Hanya Wali Allah yang Mengetahui Wali Lainnya, Tapi Inilah Kata Nabi

hanya wali yang mengetahui wali

Pecihitam.org – Setiap Rasul pasti mengandung sifat kerasulan, kenabian, dan juga kewalian. Hanya saja setelah khatamul anbiya Nabi Muhammad SAW, sifat kenabian dan kerasulan sudah tertutup. Pintu yang masih terbuka hingga kini adalah kewalian.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sifat kewalian inilah yang masih ada di tengah-tengah kita. Namun bagi manusia biasa akan sulit melihat kewalian seseorang karena yang tampak biasanya hanya sisi basyariahnya saja. Adapun hanya seorang wali Allah saja yang mengetahui sesama wali lainnya.

Imam Al-Ghazali pernah ditanya tentang seorang guru Mursyid yang tidak lain adalah seorang Wali Allah. Al Ghazali berkata, “Menemukan Guru Mursyid itu, lebih mudah menemukan sebatang jarum yang disembunyikan di padang pasir yang gelap gulita”.

Kita bisa bayangkan seperti apa sulitnya menemukan sebatang jarum ditengah padang pasir di gelap gulita. Namun ungkapan Al-Ghazali yang digelar sebagai “Hujjatul Islam” ini malah sebaliknya. Ungkapan ini ternyata tidaklah berlebihan, karena ternyata dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt juga mengatakan tentang Wali-Nya:

Dalam hadits Qudsi, “Allah berfirman yang artinya: “Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq Hidayah-Nya”

Kemudian Abu Yazid al Busthami juga mengatakan: “Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya“.

Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab: “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”

Baca Juga:  Begini Makna Waktu Menurut Para Ulama Sufi

Sebagai manusia biasa, kita tidak mengetahui secara pasti siapa orang yang mempunyai derajat tinggi menjadi Wali Allah kecuali Allah berkenan member petunjuk-Nya. Lantas bagaimana kita dapat mengerti kehadiran wali Allah jika hanya seorang wali yang mengetahui wali lainnya?

Hal ini cukup sulit, pasalnya, para wali juga manusia biasa seperti hamba Allah lainnya. Namun, untuk memudahkan umatnya, Rasulullah Saw memberikan beberapa ciri-ciri seorang Wali Allah:

Dari Abu Umamah ra, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berfirman Allah Yang Maha Besar dan Agung: “Diantara para wali-Ku di hadhirat-Ku, yang paling menerbitkan iri-hati ialah si mu’min yang kurang hartanya, yang menemukan nasib hidupnya dalam shalat, yang paling baik ibadat kepada Tuhannya, dan taat kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi maupun terang. Ia tak terlihat di antara khalayak, tak tertuding dengan telunjuk. Rezekinya secukupnya, tetapi ia pun sabar dengan hal itu. Kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam menjentikkan jarinya, lalu bersabda: ”Kematiannya dipercepat, tangisnya hanya sedikit dan peninggalannya amat kurangnya”. (HR. At Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hanbal)”.

Jika melihat hadits diatas kita akhirnya tahu, bahwa kualitas seorang Wali Allah tidaklah sembarangan. Mereka izin Allah karena kedekatan kepada-Nya, apabila kita memandang wajah-nya akan membuat kita semakin dekat dengan Allah, pandangan kita kepada mereka akan menyambungkan rohani (Rabithah) kita dengan Allah.

Inilah dasar dalil yang digunakan oleh para pengamal tarekat untuk senantiasa berwasilah kepada Guru Mursyid, karena merekalah Wali Allah sebagaimana dengan petunjuk Rasulullah SAW .

Baca Juga:  Peran Tasawuf di Era Modern saat Ini dan yang Akan Datang

Imam Al-Bazzaar meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia mengatakan, seseorang bertanya, ya Rasulullah Saw, siapa para wali Allah itu? Beliau menjawab, “Orang-orang yang jika mereka dilihat, mengingatkan kepada Allah,” (Tafsir Ibnu Katsir III/83).

Dari Said ra, ia berkata: “Ketika Rasulullah Saw ditanya: “Siapa wali-wali Allah?” Maka beliau bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah.”(Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Auliya’ dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya Jilid I hal 6)

Secara dzohiriyah, dalam pandangan awam, seorang wali Allah setidaknya bisa dilihat dari sifat-sifat yang dimilikinya, namun bukan berarti orang yang memiliki sifat tersebut mendadak menjadi seorang Wali:

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa“Rasulullah Saw bersabda: “Ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, iaitu: pandai mengendalikan perasaannya di saat marah, wara’ dan berbudi luhur kepada orang lain.” (HR. Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Al Auliya’)

Rasulullah Saw bersabda: “Wahai Abu Hurairah, berjalanlah engkau seperti segolongan orang yang tidak takut ketika manusia ketakutan di hari kiamat. Mereka tidak takut siksa api neraka ketika manusia takut. Mereka menempuh perjalanan yang berat sampai mereka menempati tingkatan para nabi. Mereka suka berlapar, berpakaian sederhana dan haus, meskipun mereka mampu.

Mereka lakukan semua itu demi untuk mendapatkan redha Allah. Mereka tinggalkan rezeki yang halal karena akan amanahnya. Mereka bersahabat dengan dunia hanya dengan badan mereka, tetapi mereka tidak tetipu oleh dunia. Ibadah mereka menjadikan para malaikat dan para nabi sangat kagum. Sungguh amat beruntung mereka, alangkah senangnya jika aku dapat bertemu dengan mereka.”

Kemudian Rasulullah Saw menangis karena rindu kepada mereka. Dan beliau bersabda: “Jika Allah hendak menyiksa penduduk bumi, kemudian Dia melihat mereka, maka Allah akan menjauhkan siksaNya. Wahai Abu Hurairah, hendaknya engkau menempuh jalan mereka, sebab siapapun yang menyimpang dari penjalanan mereka, maka ia akan mendapati siksa yang berat”. (HR. Abu Hu’aim dalam kitab Al Hilya)

Walau demikian, kita tetap sulit untuk mengetahu siapakah wali Allah di tengah kita. Sebab, mereka berpakaian seperti kita, mereka beribadah sebagaimana kita. Mereka kadang juga berbuat khilaf seperti kita, bahkan mereka juga berprofesi kesehariannya.

Baca Juga:  Akhlak Islami, Apa Sih Artinya yang Sebenarnya?

Perbedaannya adalah, mereka terjaga dari penyakit batin dan mereka menjaga adab kepada Allah dan mereka selalu dalam bimbingan-Nya. Para Wali Allah sama sekali tak terduga, itulah mengapa kita diwajibkan selalu husnuzzhan (berbaik sangka) kepada setiap orang. Semoga dengan menghormati para kekasih-Nya itu, kita sebagai hamba yang awam dapat kelimpahan rahmat-Nya.

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik