Hadits Shahih Al-Bukhari No. 380-381 – Kitab Shalat

Pecihitam.org – Hadits Shahih Al-Bukhari No. 380-381 – Kitab Shalat ini, Imam Bukhari memberi hadis pertama berikut dengan judul “Kiblat Penduduk Madinah dan Penduduk Syam serta Penduduk Timur” hadis ini mengemukakan tentang arah kiblat setiap negeri. Dan judul bab hadis selanjutnya “Firman Allah, “Dan jadikanlah maqam Ibrahim sebagai mushalla”. Membahas mengenai Perintah dalam ayat pada bab tersebut. Keterangan hadist dikutip dan diterjemahkan dari Kitab Fathul Bari Jilid 3 Kitab Shalat. Halaman 94-96.

Hadits Shahih Al-Bukhari No. 380

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا قَالَ أَبُو أَيُّوبَ فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ الْقِبْلَةِ فَنَنْحَرِفُ وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى وَعَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أَيُّوبَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [‘Ali bin ‘Abdullah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Sufyan] berkata, telah menceritakan kepada kami [Az Zuhri] dari [‘Atha’ bin Yazid Al Laitsi] dari [Abu Ayyub Al Anshari], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian mendatangi masuk ke dalam WC, maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Tetapi menghadaplah ke timurnya atau ke baratnya.” Abu Ayyub berkata, “Ketika kami datang ke Syam, kami dapati WC rumah-rumah di sana dibangun menghadap kiblat. Maka kami alihkan dan kami memohon ampun kepada Allah Ta’ala.” Dan dari [Az Zuhri] dari [‘Atha] berkata, aku mendengar [Abu Ayyub] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti ini.”

Keterangan Hadis: (tidak ada kihlat di timur dan barat) Ini adalah kalimat tersendiri yang merupakan pandangan Imam Bukhari. Akan tetapi dalam hal ini beliau dikritik karena memahami lafazh hadits secara umum. padahal lafazh tersebut khusus bagi penduduk Madinah serta penduduk negeri-negeri yang apabila mereka menghadap timur atau barat tidak membelakangi atau menghadap kiblat.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 25 – Kitab Iman

Adapun rnereka yang berada di timur maka kiblatnya berada di arah barat. demikian pula sebaliknya. Namun pernyataan seperti ini tentu saja tidak luput dari pengetahuan Imam Bukhari. Oleh sebab itu, perlu menakwilkan perkataannya dengan menyatakan bahwa maksud beliau adalah kiblat tidak ada di timur dan barat, yakni bagi penduduk Madinah dan Syam. Mungkin inilah rahasianya sehingga beliau menyebutkan Madinah dan Syam secara khusus.

Ibnu Baththal berkata, “Imam Bukhari tidak menyebutkan dalam judul bab tentang penduduk barat bumi dikarenakan beliau menganggap penyebutan penduduk timur telah mencukupi, sebab alasan yang menjadi landasan hukum keduanya adaiah serupa. Di samping itu, timur merupakan belahan bumi paling ramai. sementara hanya sedikit negeri-negeri Islam yang berada di maghrib (barat).”

Hadits Shahih Al-Bukhari No. 381

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ قَالَ سَأَلْنَا ابْنَ عُمَرَ عَنْ رَجُلٍ طَافَ بِالْبَيْتِ الْعُمْرَةَ وَلَمْ يَطُفْ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ أَيَأْتِي امْرَأَتَهُ فَقَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَافَ بِالْبَيْتِ سَبْعًا وَصَلَّى خَلْفَ الْمَقَامِ رَكْعَتَيْنِ وَطَافَ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ وَسَأَلْنَا جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ فَقَالَ لَا يَقْرَبَنَّهَا حَتَّى يَطُوفَ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Al Humaid] berkata, telah menceritakan kepada kami [Sufyan] berkata, telah menceritakan kepada kami [‘Amru bin Dinar] berkata, “Kami pernah bertanya kepada [Ibnu ‘Umar] tentang seseorang yang thawaf di Ka’bah untuk ‘Umrah tetapi tidak melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah. Apakah dia boleh berhubungan (jima’) dengan isterinya?” Maka Ibnu ‘Umar berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang Makkah, lalu thawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali, shalat di sisi Maqam dua rakaat, lalu sa’i antara antara Shafa dan Marwah. Dan sungguh bagi kalian ada suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah.” Dan kami pernah bertanya kepada [Jabir bin ‘Abdullah] tentang masalah ini. Maka ia menjawab, “Jangan sekali-kali ia mendekati isterinya hingga ia melaksanakan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah.”

