Islam di Pesantren, Tak Seperti Islam di Dunia Maya

islam di pesantren dan islam di dunia maya

Pecihitam.org – Belajar Islam melalui teks terjemah atau alih bahasa bukan tidak boleh. Akan tetapi, ajaran Islam sebagaimana diturunkan di tanah Arab, ia secara primer dikodifikasikan ke bentuk teks menggunakan lingua Arab. Barang tentu bahasa Arab sangat berbeda dengan bahasa Indonesia. Tidaklah cukup memahami Islam melalui buku-buku terjemah. Perlu disiplin ilmu khusus untuk memudahkan pemahaman akan teks Islam berbahasa Arab itu. Contohnya ilmu gramatikal Arab.

Menimbang keholistikan disiplin ilmu Islam, pesantren bisa disebut sebagai lembaga pendidikan Islam yang memadai. Lembaga kajian Islam tertua di bumi Nusantara ini punya otoritas kuat atas kelestarian ajaran Islam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kala di mana saat ini pengajaran Islam sering dilakukan serampangan oleh ustaz yang kurang jelas kevalidan genealogi keilmuannya di media sosial, sudah saatnya Islam dipulangkan kembali ke biduk utamanya, yakni pondok pesantren.

Saya tidak hendak menjustifikasi bahwa Islam yang diajarkan oleh ustaz medsos seluruhnya lemah secara ilmiah. Tidak. Namun, era di mana sekarang orang hanya dengan modal sepenggal ayat quran dan popularitas di dunia maya bisa gampang didaku ustaz, Islam seolah menjadi ajaran yang asal-asalan. Islam yang sesungguhnya sakral dan transenden kerap jadi komoditas ekonomis dan politis.

Kita harus kembali mengingat bahwa dunia maya itu sangat berbeda dengan dunia nyata. Ngaji melalui dunia maya terlapisi banyak perspektif. Atensi, perspektif, dan asumsi di dunia maya amat sangat berbeda dengan pengalaman langsung di dunia nyata. Artinya Islam dalam rimba raya internet mudah tertutupi dan ditutupi berbagai hijab. Di mana hijab-hijab itu sering menipu.

Memang tahun-tahun belakangan semangat Islam di Indonesia tampak cukup menonjol. Khususnya semangat Islam di kalangan generasi milenial urban. Juga, muslim kelas menengah perkotaan. Tak lain itu andil daripada ustaz-ustaz medsos. Mereka yang tidak punya niat kuat atau waktu mencukupi untuk belajar Islam di pesantren, memanfaatkan koneksi internet sebagai jalan instan belajar Islam.

Di youtube misalnya, akan banyak dijumpai konten ceramah Islam. Namun, di dunia maya kita tak tahu persis kualifikasi otoritas keilmuan ustaz tersebut atas konten ceramahnya. Bagaimana kesehariannya? Genealogi keilmuannya? Semua tertutupi oleh kemayaan dunia internet. Relasi antara kita dan sang ustaz sebatas diperantarai kuota internet. Sangat lemah disebut sebagai relasi murid dan guru. Berbeda dengan santri yang ngaji ke kiai di pondok pesantren.

Jika Islam yang amat mulia ini diserahkan begitu saja ke dunia maya, bagaimana wajah Islam di Indonesia tahun-tahun ke depan? Islam dengan tafsir yang kerap ngasal tidak jarang membuat umat muslim awam kebingungan.

Baca Juga:  Pesantren dan Masa Depan Moderasi Beragama di Indonesia

Pertanyaan seperti “ustaz mana yang benar?” tak jarang menghantui masyarakat awam. Mengapa? Sebab sering ustaz yang satu menghujat ustaz yang lain melalui media sosial. Agama yang seharusnya menyejukkan hati manusia, ditampilkan dengan bara emosi yang membakar hati para awam.

Mempercayai nasib Islam ke ustaz-ustaz medsos yang kurang jelas gurunya, apakah pernah nyantri atau tidak, bagaimana keseharian laku hidupnya, sama saja melemparkan mutiara ke lautan. Islam bakal tenggelam ke dasar samudera. Yang tersisa hanya semangat orang agar mutiara itu muncul ke permukaan, namun tiada yang berani menyelam.

Islam sebagai mutiara kehidupan muslimin sudah semestinya diselamatkan dari Islam versi dunia maya. Islam perlu ditempatkan kembali ke muasal penyebarannya di Nusantara modern ini. Bahwa otoritas keislaman sesungguhnya ada di pesantren. Mutiara itu ada dalam hati setiap kiai, ajengan, tuan guru, segenap ulama pondok pesantren.

Islam kita bukan Islam dunia maya. Islam kita adalah nyata. Bersumber dari lisan, dari hati mulia para ulama pondok pesantren yang wara’, yang zuhud, yang dari lisannya tak pernah keluar caci maki terhadap makhluk Allah Ta’ala.

Wallahul muwaffiq.

Baca Juga:  Membaca Kembali Gagasan Pribumisasi Islam Gus Dur
Mutho AW

Leave a Reply

Your email address will not be published.