Milikilah Sanad Ilmu Agar Apa yang Dipelajari Menjadi Berkah dan Saat Berdakwah Jauh dari Sumpah Serapah

Milikilah Sanad Ilmu Agar Apa yang Dipelajari Menjadi Berkah dan Saat Berdakwah Jauh dari Sumpah Serapah

Pecihitam.org – Salah satu keistimewaan ummat Islam adalah sanad. Selain berupa perangkat penangkal distorsi, sanad juga berfungsi agar setiap orang mudah berkata ini, itu dalam hal agama tanpa rentetan sanad yang jelas. Maka sanad ilmu itu sangatlah penting.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam ilmu hadis misalnya, keberadaan sanad akan menjaga kemurnian dan keotientikannya sebagaimana telah disebutkan di dalam kitab-kitab mustholah al-Hadits.

Maka sanad atau isnad merupakan bagian terpenting dalam agama Islam. Kemurnian ajaran agama Islam dapat terjaga melalui sanad keilmuan dari seorang guru ke murid, dan munculnya faham-faham menyimpang yang dapat menyesatkan umat Islam sangat kecil kemungkinannya untuk tidak terdeteksi.

Sanad atau Isnad inilah yang tidak dimiliki selain Ahlus sunnah wal Jama’ah. Abdullah bin Mubarak, salah satu murid Imam Malik berkata

الاسناد من الدين ولولا الاسناد لقال من شاء ماشاء

Sanad merupakan bagian dari agama, dan apabila tidak ada sanad maka orang akan seenaknya mengatakan apa yang ingin ia katakan.

Sufyan Ats-Tsauri juga berkata:

الإسناد سلاح المؤمن فإذا لم يكن معه سلاح فبأي سلاح يقاتل

Sanad adalah senjata orang mukmin, jika ia tidak memiliki senjata maka dengan apa ia berperang?.

Al-Qadhi Abu Bakar Al-Arabi berkata di dalam kitabnya Sirajul Muridin halaman 80:

والله أكرم هذه الأمة بالإسناد، لم يعطه أحد غيرها، فاحذروا أن تسلكوا مسلك اليهود والنصارى فتحدثوا بغير إسناد فتكونوا سالبين نعمة الله عن أنفسكم، مطرقين للتهمة إليكم، وخافضين المنزلتكم، ومشتركين مع قوم لعنهم الله وغضب عليهم، وراكبين لسنتهم

Allah memuliakan umat ini dengan isnad yang tidak diberikan pada selain umat ini. Maka berhati-hatilah kalian dari mengikuti jalan Yahudi dan Nashrani shingga kalian berbicara (tentang ilmu) tanpa sanad. Maka kalian menjadi orang yang mencabut nikmat Allah dari diri kalian, menyodorkan kecurigaan, merendahkan kedudukan dan bersekutu pada kaum yang Allah laknat dan murkai.

Imam Syafi’i juga berkata: “Yang mencari ilmu tanpa sanad adalah bagaikan pencari kayu bakar di malam hari yang gelap dan membawa pengikat kayu bakar yang padanya ular berbisa yang mematikan dan ia tak mengetahuinya”

Dan jika kita tilik dalam al-Quran, terdapat pula ayat yang menjelaskan urgensitas sanad bagi orang-orang belakangan. Allah Swt berfirman:

Baca Juga:  5 Nasehat Abu Laits As Samarqandi dalam Berkerja

قل أرأيتم ما تدعون من دون الله أروني ماذا خلقوا من الأرض أم لهم شرك في السماوات ائتوني بكتاب من قبل هذا أو أثارة من علم إن كنتم صادقين

Katakanlah! Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah Swt; perlihatkanlah pada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat dalam penciptaan langit? Bawalah pada-Ku kitab yang sebelum al-Quran ini atau peninggalan (dengan sanad yang shahih) dari pengetahuan (orang-orang terdahulu), jika kamu adalah orang-orang benar! (QS. Al-Ahqaf ayat 4)

Perhatikanlah kalimat


او اثارة من علم

Oleh Al-Laits as-Samarqandi ulama ahli tafsir, ayat tetsebut diartikan dengan periwayatan dari para Nabi dan ulama.  Selaras dengan Mujahid yang menafsirinya dengan periwayatan dari orang-orang sebelumnya.

