Menilik Kembali Cara Dakwah Kanjeng Sunan Kalijaga Lewat Tembang

Cara Dakwah Kanjeng Sunan Kalijaga Lewat Tembang

Pecihitam.orgWali Songo sebagai penyebar agama Islam pertama di Tanah Jawa saat berdakwah banyak menggunakan metode atau cara yang diselaraskan dengan kebudayaan setempat (local wisdom). Sehingga orang Hindu-Budha pada saat itu mudah menerima ajaran baru tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Proses islamisai ini, tidak membutuhkan waktu yang singkat, perlu waktu yang lama agar ajaran baru ini bisa diterima di khalayak umum pada saat itu.

Proses islamisai ini, tidak sedikitpun dari Wali Songo menggunakan cara-cara kekerasan ataupun dengan paksaan.Tetapi dengan bersikap lemah lembut, saling menghargai, tawazun, tasamuh, dan lain sebagainya.

Medianya juga bermacam-macam ada yang menggunakan wayang, tembang, karawitan, mendirikan masjid, mendirikan pesantren, dan lain sebagainya. Cara-cara seperti inilah yang sudah mulai menghilang pada diri ummat muslim (sebagian) saat ini.

Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai wali yang menjaga dan mendidik raja-raja Mataram (secara spiritual), konon ketika berdakwah sangat santun dan lembut. Sang Sunan mengakulturasikan ajaran Islam dengan budaya yang ada di Jawa, khususnya Jawa bagian pedalaman.

Sunan Kalijaga atau Raden Sahid adalah putra Tumenggung Wilwatikta, Bupati Tuban. Raden Sahid hidup dalam empat era, yakni pada saat era Majapahit (sebelum 1478 M), kesultanan Demak (1481-1546 M), kesultanan Pajang (1546-1568 M), dan awal pemerintahan Mataram (1580 M).

Selain Raden Sahid, Sunan Kalijaga dikenal dengan sejumlah nama lain diantaranya: Syech Melaya, Lokajaya, Raden Abdurrahman, Pangeran Tuban, dan Ki Dalang Sida Brangi (Rohimudin, 2017:283).

Gelar sang Sunan memiliki kaitan erat dengan sejarah perjalanan hidup sang Sunan terutama ketika sang Sunan sedang berdakwah menyebarkan ajaran Islam. Proses berdakwah yang dilakukan Kanjeng Sunan berbeda dengan sunan-sunan yang lainya yang cenderung bersifat formal.

Dengan ciri khas yang berbeda sang Sunan juga dikenal sebagai ulama yang masyhur di tanah Jawa khususnya dan di Nusantara pada umumnya. Dari kalangan atas maupun kalangan bawah, dari orang yang berprofesi sebagai petani sampai dia berprofesi sebagai administrator negara, kesemuanya itu mengenal Kanjeng Sunan sebagai Wali yang kharismatik. Sehingga, dengan kekharismatikannya ini sang Sunan berhasil membentuk masyarakat Islam dengan cepat.

Berdakwah dengan Tembang

Dalam menyebarkan Islam sang Sunan memiliki ciri unik dan menarik ketimbang para Wali yang lainnya. Ia mendekati masyarakat, mengikuti pola kehidupannya, kemudian dipelajari bagaimana supaya masyarakat bisa mengikuti ajaran Kanjeng Sunan. Hal inilah yang membuat masyarakat senang atas kehadiranya.

Baca Juga:  Rahasia Dibalik Masa Kejayaan Islam

Sebagai seorang pendakwah ia tidak menyerang ajaran lama yang masih kental dengan ajaran Hindu-Budha. Kejeniusan dalam menghadapi masyarakat yang kental dengan ajaran lamanya, tidak sampai merubah total ajaran, melainkan memodifikasi ajaran dengan suatu pandangan baru (ajaran Islam).

Sebagai seorang pendakwah Kanjeng Sunan sangat terbuka terhadap nilai-nilai yang sudah ada. Artinya, Sunan tidak hanya menunggalkan keislamannya saja. Toleransi keagamaan menjadi ciri khas utama dan terpenting dalam masyarakat dengan berbagai macam polanya.

Sang Sunan menyediakan ruang yang terbuka bagi masyarakat dengan keseniannya, kebudayaanya, dan tradisinya. Maka dengan hal ini media yang digunakan oleh Sunan berupa wayang, tembang, karawitan, puji-pujian, ajaran nerima ing pandum, dan tarekat.

Banyak gubahan tembang yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam berdakwah. Tembang-tembang itu sangat termashur di kalangan masyarakat Jawa.

Diantara tembang itu ada Kidung Rumeksa ing Wengi dan Ilir-ilir Kidung Rumeksa ing Wengi yang disampaikan dalam dhangdangula, sebagai berikut:

Ana kidung rumeksa ing wengi/ teguh ayu luputa ing lara/ luputa bilahi kabeh/ jin setan datan purun/ penluhan tan ana wani/ miwah panggawe ala/ gunane wong luput/ geni atemahan tirta/ maling adoh/ tan ana ngarah ing kami/ guna duduk pan sirna//. Sakebing lara pan samnya bali/ sakebing ama sami miruda/ welas asih pandulune/ sakebing braja luput/ kadi kapuk tibanireki/ sakebing wisa tawal/ sato kurda tutut/ kayu aeng lemah sangar/ songing landak/ guwaming mong lemah miring/ myang pakiponing merak// (R,Ng Ronggowarsito, 1980:24-25)

