Kontroversi Muawiyah bin Abu Sufyan, Sahabat Nabi yang Dipuji dan Dimaki

muawiyah bin abu sufyan

Pecihitam.org – Jika ada sahabat Nabi Muhammada saw yang tergolong paling kontroversial, maka itu tidak lain adalah Muawiyah bin Abu Sufyan. Pencatat wahyu dan pendiri Dinasti Umayyah ini adalah putra dari Abu Sufyan bin Harb dan Hindun binti Utbah, yang sebelumnya sangat memusuhi Islam.

Sosok Muawiyah memang kerap menjadi sorotan berbagai pihak di kala itu, bahkan sampai ada yang membencinya habis-habisan. Sikapnya terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib, dianggap makar dan tergolong bughat (pemberontak).

Namun di sisi lain, jasa Muawiyah bin Abu Sufyan tak bisa diabaikan dan tak bisa dipandang sebelah mata. Ia tak hanya mampu mengakhiri konflik antar kaum muslim sendiri, namun juga dikenal sebagai pemimpin armada angkatan laut umat Islam pertama di masa pemerintahan Usman bin Affan dan berhasil membangun sebuah dinasti yang telah memberikan begitu besar jasanya bagi dunia Islam, yaitu Dinasti Umayyah.

Rasulullah saw bersabda: “Tentara dari umatku yang mula-mula berperang mengarungi lautan sudah pasti mendapat surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Siapa Muawiyah bin Abu Sufyan?

Muawiyah bernama lengkap Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayah bin Harb bin Abdi Syams bin Abd Manaf al-Quraisy al-Amawi dan kerap juga disapa dengan panggilan Abu Abd al-Rahman. Ia ahir di Mekkah pada 602 M atau kira-kira lima tahun sebelum kenabian. Muawiyah juga .

Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai seorang sahabat Nabi saw dan dipercayakan sebagai seorang penulis wahyu, walaupun ia baru memeluk Islam setelah penaklukan Mekkah (fath al-Makkah).

Namun, menurut pengakuan Muawiyah sendiri, ia telah menjadi muslim jauh sebelumnya, yaitu ketika Rasulullah Saw dan para sahabat melaksanakan Umrah setelah perjanjian Hudaibiyah, pada tahun 7 Hijriyah.

Ketika itu Muawiyah datang menghadap Rasulullah Saw dan menyatakan diri sebagai muslim, namun keislamannya saat itu ia sembunyikan. Hal itu dilakukan karena ia mendapat ancaman dari keluarganya, terutama ibunya Hindun binti Utbah. Namun saat penaklukan Mekkah kedua orang tuanya pun menjadi sahabat Nabi dan memeluk Islam.

Setelah Nabi Wafat

Muawiyah adalah sahabat yang kontroversial dan tindakannya sering disalahartikan. Setelah Nabi Saw wafat, pemerintahan dipimpin oleh Khalifah Abu Bakar Siddiq. Ketika itu tergolong zaman kritis di mana benih kemurtadan mulai merebak. Baca Bangsa Arab setelah Nabi wafat.

Abu Bakar bertindak tegas dengan memerangi mereka. Muawiyah ikut dalam satu pertempuran itu, yaitu Perang Yamamah, perang melawan Musailamah si nabi palsu.

Setelah Abu Bakar wafat, Khalifah Umar bin Khatab sebagai penggantinya tetap mempercayakan Muawiyah sebagai seorang komandan perang yang handal. Ini terlihat ketika Khalifah Umar menugaskan Muawiyah untuk membebaskan Qaisariyah (sekarang Caesarea), satu kota dekat Tel Aviv (ibu kota Israel sekarang) dari penguasa dzalim.

Namun, ternyata Qaisariyah punya benteng pertahanan dan pasukan yang sangat kuat. Setelah Qaisariyah dikepung dalam waktu cukup lama, Muawiyah pun berhasil menerobos kota tersebut.

