Hadits Shahih Al-Bukhari No. 58 – Kitab Ilmu

Pecihitam.org – Hadits Shahih Al-Bukhari No. 58 – Kitab Ilmu ini, mengemukakan tentang kecelakan bagi mereka yang tidak menyempurnakan wudhunya. Hal ini karena Rasulullah saw melihat sendiri beberapa diantara para sahabat-sahabatnya tidak benar dalam membersihkan kaki-kaki mereka. Olehnya itu, nabi berteriak sekeras-kerasnya “kecelakaanlah bagi tumit-tumit yang tidak tersentuh air wudhu bahwa tumit itu akan dibakar dineraka. Keterangan hadist dikutip dan diterjemahkan dari Kitab Fathul Bari Jilid 1 Kitab Ilmu. Halaman 267-270.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ عَارِمُ بْنُ الْفَضْلِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ تَخَلَّفَ عَنَّا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفْرَةٍ سَافَرْنَاهَا فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقَتْنَا الصَّلَاةُ وَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Abu An Nu’man ‘Arim bin Al Fadlal] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu ‘Awanah] dari [Abu Bisyir] dari [Yusuf bin Mahak] dari [Abdullah bin ‘Amru] berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tertinggal dari kami dalam suatu perjalanan yang kami lakukan hingga Beliau mendapatkan kami sementara waktu shalat sudah hampir habis, kami berwudlu’ dengan hanya mengusap kaki kami. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berseru dengan suara yang keras: “celakalah bagi tumit-tumit yang tidak basah akan masuk neraka.” Beliau serukan hingga dua atau tiga kali.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 590 – Kitab Adzan

Keterangan Hadis: Imam Bukhari menjadikan redaksi “Dan beliau berteriak sekeras-kerasnya” sebagai dalil diperbolehkannya meninggikan suara untuk memberitahu, karena jarak yang jauh atau banyaknya orang. Hal itu untuk memberi nasehat kepada mereka, sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir, “Jika Rasulullah mengingatkan akan hari kiamat pada saat khutbah, maka beliau menjadi marah dan suaranya meninggi” (HR. Muslim).

Adapun riwayat Ahmad dan hadits Nu’man menambahkan, “Sampai-sampai orang yang ada di pasar mendengarnya.” Hadits ini dijadikan dalil oleh Imam Bukhari untuk mengulangi pembicaraan agar dapat dipahami. Kemudian pembahasan tentang matan hadits ini akan disampaikan dalam “Kitab Wudhu”, insya Allah.

Al Humaidi berkata kepada kita, “Ibnu Uyainah menyatukan arti haddatsanaa, akhbaranaa dan anba’anaa.” Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah menceritakan kepada kami, beliau adalah orang yang paling dipercaya. “Syaqiq dari Abdillah juga berkata, “saya mendengar Rasulullah satu kalimat. ” Hudzaifah berkata, “Rasulullah menceritakan kepada kami dua ucapan. Abu Aliyah berkata, “Dari Ibnu Abbas, dari Nabi apa yang diriwayatkan kepada tuhannya. Anas berkata, “Dari Rasulullah yang diriwayatkan dari Tuhannya azza wa jalla. ” Abu Hurairah berkata, “Dari Nabi SA W yang diriwayatkan dari Tuhan kamu sekalian.”

Baca Juga:  Hadits Tentang Silaturahmi dan Manfaatnya Bagi Kita

Ibnu Rasyid berpendapat, bahwa judul ini menunjukkan bahwa Imam Bukhari menulis kitabnya berdasarkan rangkaian sanad yang diriwayatkan dari Rasulullah. Menurut saya maksud Imam Bukhari adalah apakah kata-kata ini (haddatsanaa, akhbaranaa dan anba ‘anaa) memiliki satu arti atau tidak? Disebutkannya Ibnu Uyainah dalam hadits ini menunjukkan bahwa Imam Bukhari telah memilihnya.

Dalam riwayat Karimah dan Al Ushaili dikatakan وقال الحمادي sedang Abu Nu’aim dalam Mustakhrajnya mengatakan وقال لنا الحمادي  dengan sanad muttashil (bersambung). Dalam riwayat Karimah tidak disebutkan kalimat انبانا begitu juga dalam riwayat Al Ushaili disebutkan kalimat اخبرنا m u n dalam riwayat Abu Dzarr ketiga kalimat tersebut disebutkan.

وقال ابن مسعود  Komentar ini merupakan bagian dari hadits masyhur dalam penciptaan janin, yang dikategorikan sebagai hadits maushul oleh Imam Bukhari dalam kitab Al Qadr yang akan kita bicarakan.

وقال شقيق Vang dimaksud adalah Abu Wa’il, sedang Abdullah yaitu Ibnu Mas’ud. Semua hadits tersebut akan ditemukan dalam bab “Al Janaiz” dan “Ar-Riqaq “. Maksud dari komentar ini menunjukkan, bahwa para sahabat tidak membedakan bentuk حدثنا dan سمعت Adapun hadits Ibnu Abbas, Anas dan Abu Hurairah dalam riwayat Nabi dari Tuhannya, disebutkan oleh Imam Bukhari secara bersambung dalam bab “Tauhid”, sedangkan maksud disebutkannya di sini adalah untuk memperhatikan metode عنعتة Apabila sanadnya bersambung, maka dihukumi sebagai hadits maushul jika sanad tersebut saling bertemu.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 388 – Kitab Shalat

Lalu riwayat Ibnu Rasyid menegaskan, bahwa apa yang diriwayatkan oleh Rasulullah adalah dari Tuhannya baik hal itu dijelaskan oleh sahabat atau tidak, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Anas yang tidak menggunakan kalimat “Dari Tuhannya“, yakni sanadnya disebutkan secara ringkas.

Menurut saya, hal ini dapat dijadikan dalil akan keabsahan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat secara mursal, karena tidak diragukan lagi bahwa perantara antara Allah dan Rasul pada malam isra’ adalah Jibril. Begitupula yang menjadi perantara antara Nabi dan sahabatnya adalah sahabat yang lain. Semua ini berlaku khusus bagi hadits-hadits hukum, karena dikhawatirkan sebagian sahabat meriwayatkannya dari beberapa tabiin seperti Ka ab Al Ahbar.

M Resky S