9 Bocoran Kunci Kesuksesan Dakwah Rasulullah yang Bisa Kita Teladani

9 Bocoran Kunci Kesuksesan Dakwah Rasulullah yang Bisa Kita Teladani

PeciHitam.org – Menurut Shidiqi dalam buku Asal-usul dan Perkembangan Islam,ada beberapa kunci kesuksesan dakwah Rasulullah SAW dalam memimpin umat. Pada kesempatan kali ini, akan kami bocorkan beberapa kunci kesuksesan dakwah Rasulullah yang perlu kita teladani, antara lain:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pertama, akhlak Nabi yang terpuji tanpa cela. Keluhuran akhlak beliau sudah tercermin sejak lahir. Bahkan kejujurannya beliau mendapat julukan al-Amin dan karena kejujurannya pula beliau mendapat kepercayaan dari Siti Khadijah untuk membawa barang dagangannya.

Kemudian menjadi istri yang mendukung perjuangan dakwahnya dan karena kejujurannya pula beliau dipercaya dalam masalah meletakkan Hajar al-Aswad pada tempatnya setelah Ka’bah selesai direnovasi oleh Majlis Hilf al-Fadlul. Dengan kebijaksanaan Rasulullah SAW menyelesaikan tugas dengan baik.

Kedua, karakter Rasulullah SAW adalah tahan uji, ulet, teguh, sederhana dan semangat bekerja keras walaupun terlahir dalam keadaan yatim dari kalangan suku yang terpandang namun beliau tidak mau mengantungkan hidupnya pada belas kasih orang lain.

Beliau adalah orang yang mandiri sejak kecil. Beliau ikut menggembala ternak pamannya, sekaligus membantu pamannya berdagang. Perjalanan dagang pada masa tersebut merupakan suatu perjalanan yang sulit dan cukup berbahaya. Sikap percaya diri dan pengalaman hidup yang penuh perjuangan telah menempa pribadi Rasul hingga menjadi seorang pemimpin yang tangguh.

Baca Juga:  Banyak Dilakukan Oleh Masyarakat, Bolehkah Tahlilan Dalam Islam?

Ketiga, sistem dakwah Nabi yang menggunakan metode himbauan yang diwarnai oleh hikmah kebijaksanaan dalam menyeru manusia agar beriman dan mencegah kemungkaran, tidak ada unsur paksaan.

Allah memerintahkan “Tidak ada paksaan dalam beragama” (La ikraha fi ad-din), Nabi Muhammad SAW tidak pernah dendam terhadap orang-orang yang pernah menyakiti dan mencemoohnya, sifat himbauan yang komunikatif serta tanpa paksaan merupakan kebijaksanaan Nabi.

Keempat, tujuan perjuangan Nabi yang jelas menuju ke arah menegakkan keadilan dan kebenaran serta menghancurkan yang batil tanpa pamrih kepada harta, kekuasaan, dan kemuliaan duniawi.

Nabi menolak tawaran para pemimpin Quraisy jahili untuk menukar gerak perjuangannya dengan harta, tahta dan wanita, Nabi Muhammad SAW tidak akan meninggalkan tugas dakwahnya sampai agama Islam tegak.

Dan ketika Nabi telah menduduki jabatan sebagai pemimpin umat yang mempunyai kekuasaan, beliau tidak menggunakan harta baitulmal untuk menumpuk kekayaan baik untuk pribadi maupun untuk anggota keluarganya.

Kelima, prinsip persamaan. Rasulullah SAW tidak pernah membedakan satu dengan yang lain dalam bergaul, beliau bersikap sama terhadap semua orang, baik dengan yang kuat maupun yang lemah, baik yang pintar maupun bodoh, yang kaya maupun miskin, baik terhadap musuh maupun sahabat. Beliau tidak pernah sekalipun menghardik yang bersifat menghina, dengki kepada seseorang dan bermuka masam kepada siapapun.

Baca Juga:  Kalimat Sederhana Ini Ternyata Bisa Menambah Datangnya Rezeki

Keenam, prinsip kebersamaan. Rasulullah SAW dalam menggerakkan orang berbuat tidak hanya sekedar memberikan perintah, namun beliau sendiri terjun memberikan contoh. Beliau sendiri ikut terjun menyingsingkan lengan baju dan kaki jubahnya dalam membangun masjid Quba di Madinah, dan beliau selalu ikut terjun langsung dalam setiap pembangunan maupun medan tempur memimpin pasukan.

Ketujuh, mendahulukan kepentingan dan keselamatan pengikutnya. Ketika sikap permusuhan orang-orang Quraisy Jahili sudah sampai taraf sadistis, Nabi memerintahkan sebagian kaum muslimin berhijrah ke Abbesynia (Habasyah) demi keselamatan iman dan fisik mereka, sedangkan Nabi sendiri beserta beberapa orang sahabat lain; Abu Bakar, Umar dan Ali tetap tinggal di Mekah menghadapi berbagai macam cobaan. Namun risiko ini beliau abaikan demi keselamatan para pengikut.

Kedelapan, selain wewenang kerasulan yang hanya diperuntukkan bagi dirinya oleh Allah SWT, maka wewenangnya selaku pemimpin umat dan negara ada sebagian yang didelegasikan kepada pejabat bawahannya.

Baca Juga:  Lebih Bagus Mana, Dzikir dengan Hati Ataukah dengan Lisan?

Rasulullah saw juga memberikan kebebasan berpendapat dan berkreasi kepada para sahabat yang menduduki suatu jabatan, kalua sekarang mungkin disebut otonomi.

Kesembilan, tipe kepemimpinan karismatik dan demokratis. Kewibawaan yang dimilikinya adalah murni yang lahir dari kebenaran dan kemurnian misi yang diembannya. Kepatuhan orang terhadap dirinya bukan karena rasa takut atau terpaksa, tetapi karena rela.

Sifat demokratis kepemimpinan Nabi ini ditunjukkan pula oleh sikap beliau yang terbuka terhadap kritik dan saran orang lain. Nabi bahkan dengan rendah hati, tanpa malu ketika menyatakan bahwa beliau tidak mengetahui segalanya (dalam hal keduniaan).

Mohammad Mufid Muwaffaq