Jangan Ngaku Sunni Kalau Belum Kenali Tokoh-Tokoh dan Ajaran Tasawuf Sunni

Jangan Ngaku Sunni Kalau Belum Kenali Tokoh-Tokoh dan Ajaran Tasawuf Sunni

Pecihitam.org – Tasawuf sunni adalah bentuk tasawuf yang para penganutnya memagari atau mendasari tasawuf mereka dengan al-qur’an dan al-sunnah, serta mengaitkan keadaan (ahwaal) dan tingkatan (maqoomaah) rohaniah mereka kepada kedua sumber tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Selain itu Tasawuf sunni juga didefiniskan sebagai tasawuf yang berwawasan moral praktis dan bersandarkan kepada al-qur’an dan al-sunnah.

Tasawwuf sunni ialah aliran tasaawuf yang berusaha memadukan aspek hakekat dan syari’at, yang senantiasa memelihara sifat kezuhudan dan mengkonsentrasikan pendekatan diri kepada allah, dengan berusaha sungguh-sungguh berpegang teguh terhadap ajaran al-Qur’an, Sunnah dan Shirah para sahabat.

Dalam kehidupan sehari-hari para pengamal tasawwuf ini berusaha untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat keduniawian, jabatan, dan menjauhi hal-hal yang dapat mengganggu kekhusua’an ibadahnya.

Tasawuf dalam perkembangannya diawali dari pemahaman makna institusi-institusi Islam. Ketika zaman sahabat dan tabi’in, kecenderungan orang terhadap ajaran Islam secara lebih analitis mulai muncul.

Ajaran Islam yang ada kemudian dilihat dan dipahami dari dua aspek yang melingkupinya, yaitu aspek lahiriyah dan aspek batiniyah atau aspek “luar” dan aspek “dalam”. Pendalaman terhadap aspek dalamnya mulai menunjukkan posisinya sebagai hal yang paling utama, tentunya tanpa mengabaikan aspek luarnya.

Pengkajian dan perenungan kaum intelektual muslim terutama dalam hal ini para tokoh sufi- lebih lebih berorientasi pada aspek dalam, yaitu cara hidup yang lebih mengutamakan rasa, makna, hakekat, nilai utama di balik aspek lahiriyah dalam beribadah dan juga praktek-praktek keagaamaan lainnya yang membawa pada suasana batin yang lebih mendalam, tentram dan tenang, lebih mementingkan keagungan Tuhan dan bebas dari egoisme pribadi.

Tasawuf sunni kemunculannya tidak dapat dipisahkan dari background perselisihan masalah aqidah yang melanda para ulama’ fiqh dan tasawwuf terutama tasawuf falsafi. Perselisihan tersebut mengemuka terlebih pada abad kelima hijriah aliran syi’ah al-islamiyah yang berusaha untuk mengembalikan kepemimpinan kepada keturunan Ali Bin Abi Thalib.

Pengikut Syi’ah lebih banyak mempengaruhi para sufi dengan doktrin bahwa imam yang ghaib akan pindah ketangan sufi yang layak menyandang gelar waliyullah. Sementara itu dipihak lain terdapat banyak praktek sufi yang dipengaruhi oleh filsafat Neo-Platonisme yang memunculkan corak pemikiran taawwuf falsafi yang dalam banyak hal bertentangan dengan kehidupan para sahabat dan tabi’in.

Adapun tokoh-tokoh tasawuf sunni dan ajarannya adalah sebagai berikut:

Pertama, Hasan al-Basri. Nama lengkapnya adalah Abu Sai’d al-Hasan bin Yasar, adalah seorang zahid yang amat masyhur dikalangan tabi’in. ia dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H (632 M) dan wafat pada hari kamis bulan Rajab tanggal 10 tahun 110 H (728 M). Ia dilahirkan dua malam sebelum khalifah Umar ibn Khattab wafat. Ia dikabarkan bertemu dengan 70 orang sahabat yang turut menyaksikan peperangan Badr dan 300 sahabat lainnya.

Baca Juga:  Orisinalitas Filsafat Islam (1): Kritik Ibnu Rusyd terhadap al-Farabi dan Ibnu Sina

Proses pengembaran intelektual dan spiritual Hasan al-Basri di mulai dari proses menuntut ilmu di Hijaz. Ia berguru kepada hampir semua ulama yang ada di Hijaz. Ia kemudian pindah bersama ayahnya ke Basrah. Basrah inilah tempat yang membuatnya masyhur dengan nama Hasan al-Basri.

Puncak keilmuannya ia peroleh di sana. Hasan al-Basri terkenal dengan keilmuannya yang sangat dalam. Tak heran bila ia menjadi imam di Basrah secara khusus dan daerah-daerah lainna secara umum. Tak heran pula bila ceramah-ceramahnya dihadiri seluruh kelompok masyarakat.

Disamping dikenal sebagai zahid, ia pun dikenal sebagai seorang yang wara’ dan berani dalam memperjuangkan kebenaran. Diantara karya tulisnya berisi kecaman terhadap aliran kalam Qadariyah dan tafsir-tafsir al-Qur’an.

Hasan Basri merupakan tokoh sufi sunni yang sangat mendalam ajaran tasawuf sunninya. Diantara beberapa pokok ajaran tasawuf Hasan alBasri adalah sebagai berikut:

  • Perasan takut yang menyebabkan hati tentram lebih baik daripada rasa tentram yang menimbulkan perasaan takut.
  • Dunia adalah negeri tempat beramal. Maka barang siapa bertemu dunia dengan perasan benci dan zuhud, ia akan berbahagia dan memperoleh faedah darinya. Namun barang siapa bertemu dengannya dengan perasan rindu dan hatinya tertambat dengan dunia, ia akan sengsara dan akan berhadapan dengan penderitaan yang tidak dapat ditanggungnya.
  • Tafakur membawa kita kepada kebaikan dan berusaha mengerjakannnya. Menyesal atas perbuatan jahat menyebabkan kita untuk tidak mengulanginya lagi.
  • Dunia adalah seorang janda tua yang telah bungkuk dan beberapa kali ditinggalkan mati suaminya.
  • Banyak duka cita di dunia memperteguh semangat amal shaleh.

Kedua, Al-Ghazali. Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Thusi al-Syafi’i. Ia lebih dikenal dengan nama alGhazali. Ia dilahirkan pada tahun 450 H /1058 M di suatu kampung yang bernama Gazalah, di daerah Tus yang terletak di wilayah Khurasan.

Ayahnya, Muhammad adalah seorang penenun dan mempunyai toko tenun dikampungnya. Ayahnya itu seorang pencinta lmu yang bercita-cita tinggi. Ia selalu berdoa semoga tuhan memberinya purta-putra yang berpengetahuan luas dan mempunyai ilmu yang banyak, dan ia adalah seorang muslim yang saleh yang taat menjalankan agama.

Al-Ghazali telah menulis banyak buku diantaranya adalah : Maqasid alFalasifah, Tahafut al-Falasifah, Mi’yar al-Ilm (bidang filsafat). Al-Iqtishod fi al-I’tiqod, al-Risalah al-qudsiyah (bidang ilu kalam). Al-Musytasfa, al-wajiz, al-wasit, al-basit (bidang ushul fiqih). Ihya ulul al-din, al-munqiz min aldholal, Minhaj al-abidin (bidang tasawuf) dan lain-lain.

Setelah mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan, menulis dan mengajar, maka pada usia 55 tahun al-Ghazali meninggal dunia di kota kelahirannya, Tus, pada tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H /19 Desember 1111M,  dalam pangkuan saudaranya Ahmad al-Ghazali.

Baca Juga:  Menjawab Tuduhan Hukum Puasa Rajab Adalah Bid'ah dan Sesat

Diantara ajaran tasawuf Al Ghozali adalah sebagai berikut: Ma’rifat, mukasyafah dan musyahadah merupakan konsep utama tasawuf Al Ghazali. Al-Ghazali memilih tasawuf sunni yang berdasarkan al-qur’an dan sunnah ditambah dengan doktrin ahlussunnah wal jamaah.

Dari faham tasawufnya itu, ia menjauhkan semua kecenderungan gnotis yang mempengaruhi para filosof Islam. Corak tasawufnya adalah menanamkan pemikiran-pemikiran tasawuf tersebut melalui jalur resmi pemikiran Sunni, yaitu fikih.

Al Ghazali menganggap bahwa ibadah tidak hanya berupa praktek zhahiriyah semata, tetapi juga mencakup aspek bathiniyah. Ia berusaha memberikan signifikasi spiritual lebih mendalam terhadap semua ibadah wajib dalam Islam. Bersuci, shalat, puasa, zakat, dan haji bukan hanya merupakan amal zhahir, tetapi juga merupakan amal batin.

Selain itu, al-Ghazali juga berusaha memperlebar arti ibadah hingga tidak hanya mencakup hal-hal yang wajib. Semua aktivitas manusia dapat pula dianggap sebagai ibadah asalkan disisipi dengan makna-makna spiritual.

Mukâsyafah, musyâhadah dan ma’rifat hanya bisa terjadi di saat seorang sufi mampu menyatukan zhâhir dan bâthin, syariat dan hakikat, dengan keimanan yang benar kepada Tuhan serta selalu berbuat baik kepada ciptaanNya. Apabila ia tidak mampu melakukan hal itu, maka tatanan kesufian di dalam dirinya akan hancur.

