Kisah Ibrahim bin Adham dan Burung Gagak; Bukti Allah Menjamin Rizki Makhluk-Nya

Kisah Ibrahim bin Adham dan Burung Gagak; Bukti Allah Menjamin Rizki Makhluk-Nya

PECIHITAM.ORG – Manusia diciptakan oleh Allah lengkap dengan rizkinya. Tapi kadang kita sebagai manusia masih selalu risau dengan rizki yang telah dijamin oleh Allah sehingga kita sibuk bekerja dan melalaikan-Nya. Di sini kami akan sampaikan dua kisah, salah satunya kisah Ibrahim bin Adham dengan burung gagak yang menjadi bukti bahwa Allah menjamin rizki makhluk-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Hadits Qudsi sebagaimana riwayat Mu’adz bin Jabal

يا ابن آدم اني أنا الرزاق وأنت المرزوق وتعلم أني أوفيك رزقك فلا تترك طاعتي بسبب الرزق فإنك إن تركت طاعتي بسبب رزقك أوجبت عليك عقوبتي

“Hai anak Adam, Aku Maha Pemberi rezeki dan kaulah yang diberi rezeki. Engkau mengetahui bahwa Aku mencukupi rezekimu, ajngan kau tinggalkan ketaatan kepada-Ku dengan sebab rezeki. Jika kau tinggalkan ketaatan kepada-Ku dengan sebab rezekimu, maka kuwajibkan hukuman-Ku atas dirimu.”

Ada dua kisah yang akan kami sampaikan, yang mana kedua kisah ini membuktikan bahwa Allah menciptakan manusia sudah lengkap dengan rizkinya. Kisah pertama adalah kisah Ibrahim bin Adham dengan burung gagak. sedangkan kisah kedua adalah kisah burung bertombak dua dengan seekor ikan besar di laut.

Baca Juga:  Kisah Dihyah Al-Kalbi, Sahabat Nabi Paling Tampan

Diceritakan, bahwa Ibrahim bin Adham rahimahullah pada suatu hari keluar menuju tanah lapang, berhenti di suatu tempat dan menggelar kain untuk makan di atasnya.

Tatkala ia sedang melakukan hal itu, datanglah seekor burung gagak dengan paruhnya mengambil sepotong roti dari alas makanan, lalu terbang ke udara.

Ibrahim merasa heran atas kejadian itu, ia naiki kudanya untuk mengejar burung hingga sampai ke pegunungan, dan burung gagal itu lenyap dari pandangan mata.

Ia naik ke gunung untuk mencari burung itu, dilihatnya dari jauh. Ketika Ibrahin mendekat, terbanglah burung itu. Di tempat itu pula, Ibrahim melihat seorang laki-laki dalam keadaan terikat tali sambal berbaring.

Saat Ibrahim melihat orang itu, turunlah ia dari kuda dan melepaskan ikatan serta menanyakan keadaannya. Orang itu berkata, “Aku adalah pedagang. Datang perampok dan mengambil harta benda, mengikat, serta meletakkanku di tempat ini. Selama tujuh hari aku berada di sini. Setiap hari datang seekor burung gagak sambil membawa roti duduk di atas dadaku terus mematahkan roti itu dengan paruhnya dan meletakkan dalam mulutku. Allah tidak membiarkanku kelaparan dalam hari-hari.” Dari sinilah, titik balik kehidupan Ibrahim bin Adham. Dari seorang yang gelamor, kelak menjadi sufi yang zuhud.

Baca Juga:  Pangeran Diponegoro dan Kedekatannya dengan Pesantren

Kisah kedua yaitu tentang seekor burung bertombak dua. Satu tombak di atas punggung yang mengarah ke atas dan satunya lagi di bawah perut yang mengarah ke bawah.

Allah menciptakan seekor burung hijau di udara, dan Allah membuat ujung runcing di atas punggungnya dan ujung runcing di bawah perutnya. Lalu Allah menciptakan Ikan Paus di laut. Ikan Paus itu memangsa ikan-ikan kecil hingga daging ikan-okan tersebut masuk diantara gigi-giginya, daging ikan tersebut melukai dan menyakitinya.

Kemudian Ikan Paus mengeluarkan kepalanya dari air dan membuka mulutnya, lantas datanglah burung hijau tersebut. Dia masuk ke mulut Ikan Paus dan memakan sisa daging ikan yang ada diantara gigi-gigi si Paus.

Dua tombak pada burung hujau tersebut seperti dua tiang di mulut Ikan Paus, sehingga Paus tidak bisa mengunyah dan memakan sang burung hijau. Kemudian ketika telah habis daging diantara gigi-giginya, burung tersebut terbang ke udara.

Baca Juga:  Ketika Cincin Nabi Sulaiman Hilang, Inilah yang Terjadi Hingga Beliau Sempat Terasing

Subhanallah, betapa Allah telah membuat rizkinya ada diantara gigi-gigi Ikan Paus, dan kembalilah ikan paus ke tempatnya. Dia istirahat sebab hal tersebut. Masing-masing dari keduanya menjadi sebab bagi yang lain (sombiosis mutualisme)

Yakinlah jika Allah tidak meninggalkan burung tanpa rizki, maka bagaimana Allah meninggalkan manusia tanpa rizki. Bukannkah Ia telah berfirman dalam Surat Hud

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْ‌ضِ إِلَّا عَلَى اللَّـهِ رِ‌زْقُهَا

“Tidak satu pun dari makhluk melata di bumi ini melainkan rezekinya sudah ditanggung Allah.” (QS. Huud: 6)

Faisol Abdurrahman