Bulan Ramadhan; Makna, Dalil Kewajiban Puasa dan Budaya Ibadah di Dalamnya

Bulan Ramadhan; Makna, Dalil Kewajiban Puasa dan Budaya Ibadah di Dalamnya

PeciHitam.org – Tarawih berjamaah selama sebulan penuh. Siang harinya berpuasa dari munculnya fajar Shadiq (sekira 10 menit sebelum Subuh) sampai tenggelamnya matahari.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Orang berpuasa, tempat-tempat makanan banyak yang menutup pintunya (terkadang hanya ditutup saja, masih melayani). Dan bahkan beberapa Razia tempat hiburan atau warung makan oleh organisasi masyarakat yang ingin menjaga kesucian bulan penuh ampunan ini.

Sekelumit hiruk-pikuk Bulan Ramadhan, bulan yang mempunyai segudang keistimewaan dan kelebihan disbanding bulan lainnya. Beberapa bersifat positif dalam menyambut bulan Ramadhan, disisi lain bersikap “bioso wae”. Yang biasa rokokan tetap melakukan, yang biasa marung tetep Pede dengan tindakannya, apalagi di Kota-kota besar.

Siang jalan-jalan sambil mampir warung, sore hari siap-siap kultum dan takjilan Masjid. Akan tetapi bagi seorang Muslim yang taat, bulan Ramadhan menjadi kesan tersendiri. Para Muslim yang Taat benar-benar memanfaatkan bulan penuh keberkahan ini dengan berbagai peribadatan Wajib dan Sunnah.

Nama Bulan Ramadhan

Ramadhan (رمضان) atau biasa ditulis juga Ramadan merupakan bulan diwajibkannya puasa bagi orang Islam yang sudah memenuhi umur akil baligh.

Kewajiban puasa baru muncul pada tahun ke-2 setelah Hijrah. Penghitungan dalam kalender Islam, Ramadhan berada diurutan bulan nomor 9, diapit oleh Syawal dan Sya’ban.

Aslinya, kata Ramadhan berasal dari suku kata (رمض) Ramida-ar-Ramada yang bermakna Panas, Hangus atau Kekeringan. Karena biasanya di Arab Puasa jatuh pada musim Panas.

Nama lain Ramadhan adalah Bulan Ampunan yang merujuk pada dasar Hadits Rasulullah SAW di bawah ini;

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya; “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Imam Bukhari)
Ramadhan juga sering disebut dengan Bulannya Al-Qur’an. Merunut sejarah, memang ditemukan bukti bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan ramadhan, sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 185;

Baca Juga:  Batal Nikah, Bolehkah Mengambil Kembali Seserahan Lamaran? Ini Penjelasannya

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya; “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Selain dinamakan bulan Ampunan dan bulan Al-Qur’an, Ramadhan dinamakan Bulan Penuh Berkah. Dasarnya adalah Hadits Riwayat Abu Hurairah RA;

 إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

Artinya; “Apabila Ramadhan datang maka pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu.” (HR. Muttafaqun ‘Alihi)

Pada teks riwayat Hadits tersebut an-Nasa-i dan Imam Ahmad meriwayatkan redaksi tambahan yaitu “Telah datang kepadamu Ramadhan, bulan yang penuh barakah”.

Kewajiban Puasa Bagi Orang Muslim

Puasa dibebankan kepada umat Islam bertepatan dengan tahun 2 Hijriyah. Tahun itu juga menjadi tahun berat bagi Nabi Muhammad SAW karena mendapat Embargo Ekonomi dari beberapa Aliansi suku yang dipimpin oleh kaum Musyrik Makah. Keringnya suasana Khas Gurun pasir Arab menjadikan puasa pada saat itu berat.

Hukum pelaksanaan puasa bagi kaum Muslim adalah Fardlu ‘Ain, yaitu kewajiban bagi setiap individu Muslim yang sudah memenuhi syarat umur akil baligh.

Pada tahun diwajibkannya puasa, juga bertepatan dengan perang besar bagi Kaum Muslim yakni perang Badar yang dimenangkan oleh Umat Islam.

