Kisah Kewalian Gus Miek (KH. Hamim Jazuli)

Kisah Kewalian Gus Miek

Pecihitam.org – Gus Miek atau KH. Hamim Jazuli (1940-1993) adalah pendiri jama’aah dzikir Dzikrul Ghofilin. Gus Miek adalah putra dari KH. Djazuli Usman, pendiri Pondok Pesantren Ploso, Mojo, Kediri. Gus Miek dipercaya sebagai waliyullah, kekasih Allah Swt yang memiliki kemampuan batiniah yang kuat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bahkan, dikabarkan bahwa tanda-tanda kewalian Gus Miek sudah terlihat sedari kecil. Dikisahkan bahwa Nyai Rodhiyah (Ibu Gus Miek) sewaktu mengandung Gus Miek banyak mengalami peristiwa-peristiwa dan mimpi-mimpi luar biasa yang belum pernah dialaminya sewaktu mengandung kakak-kakak Gus Miek.

Mimpi-mimpi demikian itu dalam keyakinan ulama terdahulu sebagai tanda-tanda yang memiliki arti penting dan bisa dijadikan isyarat karena merupakan ilham yang dikaruniakan Allah Swt melalui jalan sebuah mimpi.

Kisah lain tentang kewalian Gus Miek, diceritakan Gus Dur dalam sebuah esainya berjudul Gus Miek: Wajah Sebuah Kerinduan (1993). Gus Dur mengisahkan bahwa suatu waktu saat Gus Dur menemui Gus Miek di sebuah Surau di Kediri. Ketika itu Gus Dur ditunjukkan sebuah tanah yang baru dibeli Gus Miek.

Tanah tersebut di daerah Tambak, Kediri. Dengan menunjuk tanah tersebut, Gus Miek memberitahu Gus Dur bahwa di tanah tersebut akan dijadikan tempat pemakaman Kiai Ahmad, Gus Miek, dan sekaligus Gus Dur.

Baca Juga:  Anda Wajib Tahu, Inilah Alasan Kenapa Memilih Madzhab Syafi'i

Saat itu Gus Dur menyanggahnya karena Gus Dur menganggap dirinya kurang pantas karena bukan seorang penghafal al-Qur’an sebagaimana Gus Miek.

Tak lama setelah isyarat tersebut ternyata KH. Ahmad Shiddiq mantan Rais ‘Am PBNU tahun 1984 wafat. Dari situ Gus Dur baru sadar bahwa yang dimaksud Kiai Ahmad oleh Gus Miek adalah KH. Ahmad Shiddiq. Dan memang benar, sampai kemudian KH. Ahmad Shiddiq dimakamkan di makam Tambak yang sudah dipersiapkan oleh Gus Miek tersebut.

Kisah lain tentang kewalian Gus Miek adalah tentang kehidupan dua dunia Gus Miek dalam berdakwah. Pada siang hari Gus Miek berkeliling dari satu majelis taklim ke majelis taklim lainnya untuk memimpin sema’an (khataman) al-Qur’an, tausiyah dan memimpin dzikir di majelis Dzikrul Ghofilin.

Pada malam harinya Gus Miek pergi ke klub-klub malam, diskotik, dan tempat hiburan malam lainnya. Di sana Gus Miek juga akrab dengan orang-orang di lingkungan tersebut. Dan yang ditenggaknya adalah Bir hitam dan rokok bermerk Wismilak bungkus hitam yang terkenal berat itu.

Baca Juga:  Abah Guru Sekumpul; Ulama Kharismatik dari Tanah Borneo

Menurut Gus Dur aktivitas Gus Miek di dua dunia tersebut tidaklah kontradiktif. Menurutnya di dua tempat tersebut berperan sama, yakni “memberikan kesejukan kepada jiwa yang gersang, memberikan harapan kepada mereka yang putus asa, menghibur mereka yang bersedih, menyantuni mereka yang putus asa, menghibur mereka yang bersedih, menyantuni mereka yang lemah dan mengajak semua kepada kebaikan”.

Namun, untuk melakukan dakwah di tempat yang seringkali dianggap tempat maksiat tersebut tak sembarangan orang mampu. Barangkali, karena tingkat kehambaan dan keimanan Gus Miek yang sudah tinggi menjadikannya mampu untuk masuk kedalam dunia malam tersebut tanpa terseret arus di dalamnya.

Bahkan, sosoknya malah justru mampu menjadi sinar terang bagi orang-orang di sana yang suasana hatinya sedang gelap. Sebagaimana kata Gus Dur bahwa di tempat gelap tersebut adalah tempat dimana manusia-manusia di dalamnya sedang mengalami kegersangan hati, putus asa dan membutuhkan uluran pertolongan.

Baca Juga:  Syekh Yusuf al Makassari; Ulama Sulawesi yang Dijuluki Putra Afrika

Posisi Gus Miek dalam situasi demikian itulah memberikan jalan yang lurus dan cahaya yang terang untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang sedang muram.

Dalam konteks ini saya teringat kata-kata Gus Miftah yang juga sering berdakwah ke tempat hiburan malam bahwa jika menunggu mereka untuk benar-benar dalam keadaan suci hatinya untuk mengenal Allah Swt akan tidaklah mungkin sampai hari kiamat pun.

Maka dengan demikian, penting untuk masuk ke dalamnya dan melakukan dakwah dan penyadaran secara pelan-pelan. Dan jika bukan Gus Miek, sang wali, akan sulit untuk kuat mengarungi dakwah di dua dunia yang sama-sama berat tersebut. Wallahua’lam.