Membangun Pendidikan Islam Wasathiyah di Tengah-Tengah Kemodernan

Membangun Pendidikan Islam Wasathiyah di Tengah-Tengah Kemodernan

Pecihitam.org- Secara tekstual Al-Qur’an telah menegaskan bahwa Islam adalah ajaran universal yang misi kebenarannya melampaui batas-batas suku, etnis, bangsa, dan bahasa. Lebih dari itu Islam sebagai agama penutup secara intrinsik jangkauan dakwahnya harus mendunia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Secara historis-sosiologis, baru pada abad sekarang ini umat Islam sadar bahwa Islam benar-benar tertantang memasuki panggung dakwah berskala global, dan membangun Pendidikan Islam wasathiyah, hal ini disebabkan oleh kemajuan teknologi dan informatika (Rahim, 1998: 15).

Melihat kenyataan di atas maka perlu kiranya mewujudkan pendidikan Islam bersifat wasathiyah atau moderat sesuai dengan lajunya zaman. maka perlu adanya kiat-kiat atau cara yang digunakan. Untuk itu perlu kita menengok pendidikan yang diselenggarakan di Ma’had Aly Situbondo yang telah membangun pendidikan Islam wasathiyah.

Pesantren pada awalnya disetting sebagai lembaga pendidikan non formal dengan memusatkan aktivitasnya di surau, masjid atau pemondokan para santri. Materi yang diajarkan pada umumnya berkisar pada ilmuilmu agama, semisal fiqh, tauhid dan tasawuf.

Baca Juga:  Mengenal Qasidah Man Ana Karya Habib Umar Muhdhor bin Abdurrahman Assegaf

Buku-buku referensi yang dijadikan pegangan adalah kitab kuning yang rata-rata ditulis pada abad pertengahan oleh ulama-ulama terkemuka. Lantaran struktur kurikulumnya yang klasik, pesantren seringkali diidentikkan dengan lembaga pendidikan tradisional.

Pada perkembangannya, dunia pesantren tidak bisa mengelak dari hukum dinamika kehidupan dengan latar masyarakat multikultural. Sejumlah pesantren tertentu mencoba mengembangkan kurikulumnya dengan memasukkan, atau bahkan mengadopsi seluruhnya kurikulum Kementrian Agama RI. Bahkan pada perkembangan selanjutnya tidak sedikit pesantren yang menyelenggarakan pendidikan umum, mulai dari SD, SMP, SMASMK, dan bahkan perguruan tinggi.

Ma’had Aly Situbondo mencoba menawarkan alternatif dengan membangun kurikulum fiqh berbasis realitas. Memasuki era baru ini, mau tidak mau lembaga pesantren harus mengadakan perubahan-perubahan sesuai semangat zaman.

Hal itu untuk mengatasi arus besar yang akan melanda pemikiran dunia global. Lembaga pesantren harus membangun pendidikan tinggi dengan muatan kurikulum pemikiran keagamaan secara lebih filosofis dan epistimologis.

Kurikulum tak lain merupakan seperangkat materi pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada peserta didik, atau sebuah program yang di bawah bimbingan dan tanggung jawab lembaga pndidikan tertentu.

Baca Juga:  Tujuh Nama Anak Rasulullah yang Harus Kita Ketahui, Siapa Sajakah Mereka?

Penyusunan kurikulum Ma’had Aly Situbondo dilandaskan pada kebutuhan masyarakat sebagai subyeknya dengan tidak mendistorsi kekayaan ilmiah warisan ulama terdahulu.

Ma’had Aly mnyadari betapapun persoalan kemasyarakatan sekarang membutuhkan penyelesaian secara akademis, namun bukan dalam pengertian mendistorsi khasanah fiqh klasik.

Pada praktek pengajarannya Ma’had Aly tidak hanya memberikan materi pelajaran saja, akan tetapi para peserta didik diberi kesempatan untuk dapat mengembangkan diri. Atas dasar ini maka mekanisme pembelajaran Ma’had Aly disetting dalam beberapa bentuk yaitu:

Pertama, Penyusunan makalah. Pada metode ini mahasiswa atau santri diberi tugas menyusun makalah sesuai silabi, setelah itu dipresentasikan kemudian mengkritisi isi dari makalah tersebut.

Kedua, Ceramah dan dialog. Pada pendekatan ini dosen atau ustadz menyampaikan materi, kemudian dibagian akhir diadakan tanya jawab seputar materi tersebut.

Baca Juga:  Inilah Keutamaan Bulan Rajab yang Wajib Kamu Tahu!

Ketiga, Pembacaan kitab secara ekstensif. Dalam hal ini Ma’had Aly berusaha memotivasi para santri untuk bisa menguasai kitab kuning warisan ulama secara luas baik dari segi tata bahasa maupun pemaknaan kata demi kata.

Keempat, Pembacaan kitab secara intensif Pembacaan kitab secara khusus menyangkut tata bahasa arab merupakan bentuk lain dar model pembelajaran Ma’dah Aly, intensive reading ini tervokus pada kaidah-kaidah bahasa arab sehingga peserta didik betul-betul menguasai dan terampil dalam membaca kitab kuning dengan benar.

Mochamad Ari Irawan