Artinya: Ada kidung doa permohonan di tengah malam/ yang menjadikan kuat selamat terbebas dari penyakit/ terbebas dari segala petaka/ jin dan setanpun tidak mau mendekat/ segala jenis sihir tidak berani/ apalagi perbuatan jahat/ guna-guna tersingkir/ api menjadi air/ pencuri menjauh dariku/ segala bahaya akan lenyap//. Semua penyakit pulang ke tempat asalnya/ semua hama menyingkir dengan pandangan kasih/ semua senjata tidak mengena/ bagaikan kapuk jatuh dibesi/ segenap racun menjadi tawar/ binatang buas menjadi jinak/ pohon ajaib/ tanah angker/ lubang landak/ gua orang/ tanah miring/ sarang merak// (R, Ng Ronggowarsito, 1980:24-25)

Baca Juga:  Ibrahim; Induk Agama Samawi dan Kebingungan Yahudi Atas Kedatangan Nabi Muhammad

Bagi masyarakat Jawa, kidung ini bagaikan azimat untuk melindungi dirinya dari segala marabahaya. Biasanya, di dalam keraton Jawa sendiri, ada abdi dalem yang khusus bertugas untuk mendendangkan kidung ini setiap malam. tujuannya untuk menjaga keraton dari marabahaya baik itu yang nampak secara dhohir atau yang tidak nampak.

Bagi siapa saja yang mendengarkan lantunan kidung ini dia akan merasakan hawa mistis menyelimuti jiwanya lantaran kidung ini sebagai azimat guna menangkal sifat-sifat yang buruk.

Masyarakat Jawa menyakini kidung ini memiliki beberapa fungsi diantaranya: penolak bala di malam hari, pembebas semua denda, penyembuh penyakit termasuk penyakit gila, pembebas bencana, mempercepat jodoh, doa untuk memenangkan peperangan, penolak hawa tanaman, dan memperlancar mencapai cita-cita yang luhur. Kesemuanya itu bertujuan untuk mencapai kebaikan dan menolak segala bentuk keburukan.

Tembang gubahan Kanjeng Sunan yang lainnya adalah Ilir-ilir, tembang sederhana tetapi memuat ajaran spiritual. Tembang ini tidak asing lagi bagi masyarakat Jawa, bahkan tembang ini sudah bisa dihapal oleh anak-anak kecil Jawa tempo dulu karena, baik di dalam masjid ketika mereka mengaji atau dalam bermain tembang ini selalu dilantunkan secara bersama-sama.

Tembang ini sebagai berikut:

Lir-ilir tandhure wis sumilir/ sing ijo royo-royo/ tak sengguh penganten anyar/ cah angon cah angon/ penekna blimbing kui/ lunyu-lunyu penekna/ kanggo masuh dodotira/ dodotira dodotira/ kumitir bedah ing pinggir/ dondomana jlumatana/ kanggo seba mengko sore/ mumpung padhang rembulane/ mumpung jembar kalangane/ yo surako surak hore// (Agus Suyoto, 2016:272)

Artinya: Bangunlah, tanamanya telah bersemi/ bagaikan warna hijau yang menyejukan/ bagaikan sepasang pengantin baru/ anak gembala anak gembala/ tolong panjatkan pohon blimbing itu/ biarpun licin tetaplah memanjat/ untuk mencuci kain dodotmu/ kain dodotmu kain dodotmu/ telah rusak dan robek/ jahitlah tisiklah/ untuk menghadap nanti sore/ selagi rembulan masih purnama/ selagi tempat masih luas dan lapang/ ya bersoraklah berteriaklah hore//

Dari tembang di atas sungguh akan terlihat jelas kandungan yang sangat luar biasa yang tersirat ketika kita meresapi tembang ini, begitu menyentuh kalbu dan mampu menggetarkan jiwa seseorang.

Baca Juga:  Sunan Kalijaga Pernah Dilarang Berangkat Haji Ke Mekkah

Kanjeng Sunan memberikan pelajaran hakikat kehidupan dalam bentuk tembang yang indah, yang mengandung nilai-nilai estetis di dalamnya dan mudah diingat oleh berbagai kalangan. Tembang yang pendek dan singkat ini mengandung ajaran spritual yang mendalam ketika kita bisa mengamati dan meresapi pesan yang ada di dalamnya.

Semisal dalam bait pertama saja Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang Islam segera bangun dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Karena bagaiakan tanaman yang telah siap dipanen.

Demikian pula dengan rakyat Jawa pada saat itu setelah runtuhnya Majapahit telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para Wali. Di sini jelas terlihat Kanjeng Sunan mengabarkan kepada masyarakat pada saat itu bahwa ajaran Islam yang baru akan memberikan petunjuk bagi siapa saja yang masuk ke dalamnya. Ada pesan dakwah yang sifatnya ajakan bukan paksaan.

Dakwah yang dilakukan oleh Kanjeng Sunan dengan media kesenian (tembang) sudah jarang lagi kita temukan di era sekarang. Kesenian yang pada waktu itu hanya sebagai hiburan saja ditangan Kanjeng Sunan berubah fungsi menjadi salah satu kegiatan dalam menyebarkan Islam. Sehingga Islam bisa diterima dengan senang hati dikalangan masyarakat Jawa kala itu.

Pada dasarnya amar ma’ruf nahi munkar itu harus dibarengi dengan bil hikmah bukan dibarengi dengan nafsu dan amarah.

Peranan besar Wali Songo, terutama Kanjeng Sunan Kalijaga dalam mereformasi wayang dari bentuk sederhana berupa gambar-gambar mirip manusia di atas kertas, perangkat gamelan pengiringannya, tembang-tembang dan suluknya sampai menjadi bentuk seperti sekarang yang begitu canggih adalah sumbangan besar dalam proses pengembangan kesenian dan kebudayaan nusantara (Agus Suyoto, 2016:268)

Penulis: Raha Bistara
Editor: Resky S

M Resky S