وقال مجاهد: رواية تأثرونها عمن كان قبلكم

Bahkan imam Qurthubi dalam tafsirnya juga menafsirkan dengan suatu pengetahuan yang dikutip dari kitab orang-orang terdahulu dengan sanad yang shahih sampai kepada mereka secara mendengarkan langsung

ثم قال : ائتوني بكتاب من قبل هذا فيه بيان أدلة السمع أو أثارة من علم

Sanad atau isnad terbagi menjadi dua

Pertama, Sanad periwayatan
Keberadaan sanad periwayatan ini berfungsi memfiltter pemalsuan hadits yang dinisbatkan pada Rasulullah sebagaimana telah diperingatkan beliau dalam sebuah haditsnya:

من يقل علي مالم اقل فليتبواء مقعده من النار

Siapa saja yang mengatakan suatu perkataan dan menisbatkannya padaku sesuatu yang tidak pernah aku katakana, maka hendaklah ia duduk di neraka. ( HR. Bukhari)

Para ulama sangat berhati-hati dalam meriwayatkan dan menisbatkan suatu hadits pada Rasulullah Saw. Mereka akan meneliti terlebih dahulu para rawi seatasnya, apakah sanad mereka tersambungkan kepada Rasul Saw atau tidak.

Baca Juga:  Perkara Syubhat (Samar) dan Anjuran untuk Meninggalkannya

Sehingga kemudian muncul istilah Hadits dha’if, hasan dan hadits shahih, serta semisalnya yang terdapat dalam disiplin ilmu Musthalahah al-Hadits.

Dalam periwayatan hadits ini diketahui bahwa para perawi meriwayatkannya dari Rasulullah Saw. Lalu perawi di bawahnya mengambil hadits tersebut darinya, dan begitu seterusnya sampai hadits itu sampai pada Imam Bukhari semisal.

Kemudian beliau mengumulkan hadits-hadits yang diterima dari rawi seatasnya dalam sebuah kitab yang pada akhirnya kitab Imam Bukhari tersebut sampai pada kita.

Kedua, Sanad keilmuan
Para ulama di antaranya Imam Malik bin Anas, Ibnu Sirin dan selain keduanya berkeyakinan

إن هذا العلم دين ، فانظروا عمن تأخذوا دينكم

Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamau / ilmumu.

Ibnu Arabi berkata:

فما زال السلف يزكون بعضهم بعضا و يتوارثون التزكيات خلفا عن سلف ، و كان علماؤنا لا يأخذون العلم إلا ممن زكي وأخذ الإجازة منأشياخه

Para ulama salaf selalu memuji satu sama lainnya, dan terus terwariskan dari generasi ke generasi, dan demikian para ulama kita, tidak mengambil ilmu terkecuali dari orang yang bersih dan mengambil ijazah dari para gurunya.

Syaikh Abdul Qadir al-Jazairi berkata: Seseorang tidak dibenarkan menisbatkan keterangan yang ada di dalam sebuah kitab pada pengarangnya tanpa mempunyai sanad.

Para ulama menjadikan keberadaan sanad sebagai syarat seseorang bisa mengamalkan keterangan atau pendapat yang terdapat dalam berbagai kitab dan menggunakannya sebagai hujjah.

Karena sanad keilmuan atau periwayatan kitab tidak ubahnya seperti periwayatan hadits. Munculnya banyak paham-paham menyimpang dan sesat, kebanyakan ditimbulkan karena tidak memperhatikannya masalah sanad ini.

Baca Juga:  Pentingnya Guru dan Sanad Yang Jelas Dalam Ilmu Agama

Sehingga kadang kita ketahui, ada seseorang yang belajar dari sebuah buku terjemahan saja atau mungkin dari sebuah situs di internet yang tidak jelas, kemudian orang tersebut memamahaminya dengan pemikirannya yang tidak sesuai dengan maksud sebenarnya atau kadang slah paham dengan maknanya.

Maka jadilah pemahamnnya tersbut telah menyesatkan dirinya dan bahkan orang lain. Maka sebagaimana telah menjadi keharusan dalam periwayatan hadits sebagai bukti keautentikannya dan telh menjadi sunnah sahabat, tabi’in serta salaf shalih, ia menjadi keharusan pula bagi orang yang meriwayatkan keterangan para ulama dari kitab-kitab mereka.

Adapun cara medapatkan sanad keilmuan atau periwayatan kitab sebagaimana dalam periwayatan hadits terdapat metode antara lain:

Sima’, yaitu mendengarkan bacaan guru atas kitab yang diriwayatkan.

Qiraah, yaitu membaca kitab tersebut dan didengarkan langsung oleh seseorang guru.

Kedua metode ini disebut dengan metode Talaqqi.

Ijazah, yaitu idzin seseorang guru untuk meriwayatkan kitab tersebut.

Generasi muslim periode awal merupakan generasi yang sangat memperhatikan masalah periwayatan. Perhatian mereka dalam masalah ini begitu besar baik periwayatan al-Quran dan metode bacaannya, periwayatan hadits, fiqih, nahwu maupun berbagai disiplin ilmu lainnya. Hal ini tampak jelas dalam kitab karangan mereka.

Faisol Abdurrahman