ‘ala al-Falah yang harus dijawab dengan bacaan لاحول ولاقوّة الاّ بالله yang berarti ‘tidak ada daya upaya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah.

Sedangkan jika mendengar adzan subuh dan sampai dalam bacaan الصّلاة خير من النّوم maka kita bisa menjawabnya dengan bacaan berikut صدقت وبررت وانا على ذلك من الشّاهدين.

Terakhir, jika sesudah iqamah masih ada waktu, maka disunnahkan membaca doa setelah iqamah ialah:

اللهم رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ صَلِّ عَلَىسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآتِهِ سُؤْلَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Allahumma Rabba hadzihi ad-da’wati at-tâmmati, wa ash-shalâti al-qâimati, shalli ‘ala sayyidina muhammadin wa âtihi su’lahu yaumal qiyâmah

“Ya Allah Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna dan shalat yang tetap didirikan, rahmatilah Nabi Muhammad dan berikan padanya permintaannya di hari kiamat.”

Demikian rangkaian beserta cara menjawab adzan, semoga bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca. Wallahu a’lam bi-shawab.

Mohammad Mufid Muwaffaq

Leave a Reply

Your email address will not be published.