Promosi yang Dibenarkan Syariat, Salah Satunya Adalah Jujur

promosi yang dibenarkan syariat

Pecihitam.org – Dalam didunia perdagangan banyak sekali cara-cara atau strategi yang sering digunakan untuk meningkatkan angka penjualan seperti promosi barang maupun jasa. Promosi yang menarik memang terbukti ampuh untuk menarik para pelanggan membeli dagangan. Sering kita jumpai promosi seperti diskon besar-besaran, obral, gratis ongkir dan lain sebagainya. Namun seperti apa sih sebenarnya promosi yang baik dan promosi yang dibenarkan syariat?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nabi kita Muhammad SAW adalah seorang pedagang yang ulung. Di usia 25 tahun beliau sudah bisa menjadi seorang pengusaha atau bahasa keren sekarang entrepreneur yang sukses. Apa si bukti kesuksesan beliau? Coba lihat mas kawin yang beliau berikan saat menikahi sayidah Khotijah ra tidak tanggung-tanggung 100 ekor unta dan 12,4 ons emas. Mungkin sekitar 2,7 Milyar Rupiah jika di kurs rupiah untuk saat ini.

Nabi Muhammad SAW belajar dagang sejak beliau masih kecil ketika ikut pamannya Abu Tholib. Beliau sering ikut rombongan pamannya berdagang hingga negeri Syam. Di usia 17 tahun beliau sudah bisa menguasai pasar dagang hingga 18 negara seperti Syam, Bahrain, Irak Yordania, Yaman dll. Timbullah pertanyaan, apa si strategi dagang yang Nabi Muhammad SAW gunakan hingga beliau bisa sesukses itu?

Ternyata Nabi kita Muhammad SAW dalam berdagang juga melakukan strategi promosi. Dikutip dari buku Marketing Muhammad karya Thorik Gunara, Utus Hardiono Sudibyo. Dalam berdagang Nabi Muhammad SAW pertama, melakukan segmentasi, menetapkan target pasar (targeting), dan positioning. Kedua, melakukan diferensiasi, bauran pemasaran, dan memiliki prinsip dalam menjual. Ketiga, melakukan branding dan pelayanan yang baik. Keempat, jujur, ikhlas, dan professional.

Baca Juga:  Apakah Merokok Membatalkan Puasa? Inilah Jawaban Dan Penjelasannya.

Yang tidak kalah pentingnya, Nabi Muhammad saw. selalu menjelaskan kekurangan dan kelebihan barang dagangannya dengan jujur kepada para pelanggannya. Mematok harga sesuai dengan nilai barangnya dan tidak melakukan perang harga dengan pedagang lainnya.

Dari sini jika kita seorang pengusaha dan kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW ingin malakukan strategi promosi yang dibenarkan syariat alangkah baiknya meniru beliau dalam berdagang. Selain pandai dalam berbisnis yang terpenting adalah jujur.

Pandangan secara Fiqih

Strategi promosi hukumnya adalah boleh asalkan tidak disertai dengan cara-cara menipu dan merugikan orang lain. Dalam syariat agama kita jual beli di bagi menjadi dua.

1. Jual beli Musawamah

Yang menurut model pelaksanaannya,dibagi lagi menjadi tiga:

Jual beli murabahah diistilahkan dengan jual beli yang disertai keuntungan bagi penjual. Harga pokok dengan harga jual diketahui secara ma’lum oleh kedua orang yang saling bertransaksi. Dalam fiqih, ia didefinisikan sebagai:

• وهو البيع برأس المال وربح معلوم ويشترط فيه علم المتعاقدين بقدر رأس المال

Artinya: “yaitu: jual beli dengan besaran harga pokok dan keuntungan yang ma’lum. Disyaratkan dalam jual beli ini pengetahuan dua orang yang saling bertransaksi terhadap harga pokok barang.” (Ahmad Yusuf, Uqûdu al-Mu’âwadlât al-Mâliyyah fi Dlaui Ahkâmi al-Syarî’ah al-Islâmiyyah, Islamabad: Daru al-Shidqi, tt., 59-60).

Hukum jual beli ini adalah boleh

Jual beli Tauliyah. Jual beli yang dilakukan dengan cara menjual barang sesuai dengan harga belinya sehingga tidak mengambil keuntungan atau kerugian bagi penjualnya.

Baca Juga:  Jangan Baca Kitab Kuning Sebelum Paham Rumus dan Istilahnya!

Secara fiqih, ia didefinisikan sebagai berikut:

• وهو البيع بمثل ثمنه من غير نقص ولازيادة

Artinya: “yaitu jual beli dengan harga yang sama dengan harga pokoknya dengan tanpa mengurangi atau menambah.” (Ahmad Yusuf, Uqûdu al-Mu’âwadlât al-Mâliyyah fi Dlaui Ahkâmi al-Syarî’ah al-Islâmiyyah, Islamabad: Daru al-Shidqi, tt., 59-60).

Hukum jual beli ini adalah sah, asalkan cara pengabarannya dilakukan dengan memberitahukan harganya. Contoh: barang diterima oleh seorang pedagang seharga 50.000 per kg, kemudian dijual dengan harga yang sama 50.000 per kg.

Jual beli muwadhaah, jual beli dengan cara obral atau memberi diskon. Umumnya jual beli ini dilakukan dengan jalan memberitahukan harga pokoknya dan besaran diskon yang bisa diterima oleh pembeli.

Dalam fiqih, jual beli seperti ini didefinisikan sebagai berikut:

وهو أن يخبر برأس ماله, ثم يقول: بعتك هذا به وأضع عنك كذا فلو قال مثلا اشتريت هذه الدار بمائة ألف, وأنا أبيعكها بنفس الثمن وأضع عشرة, كان ثمن بيعها تسعين

Artinya: “yaitu: jika seorang pembeli memberitahukan harga pokok barang, kemudian berkata: “Aku jual barang ini dengan harga segini dan aku beri diskon kepadamu sebesar ini. Perumpamaan lain, seorang penjual berkata: Aku telah membeli rumah ini seharga 100 ribu, dan aku jual ke kamu dengan harga sama dan aku potong 10, sehingga harganya menjadi 90 ribu.” (Ahmad Yusuf, Uqûdu al-Mu’âwadlât al-Mâliyyah fi Dlaui Ahkâmi al-Syarî’ah al-Islâmiyyah, Islamabad: Daru al-Shidqi, tt., 59-60).

Baca Juga:  Apakah Berhubungan Seks dengan Hewan Termasuk Zina? Bagaimana Hukumnya?

Umumnya jual beli ini dipraktekkan untuk memberi potongan harga kepada pelanggan. Hukumnya adalah mubah dan jual belinya sah.

2. Jual beli Amanah

Tipe kedua jual beli adalah jual beli amânah, yaitu:

وهو البيع الذي يقطع فيه بربح أو خسارة أو عدمهما على أمانة البائع

Artinya: “Yaitu jual beli yang sudah ditetapkan harganya besaran labanya, atau kerugiannya atau ketiadaan keduanya, berdasarkan amanat pedagang.” (Ahmad Yusuf, Uqûdu al-Mu’âwadlât al-Mâliyyah fi Dlaui Ahkâmi al-Syarî’ah al-Islâmiyyah, Islamabad: Daru al-Shidqi, tt., 59-60).

Kesimpulannya adalah, dalam fiqih hukum jual beli adalah boleh dan promosi yang dilakukan juga boleh selama tidak disertai penipuan, manipulasi dan merugikan orang lain. Contoh apa yang diajarkan nabi kita Muhammad SAW dalam berdagang, tidak hanya keuntungan materi semata tapi targetnya juga ridho dan barakah dari Allah SWT.

Maka dari itu sepantasnya bagi kita yang punya usaha gunakanlah promosi yang dibenarkan syariat yaitu dengan cara-cara yang halal dan baik. Wallahu’alam Bisshawab..

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published.