Dalil Kesunnahan Puasa Asyura, Puasa yang Disunnahkan di Bulan Muharram

dalil puasa asyura

Pecihitam.org – Sebagian masyarakat masih tidak yakin tentang kesunnahan puasa pada tanggal 9 Muharram (tasu’a) dan 10 Muharram (asyura). Bahkan ada yang ekstrim menyebut bahwa puasa di dua hari tersebut dianggap tidak memiliki dasar dan bukan ajaran Islam. Tasu’a sendiri berasal dari bahasa arab tis’a artinya sembilan, sementara ‘asyura berasal dari ‘asyara berartikan sepuluh. Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 Muharram pada Kalender Hijriyah. Hukum puasa ini merupakan puasa sunnah, yaitu dianjurkan untuk dikerjakan namun tidak berdosa bagi yang tidak melakukannya.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Puasa itu bisa menghapuskan dosa-dosa kecil pada tahun kemarin.” (HR. Muslim).

Puasa Asyura sudah dilaksanakan dan sudah menjadi tradisi masyarakat Quraisy Makkah pada masa jahiliyyah. Rasulullah SAW juga melaksanakannya ketika masih berada di Makkah maupun setelah berada di Madinah. Dalam Kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syaikh Zainuddin Al Malibari dibahas secara eksplisit tentang kemuliaan hari Asyura. Dijelaskan dalam kitab tersebut empat hadits shahih dan satu pendapat berdasarkan kesepakatan ulama.

Hadits yang pertama, diriwayatkan oleh Imam Nasai yang menjelaskan tentang Rasulullah yang melaksanakan puasa di bulan Muharram setelah bulan Ramadhan. Kemudian Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa Muharram juga. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Muharram adalah bulannya Allah yang di dalamnya tepat menjadi hari bertaubat umat Islam atas dosa-dosa yang terdahulu“.

Baca Juga:  Hukum Membaca Sholawat Nabi Menurut Pendapat Para Ulama

Hadits yang kedua, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang berasal dari Ibnu Abbas yang menceritakan keberadaan Nabi Muhammad saat di Madinah. Dimana penduduk Madinah yang beragama Yahudi juga berpuasa para hari Asyura. Salah satu dasaran yang dipakai oleh Yahudi karena Nabi Musa puasa di hari itu sebagai ungkapan terima kasih karena Allah telah menenggelamkan Fira’un dan Musa beserta kaumnya selamat. Kemudian Nabi Muhammad bersabda: “Kami lebih memiliki hak dan lebih memuliakan Nabi Musa daripada Anda“. Maka Nabi berpuasa Asyura dan menginstruksikan para sahabat untuk berpuasa Asyura.

Hadits yang ketiga, diriwayatkan dari Imam Muslim dari Abi Qatadah bahwasannya Rasulullah pernah ditanya oleh sahabat terkait puasa Asyura. Nabi menjawabnya: “Puasa Asyura dapat melebur dosa satu tahun sebelumnya“.

Hadits yang keempat, diriwayatkan dari Imam Baihaqi dimana Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa di tanggal 9 dan 10 Muharram dengan niat tidak menyamakan dengan ibadah sunnah puasanya orang Yahudi.

Sedangkan pendapat para ulama terdahulu menyebutkan bahwasannya pahala puasa Asyura adalah mendapatkan pengampunan tujuh puluh tahun dari dosa-dosa yang pernah dilakukan. Tentunya masih banyak lagi keutamaan-keutamaan hari Asyura yang dijelaskan dalam Kitab Irsyadul ‘Ibad berdasarkan hadits-hadits Nabi Muhammad. Penulis hanya menjelaskan empat hadits yang sudah cukup menjadi dasaran puasa sunnah 9 dan 10 Muharram.

Baca Juga:  Bolehkah Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal? Ini Pendapat Para Ulama

Dalam kitab Fadlilati Muharram wa Rajab wa Sya’ban karya Syaikh Muhammad Sholih bin Umar Assamarani (dikenal dengan K.H. Sholeh Darat) juga dijelaskan terkait keutamaan hari Asyura. K.H. Sholeh Darat mengambil keterangan tersebut dari Kitab Tarikhul Khamis karya Syaikh Husain bin Muhammad bin Hasan Addayyari Bakri dijelaskan mengenai perintah Nabi Muhammad kepada para sahabat melakukan puasa Asyura.

Selain itu, sabda Nabi Muhammad terkait puasa asyura: “Barangsiapa puasa tanggal 10 Muharram, maka mendapatkan pahala 10.000 malaikat, 10.000 orang yang haji dan umroh dan 10.000 orang yang mati syahid“.

Semestinya puasa sunnah di bulan Muharram tidak cuma semata-mata hanya ada di tanggal 9 dan 10 Muharram saja. Syaikh Abdul Hamid Al Qudsi dalam Kitab Kanzun Najah Wassurur menjelaskan bahwasannya bulan Muharram merupakan bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT dan di dalamnya terdapat banyak amalan-amalan sunnah, termasuk puasa.

Imam Ibnu Hajar menyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hafsah, Nabi bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa di akhir bulan Dzulhijjah dan awal bulan Muharram, maka Allah akan menjadikannya penebus dosanya selama 50 tahun. Dan puasa satu hari di bulan Muharram sama dengan puasa tiga puluh hari“.

Baca Juga:  Kritik Terhadap Kitab Ensiklopedi Aqidah dan Bid'ah Salafi Wahabi

Sedangkan Imam Ghazali menjelaskan puasa sunnah dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin, berikut isinya: “Barangsiapa berpuasa tiga hari di bulan mulia (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Rajab dan Muharram) di hari Kamis, Jum’at dan Sabtu, maka Allah akan mencatat baginya ibadah 700 tahun“.

Melihat kemuliaan bulan Muharram ini, alangkah baiknya jika sebagai umat Islam melaksanakan amalan-amalan baik sebagaimana yang telah diajarkan dan dilaksanakan Rasulullah. Dan sudah jelas bahwa puasa sunnah di bulan Muharram sangat mendapatkan pahala yang sangat besar. Di antara sunnah berpuasa di bulan Muharram dapat dikategorikan menjadi lima: puasa awal Muharram, puasa 1 hari Muharram, puasa 3 hari Muharram (Kamis, Jum’at dan Sabtu), puasa 9 Muharram dan puasa 10 Muharram (puasa asyura).

Mohammad Mufid Muwaffaq

Content Creator at Pecihitam.org
Santri Pondok Pesantren Qomaruddin, Sarjana Theologi Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jjurusan Ilmu al-Quran dan Tafsir, Mahasiswa Magister di jurusan Studi Quran Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi, menyedekahkan sebagian harta kamu di Jalan Dakwah

DONASI SEKARANG