Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan; Salah Satu Pesantren Tertua di Jawa Timur

Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan; Salah Satu Pesantren Tertua di Jawa Timur

PeciHitam.org – Pendiri Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan merupakan seorang Sayyid dari Cirebon keturunan Rasulullah dari marga Basyaiban, yaitu Sayyid Sulaiman.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ayahanda Sayyid Sulaiman seorang perantau berasal dari Kota Tarim, Hadramaut Yaman yang bernama Sayyid Abdurrahman bin Umar ba Syaiban. Sayyid Sulaiman dilahirkan dari seorang ibu bernama Syarifah Khodijah yang masih keturunan Sultan Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Awalnya, sebelum dijadikan pesantren, Sayyid Sulaiman membabat kawasan hutan belantara yang akan didirikan Pondok Pesantren Sidogiri ini dengan bantuan Kiai Aminullah yang merupakan santri sekaligus menantu Sayyid Sulaiman.

Ia berasal dari Pulau Bawean kelahiran Hadramaut Yaman. Seperti lazimnya hutan belantara, area tersebut memang belum pernah terjamah oleh manusia sehingga banyak dihuni oleh makhluk halus. Proses pembabatan hutan belantara ini memakan waktu hingga 40 hari.

Secara estafet, pengasuh pesantren ini berganti mulai dari Sayyid Sulaiman, dilanjutkan Kiai Aminullah pada pertengahan abad ke-18, selanjutnya diteruskan oleh Kiai Mahalli, santri Kiai Aminullah yang konon juga turut serta membantu babat alas tersebut.

Kemudian pada awal abad ke-19, tongkat estafet kepemimpinan pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri ini diteruskan oleh KH. Abu Dzarrin yang masih memiliki hubungan darah dengan Sayyid Sulaiman. Ia berasal dari Magelang, Jawa Tengah.

Baca Juga:  Tujuh Belas Nominasi Pesantren Tertua di Indonesia dan Masih Eksis Hingga Saat Ini

KH. Abu Dzarrin merupakan seorang kyai yang terkenal memiliki keahlian dalam bidang nahwu sharaf. Salah satu karyanya yang dibukukan berjudul kitab Sorrof Sono.

Pada pertengahan abad ke-19, berganti lagi kepemimpinannya kepada KH. Noerhasan bin Noerkhotim. Ia juga masih keturunan Sayyid Abdurrahman yang asalnya Bangkalan Madura dari jalur Kyai Noerkhotim bin Kyai Asror bin Abdullah bin Sulaiman. Kyai Noerhasan merupakan menantu dari Kyai Mahalli.

Dalam perjalanan menuntut ilmunya, Kyai Noerkhotim pernah berguru secara langsung kepada pengarang kitab I’anatu at-Thalibin, yaitu Sayyid Abu Bakar Syatha’. Di bawah kepemimpinannya, Pondok Pesantren Sidogiri ini mengajarkan kitab-kitab arus utama antara lain Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali, Shahih Bukhari, dan Shahih Muslim. Tidak hanya itu, ia juga mengadakan kegiatan pembacaan shawalat ba’da (setelah) maghrib dan peletak pertama pambangunan Surau Daerah H.

Di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, estafet kepengasuhan Sidogiri dilanjutkan oleh putranya yang bernama KH. Bahar bin Noerhasan dan KH. Nawawie bin Noerhasan. Keduanya pernah berguru kepada Syaikhona Kholil di Bangkalan.

Dulu, sebelum KH. Hasyim Asy’ari mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama, beliau meminta pendapat KH. Nawawie tersebut. KH. Nawawie akhirnya dijadikan Mustasyar NU hingga akhir hayat.  KH. Nawawie wafat di tangan penjajah Belanda.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Al-Huda Jetis; Pesantren Tertua Kedua di Kebumen

Setelah wafatnya KH. Nawawie, Ponpes Sidogiri diasuh secara berurutan mulai dari menantu tertua yaitu KH. Abdul Adzim bin Oerip dan menantu keduanya KH. Abdul Djalil bin Fadhil. Di tangan KH. Abdul Djalil, Pesantren Sidogiri mendirikan sebuah madrasah yang diberi nama Madrasah Miftahul Ulum (MMU), tepatnya pada tanggal 14 Shafar 1357 H atau 15 April 1938 M.

Berawal dari sinilah, akhirnya Pondok Pesantren Sidogiri menggunakan dua sistem pendidikan, antara lain sistem pengajian ma’hadiyah dan sistem madrasiyah (klasikal). Gedung madrasah tersebut pertama kali dibangun pada tahun 1936 M.

Namun bekas Gedung tersebut, kini dialihfungsikan menjadi gedung perpustakaan. Sebelas tahun berselang, tepatnya pada tahun 1947 M, KH. Abdul Djalil wafat.

Kemudian setelah wafatnya KH. Abdul Djalil, Pondok Pesantren Sidogiri diasuh oleh KH. Cholil Nawawie. Pada masa kepemimpinannya, dibentuklah suatu wadah permusyawaratan yang bernama Pancawarga.

Sesuai namanya, anggota permusyawaratan ini terdiri dari lima anggota yang semuanya adalah putra KH. Nawawie bin Noerhasan, antara lain: KH. Noerhasan (w. 1967), KH. Cholil (w. 1978), KH. Siradjul-Millah Waddin (w. 1988), KA. Sa’doellah (w. 1972) dan KH. Hasani (w. 2001).

Madrasah Miftahul Ulum pertama kali mengeluarkan ijazah secara resmi tahun 1952 M, untuk tingkat Ibtidaiyah. Disusul dengan didirikannya Madrasah Miftahul Ulum Tsanawiyah pada bulan Dzul Hijjah 1376 H atau Juli 1957 M.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Buntet Cirebon; Pesantren Tertua Kedua di Indonesia

Pada tahun 1962 M, untuk pertama kalinya juga pada tingkat Tsanawiyah, Madrasah Miftahul Ulum mengeluarkan ijazah Tsanawiyah secara resmi. MMU didirikan sebagai jenjang pendidikan kedua setelah Madrasah Ibtidaiyah. 1961 M, KA.

Tidak hanya itu, pada tahun 1961 M, KH. Cholil Nawawie (Pengasuh) dan KA. Sadeollah Nawawie (Ketua Umum) menggagas pengiriman guru tugas. Di tahun yang sama, KA. Sadoellah Nawawie juga merintis Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sidogiri. Kopontren Sidogiri resmi berbadan hukum sejak 15 Juli 1997.

Mohammad Mufid Muwaffaq