Mendengar keberhasilan saudaranya, Yazid bin Abu Sufyan yang menjabat sebagai Gubernur Damaskus, meminta Muawiyah untuk ikut membebaskan pesisir Syam. Setelah bertarung melawan orang-orang Romawi, Muawiyah dan prajuritnya pun berhasil menang.

Setelah Muawiyah membuktikan kekuatannya atas dua peristiwa pembebasan sebelumnya, Umar bin Khattab kemudian mengangkatnya sebagai Gubernur Yordania pada 17 H.

Angkatan Laut

Mayoritas kaum Muslimin pada saat itu adalah orang Arab yang mayoritas hidup di gurun dan tidak akrab dengan laut. Namun, Muawiyah menyadari pentingnya angkatan laut dan di zaman Umar ia mulai membangunnya.

Sayangnya, Khalifah Umar tidak mengizinkan Muawiyah memakai angkatan laut karena ia tidak mau kaum Muslimin habis ditelan laut (karena mereka tidak familiar dengan laut). Angkatan laut baru dipergunakan pada zaman Usman bin Affan untuk membebaskan Cyprus.

Sebagaimana Umar, Usman bin Affan juga terus memberi Muawiyah kekuasaan, menjadi Gubernur daerah mayoritas Syam. Ia menguasai daerah yang sangat luas dan telah menjadi gubernur Usman yang paling berpengaruh saat itu.

Muawiyah memang bak bintang bersinar terang pada masa kekhalifahan Usman bin Affan. Sayangnya, di akhir pemerintahannya, Khalifah Usman menerima cobaan yang sangat berat. Ia dituduh korupsi, boros, mengangkat keluarganya sendiri untuk menduduki jabatan penting, dan sebagainya. Ditengah fitnah tersebut Usman wafat karena dibunuh dan posisinya digantikan oleh Ali bin Abi Thalib. Baca: Pembunuhan Utsman bin Affan.

Terbunuhnya Utsman dan Sikap Muawiyah

Saat itu para perusuh yang mencapai 500 orang sudah mencapai rumah Utsman. Para sahabat Nabi mengirimkan anak-anak mereka untuk melindungi Utsman namun mereka kalah jumlah.

Utsman bin Affan dibunuh ketika masih membaca Al Quran dan para sahabat yang melindunginya terluka. Tidak ada satu orang sahabat Nabi Muhammad yang terlibat dan menyetujui pembunuhan itu. Ummu Habibah binti Abu Sufyan kemudian mengirimkan baju Utsman yang berlumuran darah ke tangan Muawiyah.

Saat mendengar kabar pembunuhan itu, Muawiyah berpidato di depan penduduk Syam dan bersumpah akan menuntut balas kematiannya. Penduduk Syam sendiri bersumpah akan membantu Muawiyah dengan mengorbankan nyawa mereka.

Inti Konflik Ali-Muawiyah

Setelah Utsman terbunuh, para sahabat sepakat untuk menghukum qishash pelaku pembunuhan tersebut. Namun, mereka terbagi tiga kelompok tentang hal ini:

  • Pertama, mereka harus diqishash secepatnya sebelum baiat kepada Ali. Inilah pendapat Muawiyah dan pendukungnya. Muawiyah berpendapat jika qishash ditunda, pembunuhnya akan berbaur di kehidupan sehari-hari kaum Muslimin dan mereka akan sulit dilacak. Selain itu, Muawiyah adalah wali Utsman dan di antara saudara-saudara Utsman yang lain, dia-lah yang kekuatannya paling besar.
  • Kedua, mereka harus diqishash namun setelah Ali bisa mengendalikan keadaan sehingga umat tentram kembali. Jika qishash dilaksanakan sekarang juga, maka akan berakibat keadaan makin kacau. Para perusuh akan melipatgandakan tekanannya kepada khalifah. Ini adalah pendapat Ali dan mayoritas sahabat Nabi yang pendukungnya.
  • Ketiga, uzlah (mengasingkan diri). Ada sahabat-sahabat Nabi yang tidak mau terlibat dalam permasalahan ini dan mereka pun menjauh dari pusat konflik. Mereka tidak mau berperang dengan saudara sesama mukmin. Mereka antara adalah Abdullah bin Umar, Saad bin Abi Waqqash, dan lainnya.

Inti dari permasalahan Ali-Muawiyah adalah perbedaan pendapat cara qishash ini. Muawiyah sendiri tidak mengklaim bahwa dirinya khalifah umat Islam dan tidak berniat merebut kekhalifahan. Ia dan penduduk Syam hanya tidak mau baiat (sumpah setia) kepada Ali karena permasalahan terbunuhnya Utsman tersebut.

Ketika melihat kondisi zaman Ali dan Muawiyah lewat kacamata abad modern sekarang ini, kita bisa saja dengan mudah menilai. Namun bagi orang yang hidup di zaman itu, situasi tersebut sangat pelik.

Menurut mayoritas ulama, dalam persoalan rumit itu yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat Ali karena bagaimanapun juga perdamaian negara lebih diutamakan daripada pengambilan keputusan yang gegabah.

Muawiyah pernah ditanya, “Apakah kau penentang Ali?”

Muawiyah menjawab, “Tidak demi Allah. Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui bahwa dia lebih utama dariku dan lebih berhak memegang khilafah dariku. Akan tetapi, sebagaimana yang kalian ketahui bahwa Utsman dibunuh dalam keadaan teraniaya dan aku, sepupu Utsman, akan menuntut darahnya. Datanglah kepada Ali dan katakan, ‘serahkan para pembunuh Utsman kepadaku dan aku akan tunduk kepadanya”

Orang-orang segera menemui Ali dan mengatakan perkataan Muawiyah, namun tetap sakja Ali tidak mengabulkannya.

Perang Saudara

Karena situasi makin memanas, akhirnya terjadilah Perang Jamal dan Perang Shiffin antara kubu Ali dan Muawiyah. Tebunuhnya Ammar bin Yasir menjadi kunci selesainya perang kedua belah pihak ini.

Karena Nabi Muhammad Saw pernah mengabarkan bahwa yang membunuh Ammar adalah kelompok pembangkang. Dan yang membunuh Ammar bin Yasir ternyata adalah Abu al-Ghadiyah Al-Juhani dari pihak Muawiyah -ia bukanlah sahabat Nabi.

Terbunuhnya Ammar membuat kedua kelompok terguncang dan sepakat untuk berdamai. Mereka juga mengkhawatirkan perbatasan yang sedang lemah dan kapan saja bisa diserang oleh Persia dan Byzantium.

Perjanjian damai ini dibuat berdasarkan Al-Quran dan Sunnah dengan kedua hakimnya adalah Amr bin Ash dan Abu Musa al-Asy’ari. Tidak seperti kabar yang terkenal, Amr bin Ash tidak memakzulkan Ali.

Terbunuhnya Ali dan Sikap Muawiyah

Saat kabar tentang Khalifah Ali yang terbunuh sampai kepada Muawiyah, ia menangis. Istrinya berkata, “Kamu menangisi orang yang memerangimu?”

Muawiyah menjawab, “Diam lah. Kamu tidak mengetahui berapa banyak manusia kehilangan keutamaan, fiqih, dan ilmu karena kematian dia”

Utbah berkata juga, “Jangan sampai orang-orang Syam mendengar hal itu darimu”. Muawiyah lantas menghardik, “Kamu juga diam saja lah!”

Sikap Kita terhadap Konflik Ali-Muawiyah

Menurut mayoritas ulama, sikap Kaum Muslimin dalam menyikapi konflik Ali-Muawiyah adalah meyakini bahwa mereka semua sedang berijtihad merespon situasi yang sangat pelik pada masa itu.

Di antara mereka ada yang benar dan mendapat dua pahala, namun di antara mereka ada yang salah dan mendapat satu pahala. Karena sesungguhnya kita tidak boleh membicarakan sahabat Nabi dengan perasaan benci.

Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG