Surah Saba Ayat 3-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Saba Ayat 3-6

Pecihitam.org – Kandungan Surah Saba Ayat 3-6 ini, Allah menjelaskan Sebaliknya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, berusaha menghalang-halangi orang lain untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mendustakan hari kebangkitan serta memperolok-olokkan orang yang memercayainya, menyangka bahwa mereka akan luput dari azab Allah. Karena kesombongan dan keingkaran, mereka akan memperoleh azab yang sangat pedih dan akan dilemparkan ke dalam neraka Jahim.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Saba Ayat 3-6

Surah Saba Ayat 3
وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَأۡتِينَا ٱلسَّاعَةُ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتَأۡتِيَنَّكُمۡ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡزُبُ عَنۡهُ مِثۡقَالُ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَآ أَصۡغَرُ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡبَرُ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Terjemahan: “Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami”. Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”,

Tafsir Jalalain: وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَأۡتِينَا ٱلسَّاعَةُ (Dan orang-orang yang kafir berkata, “Hari terakhir itu tidak akan datang kepada kami”) yakni hari kiamat. قُلۡ (Katakanlah) kepada mereka, بَلَىٰ وَرَبِّى لَتَأۡتِيَنَّكُمۡ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ (“Pasti datang, demi Rabbku Yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepada kalian) kalau dibaca ‘Aalimil Ghaibi berarti menjadi sifat dari lafal Rabbii. Kalau dibaca ‘Aalimul Ghaibi berarti menjadi Khabar dari Mubtada, sehingga artinya menjadi seperti berikut, Ya, pasti datang, demi Rabbku, hari kiamat itu pasti akan datang kepada kalian; Dia mengetahui yang gaib.

Bacaan yang kedua ini lebih sesuai dengan kalimat yang sesudahnya, yaitu, لَا يَعۡزُبُ (tidak ada yang tersembunyi) tiada yang tidak tampak عَنۡهُ مِثۡقَالُ (bagi-Nya seberat) sebesar (zarah pun) zarah artinya semut yang paling kecil ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَآ أَصۡغَرُ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡبَرُ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ (yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada pula yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan semuanya tercatat dalam Kitab yang nyata.) Kitab yang jelas, yang dimaksud adalah Lohmahfuz.

Tafsir Ibnu Katsir: Ini adalah salah satu di antara tiga ayat (tidak ada lagi yang keempat), dimana Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersumpah dengan Rabb-nya Yang Agung tentang terjadinya hari kiamat, dikarenakan adanya pengingkaran dari orang-orang kafir dan para pembangkang. Salah satu di antaranya terdapa dalam surah Yunus, yaitu firman Allah:

“Dan mereka menanyakan kepadamu: ‘Benarkah (adzab yang dijanjikan) itu?’ Katakanlah: ‘Ya, demi Rabb-ku, sesungguhny adzab itu adalah benar dan kamu sekali-sekali tidak bisa luput (daripadanya).” (Yunus: 53)

Ayat kedua adalah ayat ini: وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَأۡتِينَا ٱلسَّاعَةُ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتَأۡتِيَنَّكُمۡ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡزُبُ عَنۡهُ مِثۡقَالُ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَآ أَصۡغَرُ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡبَرُ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ (“Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami”. Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang ghaib, Sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu.

Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Saba’: 3)

Dan ayat ketiga dalam surah at-Taghaabun, yaitu firman Allah Ta’ala: “Orang-orang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-sekali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (at-Thaghaabun: 7)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menerangkan bagaimana kesesatan orang-orang kafir yang mengingkari hari Kiamat dan mengatakan bahwa hidup ini hanya sebatas di dunia saja. Mereka mengatakan bahwa kehidupan akhirat yang diberitakan Muhammad saw adalah omong kosong belaka, sesuatu yang tidak mungkin terjadi karena tubuh manusia setelah masuk kubur akan hancur luluh tidak berbekas apalagi setelah melalui masa yang panjang.

Baca Juga:  Surah Saba Ayat 43-45; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya menolak dengan keras anggapan orang-orang kafir yang sesat itu. Allah memerintahkan supaya Nabi bersumpah dengan menyebut nama Allah bahwa hari Kiamat itu pasti datang.

