Kisah Ayah Membunuh Anaknya yang Berakidah Wahabi

kisah ayah membunuh anak

Pecihitam.org – Di antara dampak negatif dari belajar aqidah wahabiyah adalah kisah nyata seorang pemuda dari Habasyah yang pergi ke Hijaz dan kemudian bermukim di Madinah. Ia masuk perguruan tinggi mereka yang bernama Universitas Islam (tentunya universitas yang ada di Madinah).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dia bermukim di Madinah selama 5 tahun, hingga kemudian dia belajar aqidah wahabiyah, di antaranya bahwa orang yang mengatakan “Ya Muhammad (SAW)” sebagai bentuk kerinduan dan tawassul adalah kafir dan orang-orang yang pergi ke kuburan-kuburan para ulama, wali Allah, untuk bertabaruk (mengambil berkah) adalah kafir.

Kemudian pemuda ini kembali ke negerinya dan dia mengatakan kepada penduduk di kampungnya “kalian adalah orang kafir!”. Dia juga mengatakan hal serupa kepada ayahnya “Kamu kafir”. Kemudian ayahnya tidak tahan mendengarnya mengambil senjata lalu membunuh anaknya lalu menyerahkan diri kepada pemerintah.

Mirip dengan kejadian pertama, kejadian kedua ini yang terjadi di Togo Afrika, seorang lelaki yang dulunya sangat perhatian terhadap peringatan maulid Nabi, kemudian anak dari lelaki ini pergi ke Saudi Arabia untuk kuliah (belajar aqidah wahabiyah) kemudian anak dari lelaki ini pulang ke negerinya, dan berkata kepadanya ayahnya “Kamu adalah kafir”. Kemudian sang ayah membunuhnya.

Kejadian ketiga terjadi di Jimmah Habasyah juga terjadi sebuah insiden, seorang lelaki yang juga memiliki perhatian terhadap maulid Nabi. Kemudian anaknya pergi ke Suadi Arabia untuk belajar aqidah wahabiyah, sehingga si anak berani berkata kepada ayahnya “kamu adalah kafir!”.

Kemudian pada hari di mana sang ayah sedang mempersiapkan makanan kepada masyarakat untuk peringatan acara maulid Nabi SAW, maka sang anak yang sudah beraqidah wahabi ini datang dan menyiram minyak pada makanan tersebut, sebab, menurutnya ini adalah kemungkaran.

Baca Juga:  BEM STAI Sabillul Muttaqin: Banyak Generasi Muda di Mojokerto Terpapar Ideologi Wahabi

Pada saat itu sang ayah sedang berada di luar rumah. Ketika sang ayah kembali, orang-orang yang hadir dalam perayaan ini mengatakan kepadanya, “anakmu telah melakukan ini dan itu”. Kemudian sang ayah membunuh anaknya, kemudian menyerahkan diri kepada pemerintah.

Pada kejadian yang kedua dan ketiga pemerintah tidak menghukum sang ayah. Sang ayah mengatakan “anakku ini telah kafir dalam syari’at kita karena dia telah mengkafirkan umat Islam” kemudian pemerintah membebaskan sang ayah dan tidak menghukumnya.

(Sedangkan pada kejadian pertama penulis فضائح الوهابية tidak menyebutkan apa yang terjadi pada ayah si anak). Lalu penulis فضائح الوهابية menerangkan bahwa ada seorang ulama Yordania dari keluarga Sa’duddin memberikan informasi kepadanya (penulis) bahwa ada seorang yang sudah sangat tua berkebangsaan Yordania memberitahukan bahwa ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kelompok wahabiyah ketika menyerang Yordania selatan.

Seorang wahabi mengatakan, “Bunuhlah kafir-kafir ini!”. Kemudian ketika seorang wahabi menyembelih muslim Yordania tersebut mengatakan, “Bismillah Allahu Akbar” kemudian membunuhnya.

Disinilah letak bagaimana wahabi menginjak-injak agama Allah. Menurut yang saya baca dari kitab “Tuhfah Ar-raghibiin” kitab karangan ulama nusantara berhasa jawi yang menjelaskan tentang keimanan dan sebab-sebab menjadi kufur adalah jika seseorang membaca بسم الله الرحمن الرحيم pada saat berzina dan meminum arak maka dia menjadi kafir!, karena telah memperolok-olok nama Allah SWT dan main-main dengannya.

