Pondok Pesantren Qomaruddin; Pesantren Tertua di Pesisir Pantai Utara Jawa Timur

Pondok Pesantren Qomaruddin; Pesantren Tertua di Pesisir Pantai Utara Jawa Timur

PeciHitam.org – Berbicara mengenai pondok pesantren di Jawa Timur, biasanya bayangan kita langsung tertuju pada tiga pesantren termasyhur di Jawa Timur, yaitu Ploso, Lirboyo dan Tebuireng.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mungkin wajar, sebab beberapa tahun terakhir memang nama-nama pondok pesantren tersebut sering dibicarakan. Namun tahukah anda, jika di Jawa Timur, tepatnya di daerah pesisir utara terdapat Pondok Pesantren yang berdiri sejak 1775 M?

Terletak di Sampurnan, Bungah, Pondok Pesantren Qomaruddin didirikan. Pesantren ini diprakarsai oleh Kiai Qomaruddin yang masih keturunan Joko Tingkir. Pada mulanya, sebelum bertempat di Sampurnan, beliau mendirikan pesantren di Desa Kanugrahan, Kecamatan Meduran, Kabupaten Lamongan.

Dahulu, untuk mempermudah penyebutannya, Pesantren tersebut diberi nama Pesantren Kanugrahan, sesuai nama desanya. Pada tahun 1681 S/1753 M, berdirinya pesantren itu ditandai dengan candra sengkala “Rupo Sariro Wernaning Jilma”.

Tak butuh waktu lama, Pesantren Kanugrahan asuhan Kiai Qomaruddin pun memiliki sekitar 300 santri. Jumlah yang cukup fantastis pada masa tersebut.

Pesantren Kanugrahan tersebut sudah mencetak puluhan alumni dengan waktu singkat. Salah satunya ialah Tirtorejo yang konon masih keturunan Kanjeng Sunan Giri. Tirtorejo pada pada masa tersebut juga telah memperoleh jabatan sebagai Tumenggung di Gresik.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Langitan Tuban; Masih Eksis Hingga Generasi ke Tujuh

Mendengar keberhasilan santrinya, beberapa waktu berselang, Kiai Qomaruddin menyempatkan diri berkunjung ke Gresik untuk bertemu santrinya tersebut.

Ketika dalam perjalanan dari Lamongan menuju Gresik, Kiai Qomaruddin singgah di Desa Morobakung, Kecamatan Mayar, Kabupaten Gresik. Tak hanya singgah semata, beliau juga mendirikan sebuah surau sebagai tempat mengajarkan ilmu agama dan sebuah rumah untuk ditinggalinya.

Tidak ada catatan pasti mengenai tahun mukimnya di Desa Morobakung tersebut. Namun jejaknya dapat ditemukan yaitu adanya makam jejer telu yang menurut beberapa sumber masih keluarganya. Ketiganya antara lain adalah ibu mertua, Mbok Dawud (putrinya), dan cucu putri menantunya.

Penyebutan Desa Morobakung sendiri amat terkait dengan sejarah hidup Kiai Qomaruddin. Morobakung berasal dari dua suku kata, yaitu moro yang berarti datang dan bakung yang merupakan gabungan dari kata embah kakung (sesepuh laki-laki).

Sosok embah kakung disinilah yang disinyalir kuat merujuk pada Kiai Qomaruddin. Sebab semenjak kedatangannya, beliau diterima sebagai sesepuh yang begitu didambakan dan dicintai masyarakat setempat sehingga diabadikanlah menjadi nama desa tersebut.

Melanjutkan perjalanannya, setelah dari Desa Morobakung, kemudian beliau menyeberang ke arah utara Bengawan Solo. Tibalah ia di Desa Wantilan. Dipersinggahannya kali ini, beliau ingin mendirikan sebuah pesantren.

Baca Juga:  Tips Memilih Pesantren yang Baik untuk Anak, Orang Tua Wajib Tahu!

Dalam mendirikan pesantrennya tersebut, beliau mencari lokasi yang paling strategis. Semata-mata demi memudahkan para santri dan keluarganya dalam memenuhi kebutuhan. Namun Desa Wantilan ini dirasa kurang begitu strategis sehingga beliau harus melanjutkan perjalanannya.

Singkat cerita, sampailah ia di suatu tempat yang diharapkan. Letaknya strategis, berada di antara Masjid Kiai Gede Bungah dan Kantor Distrik Kecamatan Bungah.

Setelah dinilai cocok, beliau kemudian melakukan istikharah. Di tempat itulah Kiai Qomaruddin mendapatkan firasat yang baik sesuai dengan harapannya. Akhirnya didirikanlah pondok pesantren di tempat barunya tersebut, tepatnya pada 1775 M/1188 H.

Kanjeng Tumenggung Tirtorejo (K. Yudonegoro) meresmikan pesantren yang didirikan Kiai Qomaruddin itu dengan nama Pesantren Sampurnan. Penamaan sampurnan merupakan gabungan dari kata sampurno temenan, yang artinya benar-benar (tempat) yang sempurna.  Keluarga Kiai Qomaruddin akhirnya juga menetap di daerah tersebut guna memajukan pesantren miliknya.

Sekitar tahun 1960, Kiai Hamim Shalih (putra Kiai Sholih Musthofa), berinisiatif untuk memberi nama pesantren ini dengan sebutan Darul Fiqih. Sebab kita utama yang diajarkan di pesantren ini sejak kepemimpinan Kiai Moh. Shalih Tsani adalah kitab-kitab fiqih.

Baca Juga:  Pondok Pesantren Tremas; Pesantren Tertua di Pacitan Jawa Timur

Tidak hanya itu, pemberian nama Darul Fiqih tersebut diharapankan agar dapat mencetak kader-kader ahli fiqih dan menjadi rujukan penetapan hukum bagi masyarakat sekitarnya.

Belum lama menyandang nama barunya tersebut, pada pertengahan tahun 70-an, namanya berganti menjadi Pondok Pesantren Qomaruddin, sesuai mendiang pendirinya sekaligus juga dalam rangka tabarruk (mengharapkan limpahan kebaikan) kepada pendirinya.

Secara administratif, pesantren ini resmi tercatat dan berbadah hukum sejak tahun 1972 dengan nama Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin.

Demikian sejarah singkat mengenai pondok pesantren tertua di pesisir utara Jawa Timur. Mudah-mudahan dapat memberikan khazanah baru dalam pengetahuan pembaca. Wallahu A’lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq