Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan; Tempat Menempuh Ilmu Ulama Besar Indonesia

Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan; Tempat Menempuh Ilmu Ulama Besar Indonesia

PeciHitam – Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan merupakan salah satu Pesantren tertua di Indonesia. Pesantren ini pertama kali didirikan oleh KH. Moh. Kholil bin KH. Abdul Lathif pada tahun 1861. KH. Kholil Bangkalan sendiri terkenal sebagai gurunya para ulama.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tercatat dalam sejarahnya bahwa beliaulah yang membidani lahirnya organisasi Islam terbesar di dunia, yaitu Nahdlatul Ulama. Bahkan sekarang ini anggotanya lebih banyak dari jumlah penduduk Arab Saudi.

Kealiman Syaikhona Kholil dalam bidang gramatika arab menjadi daya tarik tersendiri bagi para santri yang ingin mondok ke pesantren Mbah Kholil kala itu.

Kepiawaian mbah Kholil di bidang gramatika arab dibuktikan dengan seringnya beliau memutuskan sebuah permasalahan hukum agama berdasarkan bait Alfiyah ibnu Malik.

Pernah suatu ketika mbah Kholil ditanya mengenai hukum makan menggunakan sendok, spontan mbah Kholil membacakan bait Alfiyah ibnu Malik yang berbunyi:

وفي اختيار لا يجيء المنفصل إذا تأتى أن يجيء المتصل

“Dalam keadaan normal sebaiknya jangan menggunakan sendok selama masih bisa memakai tangan langsung”

Itulah sepenggal kisah kealiman Syaikhona Kholil dalam bidang gramatika dan masa keemasan pesantren ini juga terlihat dari santri-santri Mbah Kholil yang menjadi para pemimpin Negeri ini seperti KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Wahhab Hasbullah, KH. As’ad Syamsul Arifin dll. Bahkan proklamator kemerdekaan Indonesia pernah sowan kepada Mbak Kholil yang ditiup ubun-ubunnya disaksikan lagsung oleh KH. As’ad Syamsul Arifin.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Al-Huda Jetis; Pesantren Tertua Kedua di Kebumen

Syaikhona Moh. Kholil wafat pada bulan Ramadhan tahun 1925 M. sepeninggal beliau pesantren Mbah Kholil diasuh oleh putranya KH. Imron bin Syaikhona Moh. Kholil, selama mengasuh pesantren KH. Imron yang mewarisi sifat zuhud dan kewara’an Syaikhona Kholil menjadi pribadi yang tawadhu’.

Beliau juga lebih senang melakukan uzlah (menyendiri untuk lebih mendekatkan diri pada Allah), beliau lebih sering melakukan uzlah di luar pesantren sehingga suasana pesantren tidak lagi sama dengan masa pada saat diasuh oleh Syaikhona Moh. Kholil.

Setelah KH. Imron wafat, kepengasuhan pesantren Mbah Kholil dipegang oleh putri beliau Nyai Hj. Romlah sebab putra beliau KH. Amin bin KH. Imron diberi tugas untuk mengurus negara dan dipercaya menjabat sebagai DPR RI pada pemerintahan presiden Soeharto.

Di bawah kepemimpinan Nyai Hj. Romlah, pesantren ini memiliki cara tersendiri untuk mendidik dan menggembleng santri-santri yang ingin menimba ilmu di pesantren mbah Kholil.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Miftahul Huda (Gading); Pesantren Tertua di Malang

Nyai Hj. Romlah merupakan waliyullah dari kalangan perempuan yang majdzub, beliau seringkali memarahi para santri tanpa alasan yang jelas dan hal ini terus beliau lakukan sampai masa kepengasuhan KHS. Abdullah Schal, salah satu putra beliau.

Terkadang pada saat KHS. Abdullah Schal mengajari para santri di bawah pohon salak karena pada saat itu keadaan pesantren masih dipenuhi oleh pohon salak.

Mengetahui hal tersebut, Nyai Hj. Romlah marah (dhukah) sembari membawa sebilah golok. Maka spontan santri yang sedang mengaji kepada KHS. Abdullah Schal lari terbirit-birit.

Namun dibalik cara mengajar Nyai Hj. Romlah yang berbilang aneh itu para santri merasakan manfaat yang luar biasa tatkala terjun ditengah-tengah masyarakat. Para santri menjadi santri yang tahan banting, siap menghadapi segala ujian yang menerpa sebagai tokoh masyarakat.

Sepeninggal Nyai Hj. Romlah kepengasuhan pesantren diteruskan oleh putra beliau KH. Fathurrozi kakak dari KHS. Abdullah Schal. Sebagai kakak tertua, KH. Fathurrozi bukan hanya menjadi pengasuh pesantren namun beliau juga sangat menyayangi adik-adiknya yaitu KH. Abdullah Schal, KH. Kholil AG dan KH. Kholilurrohman.

Bahkan karena kasih sayangnya kepada saudara-saudaranya, KH. Fathurrozi sampai membiayai seluruh pendidikan adiknya-adiknya. Selama menjadi pengasuh pesantren KH. Fathurrozi sering memberikan ijazah karamah dan kekebalan yang membuat masyarakat Bangkalan selalu antri untuk mengikuti kegiatan ini.

Baca Juga:  Tujuh Belas Nominasi Pesantren Tertua di Indonesia dan Masih Eksis Hingga Saat Ini

Hal ini bukan isapan jempol belaka, justru KH. Fathurrozi sendirilah yang turun tangan langsung memberikan bukti keampuhan ijazahnya dengan membacok peserta ijazah kekebalan secara langsung dan terbukti orang-orang yang mengikuti ijazah KH. Fathurrozi menjadi kebal bacok.

Itulah sedikit kisah tentang Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan; Tempat Menempuh Ilmu Ulama Besar Indonesia. Semoga kita bisa menciptakan generasi seperti yang pernah di didik oleh Syaikohna Kholil Bangkalan.

Mohammad Mufid Muwaffaq