Pondok Pesantren Girikusumo Banyumeneng; Pesantren Tertua di Pesisir Utara Jawa Tengah

Pondok Pesantren Girikusumo Banyumeneng; Pesantren Tertua di Pesisir Utara Jawa Tengah

PeciHitam.org – Daerah pesisir utara memiliki sejarah panjang berkaitan dengan proses penyebaran ajaran agama Islam. Salah satu upaya yang paling konkret ialah didirikannya pondok pesantren sebagai pusat kajian keagamaan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Salah satu pondok pesantren tertua di pesisir utara Jawa Tengah ialah Pondok Pesantren Girikusumo Banyumeneng. Pesantren ini terletak di Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak Jawa Tengah dan diprakarsai oleh Syaikh Muhammad Hadi pada tahun 1288 H/1868 M. Pondok pesantren yang telah didirikannya ini, kini telah berusia sekitar 152 tahun.

Beliau merupakan salah satu keturunan dari Ki Ageng Pandanaran. Adapun silsilahnya jika diurutkan yaitu Muhammad Hadi bin Thohir bin Shodiq bin Ghozali bin Abu Wasidan bin Abdul Karim bin Abdurrasyid bin Syaifudin Tsani alias Ki Ageng Pandanaran II bin Syaifudin Awwal alias Ki Ageng Pandanaran I.

Pondok pesantren ini merupakan perwujudan gagasan Syaikh Muhammad Hadi untuk membangun sebuah lembaga pendidikan yang menangani pendidikan akhlak dan ilmu agama di tengah-tengah masyarakat. Pada masa awal pendiriannya, terdapat banyak tantangan yang harus dihadapi seperti penolakan oleh penjajah Belanda.

Pesantren Girikusumo merupakan pesantren yang selain memberikan pengajaran dan pendidikan juga sebagai pesantren yang terkenal sebagai pusat pengajaran Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan; Tempat Menempuh Ilmu Ulama Besar Indonesia

Tarekat merupakan sebuah organisasi tasawuf dibawah pimpinan seorang Syeikh yang menerapkan ajarannya kepada murid-muridnya. Tarekat Naksabandiyah Kholidiyah merupakan tarekat yang sudah berkembang luas penyebarannya di Indonesia.

Pondok Pesantren Girikusumo merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama, dengan pelajaran agama dan umum yang seimbang.

Mendidik santri untuk bekerja atas dasar keikhlasan yang berlandaskan pada kesadaran sebagai makhluk Tuhan dengan hidup penuh kesederhanaan tanpa melebih-lebihkan sehingga dapat memberikan sebuah keteladanan yang baik sebagai pemimpin umat yang penuh dengan kasih sayang. Bertujuan untuk mencetak kader ulama yang alim, sholeh dan menjadi pemersatu umat.

Pada tahun 1931, Kyai Hadi meninggal dunia dan selanjutnya tugas kepemimpinan pondok pesantren diteruskan oleh adik kandung Kyai Sirojudin yaitu Kyai Zahid. Pada tahun 1961 tongkat kepemimpinan pondok diserahkan kepada anak tertuanya K.H. Muhammad Zuhri yang oleh para santri dan masyarakat dipanggil dengan sebutan Mbah Muh Giri.

Di bawah kepemimpinan Mbah Muh inilah pondok Giri mulai mencoba untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian dibidang pendidikan santri, penyajian pendidikan yang selama ini berjalan dengan sistem bandongan dilengkapi dengan sistem klasikal, sementara sistem lama tetap berjalan, kemudian beliau beri nama Madrasah Falakhiyah sementara Pondok Pesantrenya beliau beri nama Darul Falah.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Sukamiskin Bandung; Peletak Dasar Ngalogat Sunda di Jawa Barat

Pada tahun 1980 Kyai Muh wafat, dan estafet kepemimpinan pondok segera beralih pada generasi ke-4. Kyai Munif Zuhri, putra keempat (bungsu) dari Kyai Muh segera tampil meneruskan perjuangan leluhurnya.

Memiliki tekad yang bulat Kyai Munif pada waktu menerima amanah untuk meneruskan perjuangan ayahandanya yang ketika itu masih berusia relatif sangat muda belum genap 30 tahun.

Beliau mulai memberikan perhatian besar terhadap lembaga pendidikan klasikal. Sementara kegiatan-kegiatan lainnya seperti pengajian secara bandongan dan pengajian Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah juga tetap berjalan.

Pada tahun 1985, K.H. Nadzif Zuhri (putra ketiga) dari Mbah Muh pulang dari pengembaraannya mencari ilmu di Universitas Islam Madinah. Beliau membawa angin segar pada jalannya proses pembelajaran di Pondok Giri.

Lembaga pendidikan yang dirintis oleh ayahnya yakni Madrasah Falakhiyah yang sudah diatur secara klasikal dipertajam sistem penyajian materi pelajarannya.

Meski pada awalnya angin perubahan yang dihembuskan oleh Kyai Nazdif sempat dirasakan gerah oleh sebagian masyarakat dengan alasan apa yang dilakukannya akan menggusur nilai-nilai yang sudah mapan di lingkungan pondok salaf.

Baca Juga:  Pesantren Al-Kahfi Somalangu; Pesantren Tertua di Asia Tenggara

Namun hal ini tidak menjadikannya surut dalam melangkah, justru sebaliknya dengan kepiawaiannya dalam merealisasikan ide yang dinilai kontroversial itu belakangan dinilai semakin mempertegas eksistensi, arah dan tujuan pendidikan pondok salaf yang telah dirintis Mbah Hadi tersebut.

Beliau tidak sebatas membentuk manusia yang berilmu dan berakhlaq tetapi sekaligus mampu mengantisipasi persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat dengan mendirikan madrasah diniyah Sekolah Islam Salaf (SIS) pada tahun 1986.

Mohammad Mufid Muwaffaq