Sehingga ia tidak bisa menobatkan diri sebagai seorang sufi, karena tidak akan mungkin mendapatkan mukâsyafah, musyâhadah, dan fanâ` sebagai anugerah dari Tuhan. Mukâsyafah adalah penampakan pengetahuan dalam hati sufi. Semua hati manusia sebenarnya mempunyai potensi yang sama dalam menerima mukâsyafah.

Tetapi, mukâsyafah hanya bisa dicapai kalau antara hati manusia dan lawh al-mahfûzh tidak terhalangi oleh apapun. Penghalang hanya mampu disirnakan oleh para nabi dan wali melalui olah diri dan pensucian. Perbedaan antara keduanya hanya teletak pada kemampuan dalam menyaksikan kehadiran sang pembawa pengetahuan. Mukâsyafah dalam diri nabi disebut dengan wahyu, sedangkan pada diri wali disebut ilham.

Ketiga, Rabi’ah al Adawiyah. Nama lengkapnya adalah Rabi’ah binti Isma’il al-adawiyah. Pemberian nama Rabi’ah dilatarbelakangi oleh sensibilitas keluarganya, sebagai anak keempat dari empat bersaudara, disamping tiga orang putri lainnya, dari keluarga miskin di Basrah. Sedemikian miskinnya hingga minyak lampu untuk menerangi saat kelahirannya pun orang tuanya tidak punya.

Rabiah Adawiyah lahir di Basra pada tahun 105 H dan meninggal pada tahun 185 H. Siti Rabiah Al Adawiyah adalah salah seorang perempuan sufi yang mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Seorang wanita yang alur kehidupannya tidak seperti wanita pada umumnya, ia terisolasi dalam dunia mistisme jauh dari hal-hal duniawi.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibn Khalkan saat mengutarakan biografi Rabiah Adawiyah, bahwa namanya adalah Ummul Khair Rabiah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah al-Qisiyah. Ia merupakan symbol utama paradigma kehidupan ruhani Islam pada kurun kedua hijriah.

Baca Juga:  Tabarruk, Mengharap Keberkahan Lewat Kekasih Allah

Beberapa ajaran tasawuf Rabi’ah al-Adawiyah adalah:

  1. Mahabbah, merupakann hal (keadaan) jiwa yang mulia yang bentuknya, adalah disaksikannya (kemuttlakannya) Allah SWT, oleh hamba, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasihinya-Nya dan yang seorang hamba mencintai Allah SWT.
  2. Zuhud, Berasah dari kata zahada-yazhadu-zuhdan, artinya menjauhi. Secara istilah zuhud dimaknai menjauhi segala sesuatu selain Allah. Zuhud yang menurut konsep Hasan al Basri, yaitu takut dan pengharapan dinaikkan oleh Rabi’ah kepada zuhud karena cinta. Konsep ini berarti bahwa tiada yang pantas kecuali Tuhan satu-satunya yang menjadi objek kezuhudannya (cinta yang transenden).

Keempat, Junaid Al-Baghdadi. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Qasim Al-Junaid Bin Muhammad Al-Kazzaz Al-Nihawandi. Dia adalah seorang putera pedagang barang pecah belah dan keponakan Surri Al-Saqti serta teman akrab dari Haris AlMuhasibi.

Dia meninggal di Baghdad pada tahun 297/910m. Dia termasuk tokoh sufi yang luar biasa, yang teguh dalam menjalankan syari`at agama, sangat mendalam jiwa kesufiannya. Dia adalah seorang yang sangat faqih, sering memberi fatwa sesuia apa yang dianutnya, madzhab abu sauri: serta teman akrab Imam Syafi`i.

Ajaran Tasawuf Al Junaid, Al-Junaid dikenal dalam sejarah tasawuf sebagai seorang sufi yang banyak membahas tentang tauhid. Pendapat-pendapatnya dalam masalah ini banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab biografi para sufi, antara lain sebagaimana diriwayatkan oleh al-qusyairi:

orang-orang yang mengesakan Allah adalah mereka yang merealisasikan keesaan-Nya dalam arti sempurna, meyakini bahwa Dia adalah Yang Maha Esa, dia tidak beranak dan diperanakkan“.

Di sini memberikan pengertian tauhid yang hakiki. Menurutnya adalah buah dari fana’ terhadap semua yang selain Allah. Dalam hal ini dia menegaskan.

Al-Junaid juga menandaskan bahwa tasawuf berarti “allah akan menyebabkan mati dari dirimu sendiri dan hidup di dalam-Nya.”

Peniadaan diri ini oleh Junaid disebut fana`, sebuah istilah yang mengingatkan kepada ungkapan Qur`ani “segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya (QA. 55:26-27); dan hidup dan hidup dalam sebutannya baqa`. Al-Junaid menganggap bahwa tasawuf merupakan penyucian dan perjuangan kejiwaan yang tidak ada habis-habisnya.

Mochamad Ari Irawan