Baca Juga:  'Illat Yang Mempengaruhi Hukum Menggunakan Kosmetik Beralkohol

Kewajibannya puasa di Bulan Ramadhan setelah turun surat Al-Baqarah ayat 183 pada bulan Sya’ban.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Qs. Al-Baqarah: 183)

Beda Rukyah dan Hisab dalam Awal Bulan Ramadhan

Akur dalam penentuan dan penetapan awal bulan Ramadhan dan awal Syawal menjelma menjadi barang Langka di Indonesia. Otoritas Pemerintah lewat Kementerian Agama dan MUI tidak bisa menyeragamkan pemikiran keagamaan di Indonesia. Tapi itulah keindahan, terjadi perbedaan dalam bingkai kebersamaan.

Beberapa teman berkelakar, ah, kalo mau puasa ikut ketentuan Pemerintah, yang biasanya Mundur. Dan jika Lebaran ikut yang mana lebih dulu.

Perbedaan metodologi penentuan Awal bulan Ramadhan adalah murni masalah metodologi dalam penghitungan Astronomi. Rukyah secara harfiah adalah melihat kondisi Bulan, Sudah Muncul atau Belum. Dan Hisab secara sederhana bermakna menghitung dengan rumus matematis Astronomi.

Sebagaimana kita pahami, penanggalan Hijriyah hanya mempunya hitungan 29-30 hari dalam satu bulan. Dan penentuan bulan baru menunggu “Tampaknya Hilal” (munculnya bulan sabit).

Dan potensi terhalangnya pandangan untuk melihat Hilal bulan sangat besar. Faktor tersebut bisa berasal dari cuaca, ketinggian tempat dan letak garis bintang dan bujur wilayah terkait.

Di Indonesia sendiri, untuk awal bulan Ramadhan menggunakan metode Rukyatul Hilal, setidaknya digunakan oleh Kementerian Agama, NU, Persis dan beberapa Oramas lainnya. Dan metode Hisab digunakan secara masih oleh Ormas Muhammadiyah, ormas terbesar kedua di Indonesia.

Rukyah dan Hisab memang mempunyai beberapa Keunggulan. Rukyah lebih kepada alasan teologis sedangkan penggunaan hisab lebih kepada alasan Logis dan Efektif-Efisien. Penggunaan Hisab menjadikan penentuan awal Ramadhan jauh-jauh hari sudah diketahui.

Baca Juga:  Pendapat KH Masdar Farid Tentang Perlunya Melihat Hukum dari Mashlahatnya

Sedangkan alasan Rukyah bedasarkan Hadits dari Rasulullah SAW sebagai berikut;

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا

Artinya; “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Bila penglihatan kalian tertutup mendung maka sempurnakanlah bilangan (bulan Sya’ban) menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari-Muslim)

Budaya Ibadah dalam Bulan Ramadhan

Menghidupkan dan meramaikan bulan Ramadhan adalah dengan banyak memperbanyak ibadah, baik sunnah apalagi wajib. Pahala pada bulan ramadhan dilipat-gandakan menjadi 70.

Di Nusantara banyak ditemukan semarak menyambut Ramadhan dilakukan dengan berbagai cara dan kegiatan positif. Hal ini dilakukan sebagai Ekspresi kecintaan dan semangat beribadah di Bulan Ramadhan. Beberapa kegiatan tersebut antara lain;

  1. Ronda Tadarus, kegiatan yang dilakukan banyak kaum remaja Masjid di desa-desa Nusantara. Banyak dari mereka menginap di Masjid guna menunggu jatah Tadarus/ membaca Al-Qur’an. Hampir semalam suntuk suasana bacaan Al-Qur’an selalu mengalun dari corong-corong pengeras suara masjid/ mushalla.
  2. Takjil berbagi menu Buka, para kaum Kos-kosan jika pada bulan Ramadhan akan lebih irit karena bisa nunut makan berbuka puasa di Masjid/ Mushalla sebulan penuh.
  3. Sahur On The Road, budaya yang ramai belakangan ini, yaitu membagikan menu sahur bagi orang-orang dhua’fa untuk bisa sahur yang menjadi Sunnah pada bulan Puasa.

Keseluruhan budaya itu merupakan sebuah ekspresi keagamaan seorang Muslim dalam menyambut dan kegembiraan pada bulan Ramadhan. Kiranya tidak ada orang yang mengkritik dengan mengatakan Bid’ah. Ash—Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq