Menziarahi Gus Miek Melalui Teks Gus Dur

Menziarahi Gus Miek Melalui Teks Gus Dur

Pecihitam.org – Pada celah usia saya, bismillah, saya ingin berziarah ke Gus Miek melalui satu pintu dari jutaan pintu masuk. Pintu itu adalah seorang yang sama-sama hingga “mangkat” setia disebut “Gus”, yakni tokoh karib Gus Miek, ia adalah Gus Dur. Gus Dur sebagai pintu masuk ke Gus Miek pun boleh jadi punya pintu-pintu lain.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Misalnya, saya bisa sowan ke Gus Dur dan bertanya ihwal siapa sesungguhnya Gus Miek, namun tentu ini mustahil. Yang paling mungkin adalah dengan melihat realitas saat ini, bahwa di hadapan saya ada satu teks karya Gus Dur mengenai Gus Miek.

Judulnya “Gus Miek: Wajah Sebuah Kerinduan”. Tulisan ini terbit pada 13 Juni 1993 di Kompas. Sebagaimana membaca adalah menziarahi teks, saya berusaha berziarah dan menangkap kepribadian Gus Miek melalui “kesaksian” teks yang ditulis Gus Dur.

Kewalian Gus Miek

Gus Dur menulis teks itu dengan mula-mula membahas sisi “kelebihan” Gus Miek, yakni kemampuan supranatural. Diceritakan bahwa Gus Dur menemui Gus Miek di sebuah Surau di Tambak, desa Ploso, Kediri. Kedua “Gus” kharismatik berjumpa di beranda bayt Allah, rumah Allah.

Lantas, Gus Miek menunjuk sebidang tanah yang ia beli dan berkata kepada Gus Dur, “di situ nanti Kiai Achmad akan dimakamkan. Demikian juga saya. Dan nantinya Sampeyan.”

Tanah itu sengaja dibeli Gus Miek untuk makbarah para penghafal Qur’an. Walau tidak terjadi pada Gus Dur, perkataan Gus Miek terbukti nyata. Setahun usai perjumpaan itu, KH. Achmad Siddiq wafat, beliau dikebumikan di tanah dekat surau itu.

Baca Juga:  Sunan Bonang, Seorang Seniman yang Mengharmoniskan Seni-Budaya Jawa dengan Islam

Dalam untai kalam sufi-bijak bestari, dikatakan bahwa orang-orang sufi itu perkataannya mendahului realitas. Wallahu a’lam. Namun, dimakamkannya KH. Achmad Siddiq di tanah itu menjadi titik pijak Gus Dur membincang potret kewalian Gus Miek dalam teksnya itu.

Gus Dur pula mengurai bahwa magnet kuat mengapa banyak orang berduyun-duyun memadati acara keagamaan Gus Miek, adalah sebab kemasyhuran Gus Miek sebagai sosok yang disebut Gus Dur dengan saint (wali), orang yang keramat.

“Reputasi sebagai orang keramat ini, dinilai sebagai pendorong mengapa banyak orang berbondong-bondong memadati acara keagamaan yang dilangsungkan oleh Gus Miek.

Sema’an (bersama-sama mendengarkan al-Qur’an oleh para penghafalnya) yang diselenggarakannya di mana-mana, selalu penuh sesak oleh rakyat banyak,” urai Gus Dur.

Gus Miek di Antara “Dunia Malam” dan Pengajian

Orang normal akan bergaya-hidup lumrah dengan standar-standar umum. Ketika ada seorang kiai fasih membaca kitab kuning, itu bukanlah hal aneh, sebab itu normal. Ketika ada seorang pelukis membuat lukisan indah, itu bukan hal aneh, sebab memang pelukis itu piawai melukis.

Namun, ketika seorang KH. Hamim Djazuli dalam kepekatan malam duduk di bawah lampu diskotik, club malam, bergumul dalam hiburan malam, apakah itu lumrah? Dalam tulisannya, Gus Dur memotret bagaimana sosok Gus Miek yang olehnya disebut “menempuh dua pola kehidupan sekaligus” yang terkesan kontradiktif.

Baca Juga:  Ketika Ronggowarsito Menjadi Santri di Pesantren Gebang Tinantar

Bagaimana mungkin seorang kiai berada di tengah-tengah wanita penghibur? Bagaimana mungkin seorang kiai menenggak bir hitam? Sekilas, akal kita bakal menolak kemungkinan itu. Namun, faktanya, kemungkinan itu benar-benar terjadi pada diri seorang kiai pesantren bernama Gus Miek.

Bagi Gus Dur, sosok Gus Miek itu baik di tengah-tengah kerumunan santri dan jama’ah sema’an Qur’an maupun di antara kerlap-kerlip lampu diskotik, adalah Gus Miek yang sama. Adalah Gus Miek yang satu yang tugasnya tiada lain menjadi oase bagi kegersangan jiwa-jiwa.

“Kontradiktif? Ternyata tidak, karena di kedua tempat itu ia berperan sama. Memberi kesejukan kepada jiwa yang gersang, memberikan harapan kepada mereka yang putus asa, menghibur mereka yang bersedih, menyantuni mereka yang lemah dan mengajak semua kepada kebaikan,” tulis Gus Dur.

Dunia Gus Miek yang Sebenarnya: Kesahajaan

Ibarat air laut, hubungan Gus Dur dan Gus Miek tak selamanya pasang-harmonis. Satu rentang waktu, hubungan kedua Gus itu surut. Ini terjadi ketika Gus Miek terang-terangan mendukung seorang “jago” untuk jabatan Wapres. Gus Dur diajak mendukung, namun menolak. Mengenai ini, Gus Dur mengurai demikian:

“Untuk beberapa bulan hubungan saya dengan Gus Miek secara batin menjadi sangat terganggu … saya menolak untuk mendukung jagonya untuk jabatan Wapres, dan ini membuat ia tidak enak perasaan kepada saya.”

Baca Juga:  Ini Warisan Kiai Sahal dalam Fikih Sosial Yang Wajib Kita Pelajari

Namun, hal demikian bagi Gus Dur menunjukkan bahwa sekeramat apa pun Gus Miek, ia hanyalah manusia biasa. “Gus Miek juga hanyalah manusia biasa. Manusia yang memiliki kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan.”

Terlepas dari surutnya hubungan dua Gus itu, ada hal yang sangat membekas dan menjadi buah-buah rindu Gus Dur. Membingkai soal ini Gus Dur mengurai:

“sejauh apa pun hubungan kami berdua, saya sendiri tetap rindu kepada Gus Miek … kalau malam, menjelang pagi, ia tidur beralaskan kertas koran di rumah pak Syafi’i Ampel di kota Surabaya, atau pak Hamid di Kediri. Yang dimiliki pak Hamid hanyalah sebuah kursi plastik jebol dan dua buah gelas serta teko logam. Itulah dunia Gus Miek yang sebenarnya.”

Wallahul muwaffiq.

Mutho AW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *