Apa Maksud dari Pendidikan Islam Wasathiyah? Begini Penjelasan Para Ulama

Apa Maksud dari Pendidikan Islam Wasathiyah? Begini Penjelasan Para Ulama

Pecihitam.org- Sebelum memahami makna Pendidikan Islam Wasathiyah, terlebih dahulu kita mengetahui makna parsial dari pendidikan Islam dan Wasathiyah itu sendiri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ahmad Tafsir menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah “bimbingan terhadap seseorang agar berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam (Tafsir, 1991: 32).

Sedangkan pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung, seperti yang dikutip Sutrisno yaitu “proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat (Sutrisno, 2012: 21).

Artinya bahwa pendidikan Islam tidak bisa dimaknai sebatas transfer of knowledge, akan tetapi juga transfer of value serta berorientasi dunia akhirat. Sedangkan menurut Arifin pendidikan Islam adalah:

“suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrawi”(Arifin, 2003: 7).

Selain itu Zakiyah Daradjat juga menyatakan bahwa secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam itu adalah “pembentukan kepribadian muslim.

Berdasarkan berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan ajaran Islam sebagai pandangan hidupnya untuk kebahagiaan di kehidupan ini dan kehidupan mendatang.

Baca Juga:  Bagaimana Jika Bidadari Turun ke Bumi? Ini Kisahnya

Adapun makna al-wasathiyah secara istilah, adalah sebuah kondisi terpuji yang menjaga seseorang dari kecenderungan menuju dua sisi/sikap yang ekstrem, sikap berlebih-lebihan dan melalaikan.

Al-Wasathiyah juga bisa diartikan dengan kondisi seimbang dan setara antara dua sisi, di mana satu sisi/ aspek tidak melampaui aspek yang lain, sehingga tidak ada yang berlebihan dan tidak pula melalaikan, tidak melampaui batas dan mengurangi. Namun, makna al-wasathiyah adalah sikap mengikuti yang lebih utama, lebih pertengahan, lebih baik dan lebih sempurna.

Makna dari Wasathiyah itu sendiri adalah Secara bahasa, kata wasath berarti sesuatu yang ada di tengah. Dalam Mufradât Alfâzh Al-Qur’ân menyebutkan secara bahasa bahwa kata wasath ini berarti, “Sesuatu yang memiliki dua belah ujung yang ukurannya sebanding.”

Istilah wasathiyah ini biasanya digunakan dengan menggunakan dasar dalil dari Q.S Al-Baqarah: 143 sebagai berikut:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

Baca Juga:  Memahami Konsep Milkul Yamin Dalam Islam Bagian 1

Artinya: Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

Yusuf Al-Qardhawi mengatakan, “Kata Wasathiyah juga diungkapkan dengan istilah tawazun (seimbang). Yang kami maksudkan adalah bersikap tengah-tengah dan seimbang antara dua aspek yang saling berseberangan, di mana salah satu aspek tidak mendominasi seluruh pengaruh dan menghilangkan pengaruh aspek yang lain, di mana salah satu aspek tidak mengambil hak yang berlebihan sehingga mempersempit hak aspek yang lain.”

Baca Juga:  Siapakah Dajjal dan Bagaimana Sosoknya? Ini Penjelasan Para Ulama

Contoh aspek-aspek yang saling berseberangan adalah aspek ruhiyah (spiritual) dan madiyah (materiil); aspek individual dan aspek kepentingan kolektif; aspek realitas dan idealis; aspek yang sikap konstan (dogmatik) dan aspek yang mungkin berubah-rubah.

Adapun makna seimbang di antara kedua aspek yang berlawanan, adalah membuka ruang masing-masing aspek secara luas; memberikan hak masing-masing secara adil dan seimbang, tanpa penyimpangan, berlebih-lebihan, pengurangan, tindakan melampaui batas atau merugikan (AlQardhawi: 17).

Mochamad Ari Irawan