Mohammad Natsir; Menghidupkan Pendidikan Islam dari Zakat

Mohammad Natsir; Menghidupkan Pendidikan Islam dari Zakat

PeciHitam.orgSiapa tak kenal Mohammad Natsir? Beliau merupakan salah satu tokoh intelektual yang juga menjadi pejuang dan ulama sekaligus negarawan yang pernah menghiasi dunia pendidikan Indonesia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tidak hanya itu, Natsir juga dikenal dalam ranah politik sebagai seorang tokoh yang terpandang dan dipercaya menjadi pemimpin untuk Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia atau Masyumi mulai dari awal dibentuk pada tahun 1945 hingga dibubarkannya masyumi pada tahun 1960.

Biografi Singkat Mohammad Natsir

Mohammad Natsir lahir di Sumatera Barat tepatnya di Kampung Jam Batan, Alahan Panjang, Padang pada tanggal 17 Juli tahun 1908. Putra dari pasangan Mohammad Idris Sutan Saripado dan Khadijah.

Ketika kecil, Natsir mendapatkan pendidikan di Sekolah Rakyat Maninjau selama dua tahun kemudian melanjutkan studi di Hollandsch- Inlandsche School (HIS) Adabiyyah di Padang dan merangkap belajar Ilmu Agama di Madrasah Diniah Solok pada tahun 1916 hingga 1923.

Sepanjang masa mudanya, Natsir pernah terjun ke dunia pergerakan ketika melanjutkan sekolah di MULO atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs. Disini, beliau aktif dalam perhimpunan atau organisasi pemuda seperti Jong Isalamieten Bond (JIS) dan Pandu Nationale Islamietische. Bahkan Natsir di daulat menjadi ketua JIS Bandung pada tahun 1928 hingga 1932.

Baca Juga:  Biografi Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan

Memanfaatkan Zakat untuk Kelangsungan Pendidikan Islam

Pada tahun 1932, Natsir mendirikan Pendidikan Islam atau lebih dikenal dengan nama Pendis di Bandung Jawa Barat. Pendis sendiri merupakan sebuah pendidikan Islam modern bercorak agama. Natsir menjabat sebagai direktur selama 10 tahun disana.

Ada kisah yang patut kita pelajari dari Natsir dalam hal pengelolaan Pendidikan Islam miliknya. Hal ini dikisahkan Lukman Hakiem dalam bukunya Biografi Mohammad Natsir: Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan.

Ketika itu tahun 1934, terjadi masalah ekonomi yang dihadapi dimana tidak ada pendapatan sama sekali di Pendis sementara uang sewa tempat, buku dan gaji para guru tiap bulan harus tetap dibayarkan.

Krisis itu terjadi karena banyak sekali murid yang belum bisa membayar uang sekolah karena orang tua mereka sibuk menyiapkan dan menyambut perayaan Lebaran.

Karena pada tahun itu, membeli baju baru lebih penting dari biaya pendidikan. Bukan hanya itu, Natsir sendiri juga membutuhkan uang untuk menghidupi keluarganya.

Melihat situasi ini, tepat di bulan Ramadhan dengan membawa uang yang dia miliki sebesar 4.50 Gulden, beliau berangkat ke Cirebon dan berencana untuk menemuhi beberapa teman dan kenalannya, diantaranya adalah Abdullah bin Afiff.

Baca Juga:  Inilah Kontribusi Besar Madzhab Al-Asy'ari dalam Ilmu Hadits

Natsir mengutarakan tujuannya bahwa dia ingin mengambil Zakat dari Abdullah bin Afiff untuk keperluan Pendidikan Islam. Abdullah bin Afiff mengerti dan memaklumi kedatandan Natsir dan menerimanya dengan baik.

Ketika Natsir hendak pamit, Abdullah lalu bangkit dan menyerahkan zakatnya sebesar 25,00 Gulden dan berkata “Untuk perjuangan fii sabilillah”. Sesudah itu, Natsir diundang berbuka puasa di rumahnya.

Tidak berhenti disini, Natsir juga mengunjungi banyak pengusaha namun tidak sedikit yang menolak dan bersikap acuh dengannya ketika ditanya perihal Zakat.

Mayoritas tidak mengerti kewajibannya dalam mengeluarkan uang hasil usahanya. Dalam menghadapi hal ini, Natsir mencoba bersikap sabar.

Natsir mengingatkan mereka atas kewajiban membayar zakat dari usaha yang mereka jalankan. Bahwa ada hak masyarakat yang harus dikeluarkan dari setiap harta yang mereka kumpulkan dengan berkata seperti berikut:

“Saya datang membantu Tuan agar zakat yang akan Tuan keluarkan sampai kepada yang benar-benar berhak menerimanya. Pendidikan Islam sebagai badan perjuangan umat Islam dalam lapangan pendidikan adalah salah satu dari pihak yang berhak menerimanya,”.

“Saya datang sebagai perantara antara Tuan yang akan menunaikan zakat dengan pihak yang berhak menerimanya. Itupun kalau Tuan ridha. Kalau tidak, saya tidak berkecil hati. Sebab saya hanya melakukan kewajiban,”

Setelah mendengar ucapan Natsir ini, banyak pengusaha yang kemudian langsung membayarkan Zakatnya. Tidak berhenti di Cirebon, Natsir juga berkeliling ke Pekalongan, Kudus dan Surabaya.

Baca Juga:  Biografi Singkat AGH Muhammad Rafi’i Yunus Maratan

Pada akhirnya, mereka yang dikunjungi oleh Natsir menjadi donatur tetap Pendidikan Islam dan rutin mengirimkan Zakat, Infak dan Sedekah kepada Natsir untuk keperluan Pendis.

Dari sini kita bisa melihat bagaimana upaya Mohammad Natsir untuk memanfaatkan zakat sebagai sebuah jalan untuk membantu jalannya pendidikan islam bagi anak anak pada waktu itu. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini.

Mohammad Mufid Muwaffaq