Peninggalan Rasulullah yang Masih Bisa Ditemukan Hingga Saat Ini, Salah Satunya Akhlak

Peninggalan Rasulullah yang Masih Bisa Ditemukan Hingga Saat Ini, Salah Satunya Akhlak

PeciHitam.org – Beberapa peninggalan Rasulullah Saw sampai hari ini masih eksis dan dalam kondisi yang baik. Peninggalan Rasulullah ini sebagai bukti bahwa kisah-kisah sejarah yang selama ini kita baca, pelajari maulun kita dengar memang benar-benar terjadi. Melalui peninggalan Rasulullah ini kita dapat memproyeksikan keadaan dan suasana di masa hidup Rasulullah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Berikut ini beberapa peninggalan Rasulullah yang masih eksis hingga saat ini, di antaranya:

Pertama, Jubah Rasulullah berwarna putih krim dengan garis wol hitam usai nabi wafat, diberikan kepada seorang sahabat yang bernama Ka’ab ibn Zuhair, seorang penyair Arab yang menulis Qasidah Burdah pertama yang berisi puisi pujaan kepada Rasulullah.

Pada waktu dibacakan puisi tersebut, konon Rasulullah sangat tersentuh sehingga rela menghadiahkan jubahnya. Jubah ini sering berganti tangan kepemilikan, mulai dari Ibnu Ka’ab, Muawiyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Mamluk dan terakhir di tangan Dinasti Utsmaniyah yang akhirnya dipindahkan ke Istana Topkapi pada tahun 1595.

Jubah tersebut dibawa oleh penguasa Kesultanan Utmaniyyah pada tahun 1611  yaitu Sultan Ahmed I dari Kuasadasi ke Istambul. Kemudian diserahkan kepada keturunan Uwais al-Qarni agar dirawat dan dijaga dengan baik. Untuk mencapai ruang penyimpanan jubah peninggalan Rasulullah, dibutuhkan dua kunci.

Baca Juga:  Syekh Yusuf: Tidak Ada Tasawuf Bagi Orang Yang Tidak Berakal

Salah satunya dipegang oleh keturunan pendiri Masjid Hirka i Serif, masjid yang berada di distrik Fatih, Turki. Masjid ini di bangun oleh Sultan Abdul Majid pada tahun 1851 Masehi. Di Masjid tersebut, jubah ini disimpan dalam kondisi yang baik dan dijaga sedemikian ketatnya. Satunya lagi dipegang oleh keluarga keturunan Uwais al-Qarni, tepatnya oleh Basir Samir, Kepala Penjaga Jubah Rasulullah yang merupakan keturunan Uwais ke-59.

Sehelai rambut janggut Nabi Muhammad yang dicukur oleh sahabat Salman al-Farisi pernah dipamerkan di Istana Topkopi Masjid Hirka i Serif yang diletakkan dengan bingkai kaca.

Kemudian Panji Suci Nabi Muhammad yang berasal dari kain pada pintu masuk tenda Aisyah. Ada juga yang berpendapat bahwa panji tersebut berasal dari kain sorban Buraidag ibnu al-Khasib, yaitu seseorang yang dulunya diperintahkan untuk membunuh Rasullullah, namun dihadapan Rasullullah ia justru melepas sorbannya dan membalutkan kain sorban tersebut ke ujung tombaknya, seraya mendedikasikan diri untuk taat kepada Rasulullah. Panji tersebut kini disimpan di Istana Topkapi sejak 1595 sampai sekarang.

Baca Juga:  Pentingnya Belajar Ilmu Agama Lebih Utama Daripada Ikut Perang

Peninggalan Rasulullah yang selanjutnya ialah stempel seperti cincin bertuliskan “محمد رسول الله” berbalut kristal dan bermahkota gading. Peninggalan Rasulullah ini disimpan dalam kotak kayu kecil berwarna hitam.

Ada lagi peninggalan Rasulullah berupa cawan yang diwariskan secara turun-temurun mulai dari Sayyidah Fatimah dan Ali bin Abi Thalib, kemudian diwariskan ke Hassan dan Husein dan seterusnya. Cawan tersebut kini dapat ditemui di Masjjd Heart of Chechnya, setelah sebelumnya sempat berada di Inggris.

Sebetulnya masih banyak lagi peninggalan Rasulullah lainnya yang masih eksis, dan terjaga sampai saat ini. Melalui benda-benda peninggalan Nabi Muhammad tersebut tentu dapat mengobati sedikit rasa kerinduan seorang umat kepada junjungan. Benda-benda tersebut dapat dikonfirmasi melalui bukti-bukti sejarah lainnya.

Namun ada hal yang lebih penting, yakni peninggalan Rasulullah berupa ajaran dan suri tauladan beliau. Hal ini menjadi penting karena mengingat tujuan Rasulullah diutus yaitu untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sudah seyogyanya, kita sebagai umatnya menjaga dan melestarikan peninggalan Rasulullah baik berupa barang-barang berupa kebendaan maupun ajaran dan suri tauladan yang tercermin dalam akhlak beliau.

Baca Juga:  Aqiqah, Sejarah Akulturasi Budaya Arab hingga Islam Nusantara

Jangan sampai terjadi, bahwa kita hanya menjaga peninggalan kebendaan saja. Namun ajarannya dalam Al-Quran dan Hadis maupun teladan dari akhlak beliau, malah pudar atau bahkan terlupa. Yang mana justru hal inilah yang lebih penting demi merefleksikan ajaran beliau yang rahmatan lil alamin dan shalihun likulli zaman wa makan.

Mohammad Mufid Muwaffaq