Ayat ini adalah salah satu dari tiga ayat yang menyuruh Nabi Muhammad supaya bersumpah dengan menyebut nama Allah sebagai bantahan terhadap keingkaran orang-orang kafir, seperti ditegaskan Allah dalam firman-Nya: Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad), “Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?” Katakanlah, “Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya (azab) itu pasti benar dan kamu sekali-kali tidak dapat menghindar.” (Yunus/10: 53)

Yang kedua dalam Surah at-Tagabun: Orang-orang yang kafir mengira, bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), “Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.” Dan yang demikian itu mudah bagi Allah. (at-Tagabun/64: 7)

Demikian kerasnya bantahan yang harus diucapkan oleh Nabi Muhammad terhadap keingkaran orang kafir tentang hari kebangkitan, karena hal itu adalah suatu hikmah dan kebijaksanaan Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Suatu hikmah dan kebijaksanaan yang tidak dipahami oleh orang-orang kafir atau mereka tidak mau memahaminya.

Hikmah dan kebijaksanaan itu ialah Allah tidak akan membenarkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat sekehendak hatinya. Allah telah menjelaskan dengan perantaraan para rasul-Nya bahwa barang siapa yang berbuat kejahatan atau kezaliman akan dibalas dengan balasan yang setimpal baik di dunia maupun di akhirat.

Kalau seorang hamba belum mendapat balasan di dunia atas kejahatannya karena kedudukan atau kepintarannya menyembunyikan kejahatan itu, maka balasannya pasti akan diterimanya di akhirat nanti. Demikian pula halnya hamba-hamba Allah yang berbuat kebaikan. Ini adalah hikmat dan kebijaksanaan Allah Yang Mahaadil, Maha Mengetahui segala perbuatan hamba-Nya.

Pada hari kebangkitan semua perbuatan manusia mendapat balasan yang wajar walaupun di dunia sudah mendapat siksaan, apalagi bagi hamba Allah yang belum menerima balasannya. Mengingkari hari Kiamat dan hari pembalasan berarti mengingkari hikmah kebijaksanaan Allah Yang Mahaadil dan Mahakuasa.

Kemudian Allah menerangkan bahwa Dia mengetahui semua yang ada dan yang terjadi di langit dan di bumi, tidak ada suatu pun yang tersembunyi bagi-Nya, sekalipun sebesar zarrah (atom) karena semua itu telah termaktub dalam Lauh Mahfudh.

Janganlah seorang hamba mengira bahwa perbuatannya yang sangat kecil atau yang telah ditutupi rapat dan disembunyikan luput dari pengetahuan Allah. Dia pasti mengetahuinya dan akan membalas perbuatan itu, baik di dunia maupun akhirat, sesuai dengan hikmah kebijaksanaan dan keadilan-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang kafir berkata, “Hari kiamat yang dijanjikan sebagai hari kebangkitan dan pengumpulan manusia tidak akan pernah datang pada kita.” Katakan kepada mereka, wahai Muhammad, “Tidak! Bahkan hari kiamat itu pasti datang. Demi Tuhan, sungguh hari kiamat itu akan datang pada kalian.

Tuhanku mengetahui segala yang gaib. Tidak satu pun persoalan gaib yang terdapat di langit maupun di bumi yang luput dari pengetahuan Allah, meskipun hanya sekecil atom. Segala yang ada di alam ini, baik yang lebih kecil atau lebih besar dari atom, semuanya tertulis dalam sebuah buku yang menjelaskannya secara sempurna(1).

(1) Kata “dzarrah” dalam bahasa Arab menunjuk pada suatu benda amat kecil, seukuran anak semut atau debu halus. Frase “mitsqâlu dzarrah” pada ayat ini berarti ‘seberat atom’. Ini mengisyaratkan adanya suatu senyawa yang berat jenisnya lebih ringan dari atom. Sains modern membuktikan bahwa atom memiliki dua unsur: proton dan netron. Isyarat ilmiah al-Qur’ân ini baru dapat diketahui pada abad 20.

Surah Saba Ayat 4
لِّيَجۡزِىَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُم مَّغۡفِرَةٌ وَرِزۡقٌ كَرِيمٌ

Terjemahan: “supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia.

Tafsir Jalalain: لِّيَجۡزِىَ (Supaya Allah memberi balasan) pada hari kiamat itu ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُم مَّغۡفِرَةٌ وَرِزۡقٌ كَرِيمٌ (kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia.”) rezeki yang baik di surga.

Baca Juga:  Surah Asy-Syu'ara Ayat 165-175; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: (“Katakanlah: ‘Pasti datang, demi Rabb-ku, sesungguhnya kiamat pasti akan datang.’”) kemudian Dia mensifati-Nya dengan hal yang memperkuat dan memperkokohnya. “Demi Tuhanku yang mengetahui yang ghaib, Sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”

Mujahid dan Qatadah berkata: “Tidak ada yang tersembunyi daripada-Nya, yaitu semuanya di bawah ilmu-Nya, dimana tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya. Tulang-tulang itu sekalipun sudah saling berserakan, berpisah dan berantakan, Maka Dia mengetahuinya kemana dia pergi dan kemana dia berserakan.

Kemudian Dia mengembalikannya, sebagaimana Dia menciptakannya pertama kali. Karena sesungguhnya Dia Mahamengetahui terhadap segala sesuatu. Kemudian Dia menjelaskan kebijaksanaan-Nya dalam mengembalikan badan-badan tersebut dan menetapkan hari kiamat dengan firman-Nya:

لِّيَجۡزِىَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُم مَّغۡفِرَةٌ وَرِزۡقٌ كَرِيمٌ (supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia.)

Tafsir Kemenag: Adapun orang-orang yang beriman percaya kepada hari kebangkitan dan membuktikan keimanan mereka dengan mengerjakan amal saleh serta menjauhi perbuatan yang dilarang Allah. Mereka akan memperoleh ampunan dari Allah Yang Maha Pengampun.

Allah akan mengampuni kesalahan mereka dan menghapuskan dosa mereka sesuai dengan firman-Nya: Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). (Hud/11: 114) .

Tafsir Quraish Shihab: Agar Allah mengokohkan jiwa orang-orang beriman dan berbuat kebajikan untuk diri sendiri dan umat manusia. Mereka kelak akan mendapatkan pengampunan dari Allah atas dosa-dosa mereka dan rezeki luas yang tidak akan terputus.

Surah Saba Ayat 5
وَٱلَّذِينَ سَعَوۡ فِىٓ ءَايَٰتِنَا مُعَٰجِزِينَ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ

Terjemahan: “Dan orang-orang yang berusaha untuk (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu memperoleh azab, yaitu (jenis) azab yang pedih.

Tafsir jalalain: وَٱلَّذِينَ سَعَوۡ فِىٓ (Dan orang-orang yang berusaha untuk) menentang atau membatalkan ءَايَٰتِنَا (ayat-ayat Kami) yaitu Alquran مُعَٰجِزِينَ أُوْلَٰٓئِكَ (dengan anggapan mereka dapat melepaskan diri dari Kami) dan menurut qiraat yang lain, lafal Mu’aajiziina pada ayat ini dan pada ayat yang lainnya nanti dibaca Mu’jiziina. Maksudnya menganggap Kami tidak mampu mengazab mereka, atau mereka beranggapan dapat melepaskan diri dari azab Kami, karena mereka mempunyai dugaan, bahwa tidak ada hari berbangkit dan tidak ada azab.

لَهُمۡ عَذَابٌ مِّن رِّجۡزٍ (mereka itu memperoleh buruknya azab) azab yang paling buruk مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ (yang pedih) yang menyakitkan, kalau dibaca Aliimin berarti menjadi sifat daripada lafal Rijzin dan kalau dibaca Aliimun berarti menjadi sifat daripada lafal ‘Adzaabun.

Tafsir Ibnu Katsir: وَٱلَّذِينَ سَعَوۡ فِىٓ ءَايَٰتِنَا مُعَٰجِزِينَ (“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rizky yang mulia. Dan orang-orang berusaha untuk [menentang] ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melemahkan.”) yaitu, mereka berupaya untuk menghalangi jalan kepada Allah Ta’ala dan mendustakan Rasul-rasul-Nya.

أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ (“Mereka itu memperoleh adzab, yaitu [jenis] adzab yang pedih.”) maksudnya, agar Dia memberikan nikmat kepada orang-orang mukmin yang beruntung dan mengadzab orang-orang kafir yang celaka.

Tafsir Kemenag: Sebaliknya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, berusaha menghalang-halangi orang lain untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mendustakan hari kebangkitan serta memperolok-olokkan orang yang memercayainya, menyangka bahwa mereka akan luput dari azab Allah. Karena kesombongan dan keingkaran, mereka akan memperoleh azab yang sangat pedih dan akan dilemparkan ke dalam neraka Jahim.