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 550-551 – Kitab Waktu-waktu Shalat

Keterangan Hadis: (Bab firman Allah Ta’ala, “Dan jadikanlah maqam Ibrahim sebagai mushalla”) Perintah dalam ayat tersebut berindikasi wajib, akan tetapi kesepakatan ulama (ijma’) membolehkan shalat di seluruh sudut Ka’bah, sehingga ayat itu bukan untuk mengkhususkan tempat tertentu. Karena, yang dimaksud maqam Ibrahim adalah batu yang ada bekas kaki beliau alaihissalam. Batu tersebut hingga kini masih ada. Sementara Mujahid berkata, “Yang dimaksud dengan maqam Ibrahim adalah wilayah tanah Haram secara keseluruhan.” Pendapat pertama lebih tepat, dalilnya telah disebutkan dalam riwayat Imam Muslim melalui hadits Jabir, sebagaimana yang akan disebutkan Imam Bukhari.

Maksud “mushalla” adalah kiblat, demikian yang dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri serta ulama selain beliau. Berdasarkan pemahaman ini, maka ayat tersebut dapat dijadikan dalil untuk mendukung maksud Imam Bukhari. Mujahid berkata, “Maksudnya adalah di sisinya (sampingnya). Lafazh mushalla di sini tidak bisa diartikan tempat shalat, karena tidak ada orang yang shalat di maqam Ibrahim, akan tetapi hanya di sisinya.” Perkataan Al Hasan menjadi kuat jika dipahami berdasarkan makna syar’ i.

Imam Bukhari menguatkan pandangannya bahwa ayat tersebut bukan menentukan tempat shalat secara khusus, karena beliau SAW shalat di dalam Ka ‘bah. Apabila menghadap maqam merupakan suatu keharusan, ten tu shalatnya beliau SAW di dalam Ka’bah tidak sah karena saat itu beliau SAW tidak menghadap maqam Ibrahim. Inilah alasannya mengapa Imam Bukhari menyebutkan hadits Ibnu Umar dari Bilal dalam bab ini.

Sementara Al Azruqi telah meriwayatkan dalam kitab Akhbar Makkah dengan sanad shahih bahwa maqam Ibrahim pada zaman Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar berada di posisi seperti posisi sekarang ini, hingga banjir melanda pada masa pemerintahan Umar dan membawa batu tersebut hingga ke bagian bawah Ka’bah. Lalu batu tersebut diambil kemudian digantungkan pada tirai Ka’bah hingga Umar datang dan meletakkannya di tempat semula. dan dibuat tempat khusus sehingga aman sampai saat ini.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 22-23 - Kitab Iman

أَيَأْتِي اِمْرَأَته (apakah ia boleh mendarangi istrinya) Yakni apakah ia telah bebas dari ihram, sehingga boleh melakukan hubungan intim dengan istrinya serta melakukan perbuatan-perbuatan lain yang terlarang saat ihram? Disebutkannya hubungan dengan istri secara khusus adalah karena merupakan perbuatan paling terlarang saat ihram. Lalu lbnu Umar menjawab dengan memberi isyarat kepada mereka akan kewajiban mengikuti Nabi SAW. khususnya dalam masalah manasik (amalan) haji, berdasarkan sabda beliau SAW. خُذُوا عَنِّي مَنَاسِككُمْ (Ambillah dariku manasik kalian). Sementara Jabir menjawab dengan larangan yang tegas. Demikian pandangan mayoritas ahli fikih.

Akan tetapi Ibnu Abbas menyelisihi pandangan tersebut, dimana dia membolehkan tahallul bagi seorang yang ihram apabila telah selesai thawaf dan belum melaksanakan sa’i. Pembahasan secara mendetail akan dijelaskan pada kitab “Haji”, inya Allah.

Adapun korelasi hadits ini dengan judul bab adalah pada lafazh, “Dan shalat di belakang maqam dua rakaat.”‘ Dari sini timbul pemahaman bahwa perintah yang terdapat pada firman Allah SWT, ”Dan jadikanlah maqam Ibrahim… ” berlaku khusus bagi shalat dua rakaat setelah thawaf. Sejumlah ulama telah mewajibkan shalat tersebut dilakukan di belakang maqam, seperti akan dibahas pada kitab “Haji”.

M Resky S
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG