Perjalanan Pemikiran Tasawuf Ibn Athaillah

Perjalanan Pemikiran Tasawuf Ibn Athaillah

PeciHitam.org – Konstruksi peradaban Islam dengan semangat spiritualitas yang luar biasa di Mesir tepatnya kota Iskandariah, telah mempengaruhi paradigma berpikir Ibn Athaillah, sebagaimana di ungkapkan oleh ‘Abid al-Jabiri, bahwa kondisi lingkungan sekitar dapat mempengaruhi corak berpikir seseorang. Untuk itu, pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai perjalanan pemikiran tasawuf Ibn Athaillah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dari sini, bahwa lingkungan pertama yang membentuk “kesadaran” Ibn Athaillah adalah lingkungannya sendiri, meskipun informasinya tentang keluarganya ada satu orang yaitu kakeknya (seorang Alim Fikih) yang pada waktu menentang Ibn Athaillah untuk mempelajari ilmu tasawuf. Namun, jelas bahwa keluarganya adalah keluarga religius.

Oleh karena itu dalam buku biografi menyebutkan proses perjalanan mencari ilmu semasa hidupnya Ibn Athaillah menjadi tiga masa:

Masa Pertama

Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari Ilmu agama seperti tafsir, hadits, fikih, ushul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran kakeknya pada ilmu fikih. Dalam hal ini Ibn Athaillah bercerita, “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursy, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau.”

Baca Juga:  Ibn Athaillah dan Karakter Tasawuf Yang Dimilikinya

Pendapat saya waktu itu bahwa yang ada hanya ulama ahli dhahir, tapi mereka (ahli tasawuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara ahli dhahir (shari’at) menentangnya.

Masa Kedua

Masa ini adalah masa yang paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati, masa ini dimulai semenjak ia bertemu gurunya yakni Syekh Abu al-Abbas al-Mursyi, pada tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya di Kairo.

Dari masa ini sirnalah keingkarannya pada ulama tasawuf. Ketika bertemu dengan Abu al-Abbas al-Mursyi, ia sangat mengagumi bahkan simpatiknya kemudian ia memutuskan untuk belajar dan mengambil tarekatnya langsung dari gurunya ini.

Masa Ketiga

Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Athaillah Iskandaria ke Kairo hingga sampai akhir hayatnya. Dimana masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibn Athaillah dalam ilmu fiqh dan ilmu tasawuf. Beliau membedakan antara ‘uzlah dan khalwat. Uzlah,menurutnya, adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan mahkluk, yaitu dengan cara para salik selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari tipuan dunia.

Baca Juga:  Pengertian Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat dalam Tasawuf

Ketika seorang sufi sudah mantap dengan ‘uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya dia memasuki tahapan khalwat. Khalwat adalah perendahandiri di hadapan Tuhan dan pemutusan hubungan dengan selain Tuhan. Khalwat dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan.

Bagi Ibn Athaillah, tempat yang bagus untuk berkhalwat adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang sujudnya. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak berada dalam rumah yang banyak penghuninya.

Sejak gurunya wafat, Ibn Athaillah menjadi pengganti dalam mengembangkan Tarekat Syadziliyah. Tugas ini beliau emban di samping mengajar di kota Iskandariah. Ketika pindah Kairo, Ibn Athaillah bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar. Ibn Hajar berkata, “Ibn Athaillah berceramah di al-Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkataan orang dengan riwayat-riwayat dari salaf al-salih.

Tidak heran kalau pengikutnya semakin bertambah dan bahkan dia dijadikan sebagai sumber kebaikan. Beliau mempunyai pengikut yang menjadi ahli fiqh dan tasawuf, seperti Taqiyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki pengarang kitab “Thabaqah al-Shafi’iyyah al-Kubra”.

Baca Juga:  Doa Belajar Filsafat dan Tasawuf, Bagus Untuk Dibaca, Amalkanlah!

Ibn Athaillah mempunyai banyak karya salah satu karya monumentalnya adalah kitab al-Hikam, dan kitab-kitab lainnya seperti; al-Tanwir fi Isqati al- Tadbir, Latha’if al-Minan, Miftah al-Falah, Taj al-Arusy al-Hawi li Tadhib al-Nufus, Unwan al-Tawfiq, al-Qawl al-Mujarrad fi al-Ismi al-Mufrad, dan lain-lain.

Corak pemikiran tasawuf Ibn Athaillah bukan sekedar bercorak tasawuf falsafi yang mengedepankan teologi, akan tetapi diimbangi dengan unsur-unsur pengamalan ibadah dan suluk (uzlah), dalam arti menjalankan bentuk metodik syariat, tarekat dan hakekat.

Mohammad Mufid Muwaffaq