Demikianlah hikmah kebijaksanaan dan keadilan Allah menyediakan hari kebangkitan supaya manusia menerima balasan sesuai dengan perbuatannya. Mustahil Allah akan menyamakan hamba-Nya yang berbuat baik dengan hamba-Nya yang berbuat jahat.

Allah berfirman pada ayat di bawah ini: Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat? (shad/38: 28) Dan firman-Nya: Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (al-hasyr/59: 20).

Baca Juga:  Perbedaan Pendapat Ulama tentang Tafsir bi al Ra'yi

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang mengerahkan kekuatannya untuk tujuan memerangi al-Qur’ân dan merintangi kehendak Allah untuk memenangkan Rasul-Nya, mereka itulah yang kelak akan mendapatkan siksa paling buruk dan menyakitkan.

Surah Saba Ayat 6
وَيَرَى ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ ٱلۡحَقَّ وَيَهۡدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ

Terjemahan: “Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

Tafsir Jalalain: وَيَرَى (Dan berpendapat) yakni telah mengetahui ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ (orang-orang yang diberi ilmu) yang dimaksud adalah orang-orang yang beriman dari kalangan ahli kitab, seperti Abdullah bin Salam dan teman-temannya ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ (bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu) yakni Alquran هُوَ (itulah) keputusan ٱلۡحَقَّ وَيَهۡدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطِ (yang benar dan menunjuki manusia kepada jalan) tuntunan ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ (Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji) Allah yang memiliki keperkasaan lagi terpuji.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَيَرَى ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ ٱلۡحَقَّ (“Dan orang-orang yang diberi ilmu [ahli kitab] berpendapat, bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu itulah yang benar.”) ini adalah hikmah lain yang digabungkan dengan kalimat sebelumnya. Yaitu sesungguhnya jika orang-orang yang beriman dengan apa yang diturunkan kepda para rasul menyaksikan terjadinya hari kiamat sert balasan bagi orang-0rang yang baik yang berbakti dan orang-orang buruk yang mereka telah diketahui di dalam kitab-kitab Allah di dunia, niscaya pada waktu dekat mereka dapat melihatnya dengan ‘ainul yakiin. Dan saat itu mereka berkata pula: (“Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami dengan kebenaran.” (al-A’raaf: 43)

وَيَرَى ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ ٱلۡحَقَّ وَيَهۡدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ (“Dan orang-orang yang diberi ilmu [ahli kitab] berpendapat, bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu itulah yang benar dan menunjuki manusia kepada jalan Rabb yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji.”)

Maha perkasa adalah Dia Maha tangguh, tidak terkalahkan dan tidak ada yang mencegah-Nya. Bahwa Dia memaksa dan menguasai segala sesuatu. Mahaterpuji dalam seluruh perkataan, perbuatan, syari’at dan ketentuan-Nya. Dia Rabb yang dipuji dalam semua itu, Mahaagung lagi Mahatinggi.

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan bahwa berbeda dengan orang kafir yang tidak mau mempergunakan akal dan pikirannya dan secara apriori menolak apa yang diberitakan Al-Qur’an, sebagian Ahli Kitab, seperti ‘Abdullah bin Salam, Ka’ab, dan lainnya, mengakui bahwa apa yang diberitakan dalam Al-Qur’an tentang akan datangnya hari kiamat adalah benar dan tidak dapat diragukan lagi.

Mereka juga mengakui bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk dari Allah kepada jalan lurus yang harus dipedomani oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Di dalam Al-Qur’an itu terdapat undang-undang, peraturan, dan hukum yang sesuai dengan fitrah manusia dan lingkungan hidupnya serta pasti akan membawa kebahagiaan.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang diberi anugerah ilmu dari Allah Swt. akan mengetahui bahwa kitab suci al-Qur’ân yang diturunkan dari sisi Allah kepadamu, Muhammad, yang berisi pokok-pokok kepercayaan dan petunjuk, adalah suatu kebenaran yang tidak perlu diragukan.

Kitab itulah yang akan membimbing kalian menuju jalan Allah, Tuhan yang menundukkan segala sesuatu dan yang berhak untuk menerima segala macam puji.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah Saba Ayat 3-6 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S