Apalagi menuduh muslim menjadi kafir, membunuhnya, lalu mengucapkan nama Allah untuk perbuatan yang haram maka apakah belum cukup dalil bahwa aqidah mereka adalah kafir?. Rasullullah SAW bersabda:

Baca Juga:  Syaikh Abdul Fattah, Ulama Yaman Yang Taubat Dari Salafi Wahabi

وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ. (رواه البخاري)

Artinya: Barang siapa yang memanggil seseorang dengan panggilan kafir atau musuh Allah padahal orang itu bukan kafir maka tuduhan itu kembali kepada si penuduh.” (HR. Bukhari).

Kemudian penulis فضائح الوهابية mengatakan bahwa Syaikh Dzib yang berkebangsaan Suriah yang dahulu pernah hidup di Yordania mengatakan bahwa beliau pernah berdebat dengan seorang Syaikh wahabi di Mekkah.

Beliau mengatakan kepada wahabi ini, “kalian telah mengharamkan Subhah (tasbih), lalu mengapa kalian menjualnya pada musim haji kepada orang lain?”. Kemudian wahabi ini menjawab, “kami menjualnya kepada selain orang Islam, yakni seluruh orang yang melaksanakan haji yang mengambil subhah Subhah (tasbih) ini adalah kafir”.

Salah seorang imam wahabi dalam salah satu masjid di Makkah bagian selatan pada tahun 2002 pada musim haji berkata kepada seorang laki-laki dari keluarga Baidhun dari Beirut “Kalian orang-orang golongan Asya’irah adalah orang-orang kafir, apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi kepada kalian adalah sebagian yang berhak untuk kalian dapatkan”.

Seorang dokter Berkebangasaan Yordania dari keluarga Hawamidah, menceritakan bahwa ketika ia berada di Masjid Rasulullah pada tahun 1996, dia mendengar Abu Bakar Al-Jaziri (wahabi) mengatakan, “Demi Allah, tidak akan lurus agama ini sampai mereka menghilangkan berhala ini”. Seraya menunjuk pada makam Rasullullah dan dia mengatakan, “Berhala Qubbah Khadra’“(kubah hijau Nabi).

Setelah penulis فضائح الوهابية memaparkan kepada pembaca dan pemerhati yang bijak dan bisa menilai secara obyektif dari ungkapan-ungkapan wahabiyah yang keluar dari pemuka-pemuka dan pendiri wahabiyah dan siapa saja syaikh-syaikh mereka yang datang sesudahnya.

Baca Juga:  Keikutsertaan Wahabi dalam Agenda Nasrani Britania Menghapus Mazhab Suni

Sampai pada masa sekarang ini berupa pengkafiran dan penyesatan terhadap umat Islam baik dari generasi sahabat, tabi’, tabi’ tabi’in, bahkan sampai mengkafirkan Sayyidah Hawa, ulama salaf, ulama khalaf, Asya’irah, Maturidiyah, para pendiri mazhab yang empat, kaum sufi yang berpegang teguh dengan syariat, tarekat dan hakekat, dan setiap umat muslim.

Ini membuktikan bahwa wahabiyah menganggap tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini selain jamaah mereka, dan keturunan mereka saja. Mereka mengajak para pengikutnya untuk memerangi dan membunuh Ahlussunnah wal Jamaah sebelum memerangi Majusi dan pemeluk agama kufur lainnya.

Bahkan mereka mengatakan dengan penuh kesombongan dan kebodohannya sebagaimana yang disebutkan oleh seorang wahabi yang bernama Muhammad Ahmad Basyamil: “Abu Jahal dan Abu Lahab lebih bertauhid dan lebih murni imannya kepada Allah daripada umat Islam yang mengatakan لاإله إلاالله karena mereka bertawassul kepada rasul, wali, orang shalih”.(Muhammad Ahmad Basyamil, Kaifa Nafhamu al-Tauhid,Hal. 16).

Kepada Allah-lah kita berserah diri dan memohon petunjuk dan pertolongan-Nya semoga bermamfaat dunia dan Akhirat. Amin!