Keistimewaan Menikah di Bulan Syawal, Para Jomblo Wajib Tahu!

Keistimewaan Menikah di Bulan Syawal

Pecihitam.org – Setelah berlalunya bulan suci Ramadhan, kini datang penuh ke-fitri-an. Bulan dimana semua dosa dimaafkan, bulan dimana jalinan persahabatan kembali direkatkan, dan bulan pertemuan antara mereka yang bermusuhan

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Di bulan syawal ini juga ada keistimewaan yaitu biasanya orang-orang banyak yang menikah. Namun dalam kebiasaan orang Arab jahiliyah, bulan Syawal diidentikkan dengan bulan sial untuk menjalankan pernikahan.

Dalam tradisi orang Arab jahiliyah, bulan Syawal digambarkan dengan unta betina yang mengangkat ekornya (syalat bidzanabiha), artinya unta tersebut tidak mau dan tidak ingin menikah.

Tanda ini juga member isyarat bahwa unta jantan menolak untuk mendekat. Jika ditarik garis kesimpulan, para wanita enggan untuk menerima pinangan begitu pula walinya akan gampang menolak.

Akan tetapi, tradisi ini segera dibantah Nabi sebagai penyebar agama keselamatan. Tidak ada bulan kesialan untuk menikah. Maka pada bulan Syawal, Nabi menikahi istri termudanya yaitu Aisyah binti Abu Bakar. Pernikahan ini tercatat dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim).             

Baca Juga:  Gus Baha Ditanya, Melakukan Maksiat Apakah Termasuk dalam Takdir Allah?

Pernikahan di bulan Syawal menjadi kekhawatiran tersendiri pada masyarakat Jahiliyah karena keberadaan bulan Syawal sebagai salah satu dari dua ied (Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha).

Jika ada orang yang menikah di bulan ied, dikhawatirkan akan ada perceraian. Padahal anggapan tersebut tidak dapat dibenarkan karena bisa menghalang-halangi mereka ingin melaksanakan kebaikan.

Anggapan bulan sial menikah pada bulan syawal bisa menuntun pada kesyirikan. Anggapan sial akan mendahului takdir yang telah diciptakan Allah ta’ala, karena sejatinya hanya Allah yang bisa menentukan untung atau ruginya sesuatu tersebut. Hal ini jelas termuat dalam salah satu hadits riwayat Imam Ahmad.

“Thiyarah (anggapan sial terhadap sesuatu) adalah kesyirikan. Dan tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (pernah melakukannya), hanya saja Allah akan menghilangkannya dengan sikap tawakkal” (HR. Ahmad).

Tidak mudah mengikis sebuah tradisi yang sudah melekat pada masyarakat. Butuh kreatifitas dan usaha yang lebih untuk pelan-pelan menghapus tradisi yang berjalan. Sebagai pimpinan Rasulullah telah mencontohkan secara langung dengan melakukan pernikahan di bulan Syawal.

Baca Juga:  Islam adalah Agama Toleransi, Sejak Dahulu, Kini dan Nanti

Dalam hal ini, Rasulullah ingin membuktikan sekaligus menganjurkan untuk menikah di bulan Syawal. Sebagai pemimpin tertinggi umat Islam, tentu tindakan yang dilakukan oleh Rasul akan berdampak besar bagi umat Islam.

Pernikahan Rasulullah dengan Aisyah ternyata membuat kemajuan bagi umat Islam. Aisyah yang terkenal dengan kepandaiannya, gemar menulis hadits yang di masa depan dijadikan rujukan bagi umat Islam. Tidak terlihat adanya perceraian diantara mereka, dan ini membuktikan anggapan salah dari masyarakat jahiliyah yang menganggap kesialan menikah di bulan Syawal.

Keyakinan masyarakat akan kesialan menikah di bulan Syawal adalah sebuah tahayul belaka tanapa adanya bukti yang kuat. Begitu pula, dasar dari kesialan menikah di bulan Syawal tidak disebutkan secara matang.

Anggapan kesialan hanya didasarkan pada kata Syawal yang berasal dari kata al-isyalah dan ar-raf’u yang berarti menghilangkan atau mengangkat dan bisa ditarik kesimpulan ketidakberuntungan bagi masyarakat jahiliyah.

Baca Juga:  Mengganti Nama Anak Dalam Islam

Maka, anggapan tersebut tidak bisa dibenarkan. Satu-satunya yang bisa kita ambil pelajaran adalah pernikahan Rasulullah dan Aisyah di bulan Syawal. Dimana bulan Syawal menjadi saksi suci cinta mereka berdua.

Sepasang kekasih yang saling mencintai dan menguatkan dalam membela agama Islam. Tidak ada rasa ragu diantara mereka adanya kesialan yang menimpa karena pernikahan yang dilakukan di bulan Syawal.    

Demikianlah keistimewaan bagi siapa saja yang menikah di bulan syawal. Semoga bermanfaat. Wallahua’lam bisshawab.

Muhammad Nur Faizi