Benarkah Wali Allah tidak Pernah Mati? Ini Penjelasannya

wali allah tidak mati

Pecihitam.org – Pembahasan tentang perwalian seolah-olah telah menjadi sebuah tema yang asyik ketika dibahas dan di musyawarahkan, bahkan terkadang menjadi perdebatan panjang. Bahkan terkadang diskusi tersebut dihentikan karena takut menimbulkan kesalahan, atau bahkan apa yang menjadi pendapat mereka adalah sebuah kesalahan. Karena tidak ada yang mengetahui tentang perwalian kecuali wali itu sendiri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Wali Allah menurut Mbah Sholeh Darat adalah seorang arif billah atau seseorang yang mengetahui Allah, sekedar derajat dengan menjalankan secara sungguh-sungguh taat kepada Allah dan menjauhi maksiyat. Dalam artian bahwa seorang wali menjaga dirinya untuk tidak melakukan kemaksiatan serta selalu dibarengi dengan bertaubat kepada Allah. Karena wali belum tergolong Ma’sumin atau terjaga seperti seorang Nabi.

Wali Allah memiliki sebuah keagungan dan mendapat keistimewaan dalam hidupnya, dalam keseharian dalam hidupnya selalu menggantungkan diri kepada Allah serta menyatukan diri kepada Allah, selalu pasrah dan berserah dengan ketentuan Allah SWT. Menerima semua takdir yang Allah berikan. Seorang wali akan mendapatkan karomah dan karomah tidak hanya terlihat ketika hidup saja, namun juga akan terlihat ketika telah tiada.

Sisi keistimewaan seorang wali kadang tidak terlalu dominan ketika ia hidup karena tertutup oleh sisi manusiawinya. Tetapi ada juga seorang wali yang semasa hidupnya memiliki sisi keistimewaan yang cukup dominan.

Baca Juga:  Begini Cara Sederhana Agar Kita Bisa Mengenali Hadits Dhaif

وممن صرح بذلك قطب الإرشاد سيدي عبد الله بن علوى الحداد فإنه قال رضي الله عنه الولي يكون اعتناؤه بقرابته واللائذين به بعد موته أكثر من اعتنائه بهم في حياته لأنه كان في حياته مشغولا بالتكليف وبعد موته طرح عنه الأعباء والحي فيه خصوصية وبشرية وربما غلبت إحداهما الأخرى وخصوصا في هذا الزمان فإنها تغلب البشرية والميت ما فيه إلا الخصوصية فقط

Artinya, “Salah satu orang saleh yang menjelaskan masalah ini secara terbuka Quthbul Irsyad Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Ia mengatakan bahwa perhatian seorang wali setelah ia wafat terhadap kerabat dan orang-orang yang ‘bersandar’ kepadanya lebih besar disbandingkan perhatiannya terhadap mereka seketika ia hidup. Hal demikian terjadi karena ia saat hidup sibuk menunaikan berbagai kewajiban. Sementara setelah wafat, beban kewajiban itu sudah diturunkan dari pundaknya. Wali yang hidup memiliki keistimewaan dan memiliki sisi manusiawi. Bahkan terkadang salah satunya lebih dominan dibanding sisi lainnya. Terlebih lagi di zaman sekarang ini, sisi manusiawinya lebih dominan. Sementara seorang wali yang telah meninggal dunia hanya memiliki sisi keistimewaan,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 466).

Dari penjelasan tersebut kita tahu bahwa Wali Allah memiliki karomah, dan bahkan terkadang karomah tersebut lebih tampak ketika mereka telah mati meninggalkan dunia. Namun masih timbul pertanyaan benarkah wali Allah sebenarnya tidak pernah tidak mati? Sayyid Alwi al Haddad kembali menjelaskan sebagaimana berikut;

Baca Juga:  Apa Itu Pengajian Majlis Taklim? Berikut Karakteristiknya

قال الشيخ السيد عبد الله بن علوي الحداد رضي الله عنه : ان الأخيار اذا ماتوا لم تفقد منهم الا أعيانهم وصوارهم واما حقائقهم فموجودة فهم أحياء في قبورهم , واذا كان الولى حيا في قبره فإنه لم يفقد شيأ من علمه وعقله وقواة الرحانية بل تزداد أرواحهم بعد الموت بصيرة وعلما وحياة الرحانية وتوجها إلى الله , فإذا توجهت أرواحهم إلى الله تعالى في شيء قضاه سبحانه وتعالى وأجراه إكراما لهم
سراج الطالبين للشيخ إحسان بن محمد دحلان الجمفسي الكديري ج 1 ص

Artinya: “Assyaikh As Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad ra. Berkata: sesungguhnya orang-orang pilihan atau waliyullah jika mereka wafat, tidak hilang dari mereka kecuali jasadnya, mereka hidup dalam kubur mereka. Dan ketika seorang wali itu hidup dalam kubur mereka, sesungguhnya tidak lepas dari diri mereka sedikitpun ilmu, aqal dan kekuatan ruhani mereka. Bahkan bertambahlah pada arwah-arwah mereka bashirah, ilmu, kehidupan ruhaniyyah dan tawajjuh mereka kepada Allah setelah kematian mereka. Dan jika arwah-arwah mereka bertawajjuh kepada Allah SWT dalam suatu hal atau hajat, maka Allah pasti memenuhinya dan mengabulkannya sebagai kehormatan bagi mereka”.

Sehingga dari penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa, Wali Allah secara lahiriyah yang mati hanyalah jasadnya, namun hakikatnya ilmu, akkal dan kekuatan ruhaniyyah mereka tidak pernah mati. Sehinga karomah para wali Allah tetap ada meski jasadnya telah tiada dan wali Allah tetap hidup dialam kuburnya.

Baca Juga:  Kisah Habib 'Ajami, Taubatnya Pemakan Riba Hingga Menjadi Waliyullah

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik