Maqolah Kitab Nashoihul Ibad Karya Syekh Nawawi Al Bantani (Bagian 1)

maqolah kitab nashoihul ibad

Pecihitam.org – Alhamdulillah, dan pada akhirnya setiap santri maupun orang awam pun bisa mengkaji maqolah kitab Nashoihul Ibad yang sangat populer karangan al Alim al Alamah Syaikh Nawawi Al Bantani.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam kitab Nashoihul Ibad karya Syaikh Nawawi al Bantani terdapat maqolah dan nasehat yang beliau sampaikan, bahwasanya ada perkara-perkara yang lebih utama. Berikut adalah terjemah dari kitab tersebut.

Bismillahirahmanirahim, Qola Mu’alif Rohimakumullah Wa’anfaana Fi ‘ulumihi Fidaroini Amin.

Maqalah 1

‘Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya beliau bersabda “ada dua perkara yang tidak ada sesuatu yang lebih utama dari dua perkara tersebut yang pertama, iman kepada Allah artinya meyakini dalam hati bahwa Allah itu ada Allah adalah Maha dari segalanya, tiidak ada yang berhak disembah kecuali Allah selanjutnya yaitu berbuat baik kepada sesama muslim,, baik dengan ucapannya, kekuasaannya dengan hartanya maupun dengan badannya.

Dua perkara selanjutnya adalah berbuatlah kebaikan maka akan mendapat kebaikan pula. seperti sabda Rasulullah SAW., “Barang siapa yang pada pagi hari tidak mempunyai niat untuk tidak  menganiaya seseorang maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.  Dari sabda nabi tersebut dapat kita fahami bahwa ketika kita melakukan hal positif maka kita akan mendapatkan hal posiitif pula karena kebaikan yang kita lakukan  akan ada balasannya yang setimpal.

Baca Juga:  Kitab Al Umm Karya Imam As Syafii, Kitab Induk Madzhab Syafii

Selanjutnya “barang siapa yang waktu pagi memiliki niat memberikan pertolong kepada orang yang dianiaya atau memenuhi hajat orang Islam, maka baginya mendapat pahala, seperti pahalanya haji yang mabrur”. Ketahulah bahwa Allah itu tidak semata-mata memberikan sesuatu secara instan tidak pula menelantarkan hambaNya yang berbuat kebajikan.

Dan Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain, karena sebaik-baik manusia adalah yang mendatangkan kemanfaatan bagi orang lain.

خَيرُالنَّاس اَنْفَعَهُم لي النَّاسْ

            “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain”

Amalan yang paling utama adalah yang mampu membahagiakan hati orang mukmin dengan menghilangkan laparnya, atau menghilangkan kesusahannya, bisa juga dengan mengurangi beban hutangnya.

Baca Juga:  Kitab Nashoihul Ibad Karya Syekh Nawawi al-Bantani

Kemudian ada juga dua perkara yang tidak ada sesuatu yang lebih buruk dari dua perkara tersebut. Yang pertama syirik kepada Allah dan mendatangkan bahaya kepada kaum muslimin. Baik membahayakan atas badannya maupun hartanya. Seperti seorang perampok yang bisa membahayakan harta maupun badan bagi orang menjadi incaran rampok tersebut.

Sesungguhnya semua perintah Allah kembali kepada  perkara baik diatas, mengagungkan Allah dan berbuat baik pada sesama makhluk.

Maqalah 2

Bahwa Rasulullah SAW. Bersabda “Wajib bagi kamu semua untuk duduk dengan para Ulama”. Artinya kita hendaknya mendekatkan diri kepada para ulama, dimana mereka adalah orang-orang berilmu, maka dianjurkan kepada kita untuk mendekatkan diri kepada orang-orang yang berilmu. Karena seperti pepatah “ketika kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan tertular wanginya”. Begitupun ketiika kita dekat dengan para Ulama, maka kita juga akan tertular kebaikan dan Barokah dari ulama tersebut.

Sesungguhnya ulama itu ada dua macam: 1) orang yang alim tentang hukum-hukum Allah, ulama seperti ini adalah golongan ulama yang fatwa-fatwanya sesuai dan banyak dipergunakan. 2)Ulama yang ma’rifat akan Allah, ulama yang demikian adalah ulama yang ketika kita berkumpul atau bergaul dengan beliau akan dapat memperbaiki akhlak kita.

Baca Juga:  Kitab Al Hikam karya Syekh Ibnu Atthoillah Iskandari

Ulama yang demikian itu hati meraka telah bersinar, sebab ma’rifat kepada Allah. Nur nya terpancar karena suatu anugrah yang tidak semua manusia memilikinya, hanya orang-orang pilihan yang mampu pada level ma’rifatullah.

Ulama yang telah mencapai level ma’rifatullah, maka keberkahan akan melimpah, tidak menunjukkan keistimewaan dirinya, namun orang lainlah yang dapat melihat keistimewaan beliau, tidak ada setitik kedengkian dalam dirinya, tidak ada rasa kesombongan pada dirinya. Mereka apa adanya tidak berlebihan dan tidak menyombongkan diri. Bahkan terkadang orang lain tidak menyangka, seseorang yang demikian memiliki keiistimewaan.

Bersamung bagian selanjutntya …

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik